Salah satu upaya untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan memperbaiki kualitas konsumsi pangan masyarakat. Konsumsi yang berkualitas dapat diwujudkan apabila makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung zat gizi lengkap sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan jumlah yang seimbang antar kelompok pangan berdasarkan cita rasa, daya cerna, daya terima dan daya beli masyarakat. Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan luas wilayah perairan ± 95,8% dan hanya 4,2% yang merupakan daratan. Hal tersebut menjadikan Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi ekonomi kelautan dan perikanan yang cukup besar dan beragam, sehingga potensi perikanan yang kita miliki ini dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan sumber gizi yang murah dan mudah didapat. Selain potensi tersebut, Provinsi Kepulauan Riau juga memiliki potensi pangan pokok lokal sesuai di masing-masing daerah. Oleh karena itu penganekaragaman konsumsi pangan melalui pengembangan pangan pokok lokal sangat diperlukan sehingga akan berdampak terhadap penurunan tingkat konsumsi beras dan terigu. Demikian pidato pembukaan yang dibacakan oleh pejabat esselon II mewakili Bpk. Mohd. Sani (Gubernur Kepulauan Riau) yang berhalangan hadir. Acara resmi dibuka oleh Ketua PKK Provinsi Kepulauan Riau, Ny. Aisyah Sani. 2(dua) acara tahunan (LCM (Badan Ketahanan Pangan) dan Lomba Masak Serba Ikan (Dinas Kelautan dan Perikanan)) ini baru kali ini dilaksanakan secara bersama-sama karena permintaan dari Ketua PKK Provinsi Kepulauan Riau. Pelaksanaan acara dilakukan di Taman Anjung Cahaya Tanjungpinang pada tanggal 19 Juni 2013, yang dihadiri oleh Ny. Dewi K Ansyar (Istri Bupati Kab. Bintan), Wakil Bupati Bintan, Ibu-ibu PKK Provinsi dan pejabat-pejabat di lingkup Pemerintah Kepulauan Riau. Tingkat konsumsi ikan secara nasional rata-rata 33,89 kg/kapita/tahun, tingkat konsumsi ikan masyarakat Kepulauan Riau sebesar 48,59 kg/kapita/tahun, sedangkan anjuran Badan Pangan Dunia (FAO-PBB) tiap kapita diharapkan sebesar 42 kg/kapita/tahun. Itu berarti tingkat konsumsi ikan di Provinsi Kepulauan Riau telah melebihi anjuran, dan harus terus dipertahankan. Sementara tingkat konsumsi terhadap pangan pokok lokal masih minim karena masih tingginya ketergantungan terhadap konsumsi beras dan terigu. Selain itu juga karena masih rendahnya kreativitas masyarakat dalam pengembangan produk olahan pangan pokok lokal sesuai potensi daerah. Ikan memiliki keunggulan gizi dan protein. Fakta pada ikan misalnya, kepala ikan mengandung condroitin dapat mencegah osteoporosis, tulang ikan mengandung kalsium, phosphor, vitamin D yang bisa menguatkan tulang, kulit ikan mengandung cilostasol berfungsi sebagai pengencer darah dan anti kanker, daging ikan mengandung protein tinggi (12 asam amino essensial) omega 3,6,9 sebagai sumber acetylcholine otak. Selain itu, mengkonsumsi ikan dapat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah, meningkatkan kecerdasan otak, menurunkan resiko kematian karena penyakit jantung, menurunkan gejala rematik serta menurunkan aktivitas pertumbuhan sel kanker. Kelebihan lain, masak ikan bisa menghemat energi karena dapat masak dalam waktu 7 - 10 menit. Oleh karena itu, pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Kelautan dan Perikanan melaksanakan Lomba Masak Serba Ikan. Sebagai tema Lomba Cipta Menu Tingkat Provinsi Tahun 2013, untuk mengangkat kembali citra makanan khas daerah yang selama ini kalah bersaing dengan makanan modern (fast food), maka dipandang perlu untuk mengembangkan menu beragam, bergizi seimbang dan aman berbasis pada kearifan lokal, dimana menu yang diciptakan dengan memodifikasi/menggunakan resep makanan khas daerah, yakni menu utama yang terdiri dari sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Adapun pangan sumber karbohidrat tetap menggunakan pangan lokal selain beras dan terigu untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai pangan pokok dan mendorong penggunaan pangan lokal seperti jagung, singkong, ubi jalar, sukun, sagu dan sejenisnya dengan tetap memperhatikan prinsip B2SA.(Eni Yuli A, SP)