14.00 Sekitar tahun 2005 tanaman melon mulai dibudidayakan di Pinrang. Salah seorang pemuda lulusan salah satu sekolah kejuruan pertanian yang ada di kabupaten Sidrap berani menyewa lahan yang ditumbuhi semak belukar di sekitar Aressie perbatasan Pinrang-Sidrap. Hasil panen menguntungkan sampai beberapa kali perpanjangan masa kontrak lahan. Saat itu belum banyak petani tertarik tanam melon dan konsumennya terkonsentrasi di kota-kota besar. Maklum saja, karena pada masa itu melon masih dikategorikan sebagai “buah mewahâ€. Kini, melon bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder bagi masyarakat Pinrang dan sekitarnya. Keberadaannya seolah wajib di meja makan atau lemari es, sebagai menu penutup atau pencuci mulut. Selain manis, dilihat dari sisi kesehatan pun bagus, karena kadar vitamin C (asam askobat) sebesar 34 miligram per 100 gram melon, yang bisa diandalkan sebagai antioksidan. Untuk mendapatkan buah ini cukup mudah, hampir tersedia di setiap pasar tradisional, supermarket, atau di pinggir-pinggir jalan. Karena, sudah banyak petani yang membudidayakannya. Pada mulanya memang hanya dibudidayakan di Aressie. Dari situ, melon menyebar ke Malimpung (kawasan Sipundang), Suppa, Mattiro Bulu, Lanrisang, hingga kecamatan Lembang. Namun produksi melon di Pinrang hingga saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar lokal dan pasar domestik wilayah Sulsel. Menurut Abustan salah seorang pedagang melon dari kota Makassar, kebutuhan melon kota Makassar 85 persen dipasok dari Surabaya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa prospek budidaya melon masih terbuka lebar. “Holtikultura adalah bisnis yang tidak akan mati, karena menyangkut kebutuhan pokok manusia. Jadi, sampai kapan pun akan tetap dicari,†ungkap Abustan dari UD Aneka Sari Makassar. “Menanam holtikultura itu sangat menguntungkan, mau membudidayakan buahnya saja atau menjual bibitnya, keuntungan yang didapat sama besar,†ujar Gimanto, SP seorang pembudidaya tanaman holtikultura yang juga penyuluh pertanian di kecamatan Patampanua Pinrang. Gimanto langsung terjun lapangan membuka kebun hortikultura seluas 3 ha di desa Malimpung kecamatan Patampanua dengan menanam tomat, cabai, melon, kacang tanah dan terong jepang. Sebagai penyuluh pertanian, pak Anto (sapaan akrabnya) melihat bahwa sebenarnya budidaya melon merupakan budidaya yang menguntungkan dan cepat, tapi belum banyak dilirik petani. Berbekal pengetahuan dari hasil diskusi dengan pengusaha dan petani sukses dari Jawa maka dirinya memberanikan diri menanam sekitar 6.000 pohon melon yang baru selesai panen sekitar 2.000 pohon. Mulai dari pengolahan tanah, semai benih hingga tumbuh menjadi buah, Gimanto terlibat langsung bersama keluarga dan petani sekitar lokasi untuk ikut belajar bersama. Setelah berbuah, ia mulai khawatir. Artinya, ia harus memutar otak untuk menjualnya. Dari hubungan silaturahmi dan komunikasi melalui HP antar pengusaha sarana produksi pertanian maka ditemukanlah jalur distribusi pemasarannya setelah berkenalan dengan Abustan dari UD. Anekasari Makassar yang bergerak dalam usaha perdagangan hasil buah-buahan di Sulsel. Selain prospektif, cara budidaya buah melon pun tergolong mudah. Bisa dengan kultur teknik biasa (konvensional) atau dengan sistem hidroponik, dan bisa juga dilakukan di areal tanaman padi, pematang sawah, pematang tambak dan di pekarangan kantor atau rumah. “Budidaya melon bisa dilakukan di mana saja, kota maupun pedesaan, lahan sawah, atau bahkan memanfaatkan lahan kosong,†kata Gimanto. Masa panen buahnya pun lebih cepat. Untuk dataran rendah sekitar 55-65 hari, dan untuk wilayah dataran tinggi bisa mencapai 90 hari. Yang paling utama, kebutuhan air harus tercukupi, tapi juga jangan berlebihan. “Jika petani menjalankan sesuai SOP maka hasilnya akan sangat memuaskan bagi para petani,†ujarnya.. Kalau dikalkulasi, dalam 1 hektar lahan, bisa menghasilkan 7.000 buah seharga Rp 6.000 per buah. Jadi, total omzetnya bisa mencapai Rp 42 juta. “Untuk menghindari panen bersamaan dan untuk mengendalikan harga, melon hendaknya ditanam setiap dua minggu sekali, sehingga petani akan terus mendapatkan uang dari panen yang didapat,†ujar Anto memberikan tips. Selama ini yang menjadi kendala pengembangan melon di Pinrang adalah pemasaran, SDM petani dan modal investasi yang cukup. Kendala itu mulai cair setelah pak Anto nego dengan UD. Aneka sari Makassar. Menurut Abustan perusahaannya membutuhkan 10 ton buah melon perminggu dari Pinrang, namun yang baru dicapai saat ini hanya sekitar 1-2 ton perbulan. Sehingga ke depan pihaknya akan menjalin kerjasama dengan kelompoktani dengan menandatangani kontrak produksi dan pemasaran. “Setelah melihat potensi Sipundang kami siap investasi sarana produksi dan kami akan serap hasil panen jika SDM petani minimal sama dengan petani jawa,†kata Abustan di Malimpung kemarin. Penguasaan tekonologi budidaya melon menurut Abustan sangat penting untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan keinginan konsumen. Buah melon yang dipanen petani lebih dahulu disortir untuk menentukan standar kualitas dan harganya. Abustan menjelaskan buah melon diklasifikasikan berdasarkan standar kualitas tertentu. Yaitu kelas M1 untuk melon dengan bobot 1,5 kilogram atau lebih dan jaring pada kulit terbentuk sempurna dengan harga di tingkat petani saat ini Rp.2,750/kg. Kelas M2 untuk melon dengan bobot 1-1,5 kilogram dan jaringnya hanya terbentuk 70 persen saja. Sisanya, masuk kelas M3, terutama untuk buah yang dipanen sebelum masanya karena serangan hama. Untuk buah kelas M3 ini, biasanya dijual di pasar lokal. Sedangkan melon kelas M1 bisa disuplai ke semua level pasar. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;}