Peningkatan produktivitas kelapa sawit merupakan salah satu bagian penting dari keberlanjutan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Namun keterbatasan kemampuan petani perkebunan rakyat kelapa sawit dalam penerapan praktek pertanian yang baik, merupakan permasalahan dalam peningkatan produktivitas, sehingga terjadi kesenjangan tingkat produktivitas antara perkebunan besar dengan perkebunan rakyat , antara kebun plasma pola PIR dengan perkebunan rakyat pada umumnya, antara perkebunan rakyat pola kemitraan dengan perkebunan rakyat swadaya. Disamping itu terjadi kesenjangan pendapatan antara petani kelapa sawit dengan masyarakat sekitar bukan petani kelapa sawit. Upaya untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit perlu dilakukan melalui pendekatan baru yaitu pengembangan model pertanian masa depan yang diharapkan dapat terjangkau oleh petani, yaitu penerapan konsep pertanian tekno ekologis. Berkenaan dengan hal tersebut perlu dicari upaya alternatif dengan melihat adanya potensi untuk menemukan peluang yang dapat dimanfaatkan. Integrasi dengan ternakHasil samping dan limbah yang tersedia secara lestari pada perkebunan kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak, yang akan menghasilkan limbah kotoran ternak untuk menjadi pupuk tanaman yang ramah lingkungan (tekno ekologis).Pengintegrasian cabang usaha ternak akan memberikan keuntungan sbb: (1) tersedianya input produksi yang berasal dari sumberdaya lokal untuk pupuk dan pestisida nabati; (2) produktivitas kelapa sawit meningkat; (3) dengan tersedianya pupuk organik dapat dikembangkan cabang usahatani baru untuk menghasilkan produk berkualitas (hortikultura); (4) dihasilkan daging yang berkualitas khusus; dan (5) pendapatan petani yang meningkat dan terdiversifikasi. Hal ini berarti berlangsung adanya proses dari limbah menuju limbah menjadi berkelanjutan. Pada pekebunan kelapa sawit tersedia limbah dan hasil samping yang tersedia secara lestari. Disamping itu juga terdapat gulma dan hasil pangkasan tanaman kelapa sawit yang diperoleh secara teratur. Hasil pangkasan tanaman kelapa sawit tersebut diperkirakan dapat mendukung pengembangan ternak sapi sebanyak 2 ekor per ha. Agar terbentuk rantai ekosistem pemanfaatan zat-zat makanan secara tertutup, integrasi ternak sapi pada perkebunan rakyat kelapa sawit harus dikandangkan, sehingga limbah ternak sapi dapat dikembalikan sebagai pupuk tanaman kelapa sawit. Rantai ekosistem secara tertutup tersebut berada dalam suatu siklus produksi dari limbah dan hasil samping tanaman kelapa sawit menjadi pakan ternak, kemudian dihasilkan limbah kotoran ternak untuk menjadi pupuk tanaman kelapa sawit. Pengolahan limbahUntuk meningkatkan manfaat rantai ekosistem yang telah terbentuk tersebut dapat dilakukan sentuhan teknologi yaitu teknologi pengolahan limbah untuk meningkatkan nutrisi masing-masing, baik sebagai pakan ternak maupun sebagai pupuk.Pekebun yang memelihara sapi dapat memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber energi untuk memasak dan penerangan (lampu petromak). Urin yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk sawit, sementara sisa pengolahan biogas dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman kelapa sawit. Hal ini berarti akan mengurangi ketergantungan terhadap masukan pupuk kimiawi dari luar. Secara teknis, limbah hasil samping yang tersedia secara lestari pada perkebunan kelapa sawit cukup untuk menjadi sumber pakan ternak sapi minimal 2 ekor per hektar. Secara umum, sapi dewasa dengan berat badan 250-400 kg/ekor, setiap hari menghasilkan kotoran padat basah sebanyak 14 ton, dan urine 7000 liter. Berdasarkan pengalaman, penggunaan input dari luar seperti pupuk kimia dan pestisida sulit dijangkau, sehingga capaian tingkat produktivitas berada di bawah potensi normalnya. Dengan demikian maka mengintegrasikan ternak sapi pada perkebunan kelapa sawit pendekatannya harus dikandangkan sehingga menjadi terbentuk pola integratif. Dengan demikian, penggunaan input dari luar berupa pupuk dan pestisida dapat digantikan oleh sumberdaya lokal yang tersedia yaitu limbah kotoran ternak. Jika dikembangkan menjadi gerakan yang melembaga, maka masalah rendahnya produktivitas dapat diatasi, dan dapat diraih manfaat strategis lainnya seperti penerapan konsep pembangunan berkelanjutan, mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim, kerusakan lingkungan hidup, kesenjangan produktivitas dan berbagai hal terkait lainnya yang pada akhirnya berpeluang dapat berkembang menjadi kawasan sistem pertanian tanpa limbah berbasis kelapa sawit.Peningkatan produksi dan pendapatan petaniKeterkaitan yang sinergis antara tanaman kelapa sawit dengan ternak akan meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus memberikan tambahan pendapatan yang berasal dari naiknya produksi kelapa sawit dan dari hasil ternak. Limbah tanaman yang merupakan limbah tercemar dapat berubah menjadi bahan pakan yang menghasilkan daging. Sebaliknya kotoran ternak yang bersifat mencenari lingkungan dapat menjadi pupuk organik yang untuk mempertahankan kesuburan lahan serta meningkatkan kehidupan biota tanah. Dengan demikian maka integrasi ternak sapi pada perkebunan kelapa sawit akan menyebabkan termanfaatkannya ternak sebagai penghasil pupuk organik dan sumber energi terbarukan, teratasinya kekurangan pakan ternak bagi kebutuhan pengembangan sapi potong, serta terjaganya kualitas lahan pertanian dengan pasokan pupuk organik asal ternak. (Sri Wijiastuti, Pusat Penyuluhan Pertanan, BPPSDMP)Sumber: Konsep Pembangunan Berkelanjutan, Penerapan pada Pekebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal P Perkebunan. 2013.