Dalam rangka Adopsi Penerapan Teknologi Aneka Kacang dan Umbi Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan melakukan kunjungan ke Semarang Jawa Tengah pada tanggal 7 s.d 9 April 2021. Kepala Seksi Aneka Kacang dan Umbi, Dinas TPH Bun Prov. Sulsel, Basman, SP, MP menyampaikan maksud dan tujuan orientasi dan memilih Jawa Tengah sebagai lokasi kunjungan karena Jawa Tengah merupakan sentra produksi kedelai. Dalam sambutannya, Plt Kadis Pertanian Kabupaten Grobogan Dr. Sunanto, S.ST, MP mengatakan bahwa Kabupaten Grobogan merupakan daerah penghasil kedelai terbesar di Jawa Tengah dengan kontribusi sebesar 30 persen untuk Jawa Tengah dan 4,9 persen untuk kebutuhan nasional. Kabupaten Grobogan sebagai pusat kedelai nasional dengan luas pertanaman 20ribu ha dan produksi 40ribu ton per tahun. Jenis kedelai ini merupakan varietas lokal namun kualitasnya jauh lebih baik dari kualitas impor. Kualitas unggulan varietas grobogan mampu menghasilkan produksi sebesar 3.2 ton/ha. Kelebihan lainnya dari varietas ini umur panen yang singkat dimana daunnya rontok pada umur 75 hari. Penerapan teknologi yang digunakan dalam pertanaman kedelai di daerah ini adalah lewat sistem methuk atau jemput, sehingga kedelai Grobogan tetap eksis di pasaran. Sistem ini merupakan teknologi pengembangan kedelai yang diadopsi dari kearifan lokal petani. Kedelai yang disinergikan dengan pengembangan jagung melalui model tanam tumpang gilir antara tanaman jagung dan kedelai. Sistem ini tidak mengurangi tanaman jagung petani, bahkan mampu menambah penghasilan petani. Populasi tanaman, baik jagung maupun kedelai, masing-masing tetap 100 persen. Saat ini yang banyak diterapkan di Grobogan adalah kedelai methuk jagung. “Prinsip dasar sistem ini adalah menanam kedelai ketika jagung berumur 80-90 hari. Ketika jagung panen, kedelai sudah berumur sekitar 1 bulan. Sekitar 45 hari berikutnya kedelai dapat dipanen. Sistem methuk juga bisa meningkatkan pendapatan petani. Petani yang biasanya mendapatkan penghasilan dari tanaman jagung sebanyak 2 kali tanam, dengan sistem ini penghasilannya ditambahkan oleh hasil panen kedelai.Tak cuma itu, sistem methuk juga meningkatkan kesuburan tanah, tanaman kedelai akan meningkatkan bakteri rhizobium di dalam tanah, sehingga kandungan Nitrogen akan meningkat. Sistem methuk juga berpotensi menghemat penggunaan pupuk. “Dengan cara tanam sistem ini, yang awalnya petani hanya dapat membudidayakan jagung 2 kali di musim tanam (MT)-1 dan MT-2, petani dapat menanam kedelai di sela-selanya. Sistem ini sesuai diterapkan pada lahan yang memiliki pola tanam jagung MT I - jagung MT II. Menurut Sunanto, keuntungan sistem methuk pada jagung dan kedelai akan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP). Sebab, untuk lahan dengan pola tanam Jagung MT-1 – Jagung MT-2 atau dapat menanam 2 kali dalam setahun (IP 200) dapat meningkat menjadi 3 kali tanam (Jagung-Kedelai-Jagung) atau IP menjadi 300. Pada kunjungan ini rombongan yang terdiri dari aparat, penyuluh, pelaku utama dan pelaku usaha menyempatkan berkunjung ke Rumah Kedelai Grobogan(RKG) di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Dengan berdirinya Rumah Kedelai Grobogan bertujuan untuk mempromosikan hasil olahan dari kedelai varietas Grobogan dan sarana belajar bagi masyarakat untuk mengetahui bagaimana cara pengembangan tanaman kedelai varietas Grobogan yang benar guna meningkatkan produktifitas kedelai lokal. Rumah Kedelai Grobogan menyediakan fasilitas penunjang untuk pelatihan seperti Seed center, Learning center, Promotion center (Soybean resto), Rumah Tempe hygienis, Rumah Tahu hygienis dan Kebun Percobaan. Di tempat ini kita memperoleh gambaran pengembangan budidaya kedelai yang benar. Mulai dari proses pemilihan benih unggul, tahap persiapan lahan, proses penanaman, perawatan, pemupukan, pengendalian OPT, dan pemanenan secara terpadu. Sehingga adanya pengembangan ini diharapkan kedelai varietas lokal dapat menjadi produk unggulan. Hasil kunjungan ini diharapkan dapat mengedukasi peserta orientasi dan mengadopsi inovasi tentang budidaya dan pengolahan kedelai varietas lokal secara modern. Nurfatma, SP, M.Si. Penyuluh Pertanian Dinas TPH-BUN Prov. Sulsel