Kebutuhan akan komoditi kedelai meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, dan berkembangnya industri pangan dan pakan. Namun harus diakui, produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri, terutama tahu-tempe. Upaya menggenjot produksi kedelai pun tak mudah, karena harus bersaing dengan padi dan jagung dalam penggunaan lahan sawah. Dengan insentif lebih menarik, petani lebih memilih menanam dua komoditi tersebut ketimbang kedelai.Satu cara agar produksi kedelai tetap melaju, pemerintah mulai melirik pengembangan kedelai di lahan non sawah. Potensi perluasan pengembangan lahan kedelai sebenarnya cukup besar. Data Kementerian Pertanian menunjukan bahwa ketersediaan lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman kedelai mencapai 3.432.864 hektar (ha). Perluasan areal yang dimaksudkan untuk menambah areal kedelai dapat juga dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP)pada lahan sawah, lahan kering, lahan pasang surut dan lahan bukaan baru.Pola tanam dilahan kering diantaranya adalah: a. kedelai-Kedelai-bera, b. padi gogo-kedelai, c. jagung-kedelai-tembakau, d. Kedelai-kedelai-aneka kacang lainnya. Penerapan agro ekologi lahan kering berdasarkan jenis tanah yaitu lahan kering tidak masam, dan lahan kering masam. Teknologi budidaya kedelai pada lahan kering meliputi:1)Lahan disiapkan dengan pengolahan tanah sampai gembur menjelang musim hujan yakni dengan dibajak 1-2 kali kemudian digaru 1 kali dan diratakan. Untuk mendapatkan hasil tanaman kedelai yang berkualitas, kedelai harus ditanam di lahan kering dengan kondisi masam, yaitu pH tanah sekitar 6,0 sampai 6,5. Jika tidak, maka tanaman kedelai berpotensi menjadi kerdil dan tumbuh tidak maksimal, misalnya mudah terserang penyakit. Mengkondisikan lahan pertanian kedelai agar mencapai ph di atas 6,0, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah teknik pengapuran. Kapur yang dipakai umumnya kapur dolomite atau kapur kalsit. 2)Pembuatan saluran drainase dengan jarak antar saluran 3-5 m dengan lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm, interval antar saluran drainase dapat dipersempit sesuai dengan jenis tanahnya dan kemiringan lahan. Tanah bertekstur halus (tanah berat) dan lahan yang bertopografi datar, jarak antar saluran perlu lebih diperapat menjadi 2-3 m. 3) Kebutuhan benih antara 40-60 kg/ha tergantung pada ukuran biji dan varietas yang dianjurkan. 4) Perlakuan benih dengan pupuk hayati rhizobium diberikan pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai 20 gram rhizobium/kg benih, 5) tanam di tugal dengan jarak tanam 40x10 cm antar baris 2 biji/lubang. 6) jenis dan takaran pupuk disesuaikan dengan kondisi atau kesuburan tanah berdasarkan analisis tanah, 7) Pemberian air jika kelembaban tanah tidak mencukupi terutama pada stadium awal pertumbuhan, saat berbunga dan saat pengisian polong, 8) Gulma dikendalikan berdasarkan pemantauan baik secara mekanis–konvensional atau manual, 8) Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai kebutuhan dengan pengaplikasikan PHT (Pengelolaan Hama Terpadu).Teknologi budidaya kedelai pada kering masam sebagai berikut: Kedelai pertanaman MH I (Oktober-Januari): Varietas berbiji besar seperti Anjasmoro dan Rajabasa. Varietas berbiji sedang seperti Slamet, Tanggamus, Nanti, Sibayak, Ratai, dan Sinabung. Kedelai Pertanaman MH II (Februari-September) : Varietas berbiji besar seperti Anjasmoro dan Rajabasa. Varietas berbiji sedang seperti Slamet, Tanggamus, Nanti, Sibayak, Ratai, dan Sinabung.Teknologi budidaya kedelai pada lahan kering tidak masam sebagai berikut: Kedelai pertanaman MH I (Oktober-Januari): Varietas berbiji besar seperti Anjasmoro , Baluran, Argopuro, Cumitir, Detam I dan Detam 2. Varietas berbiji sedang seperti Wilis, Slamet, Sinabung, Arjosari dan Malika.Kedelai Pertanaman MH II (Februari-September): Varietas berbiji besar seperti , Baluran, Argopuro dan Burarang . Varietas berbiji sedang seperti Malabar Ijen.Kedelai panen sekitar 90 hari setelah tanam, dengan ditandai daun dan polong mulai menguning dan kering. Sedangkan penanganan pasca panen, brangkasan kedelai dijemur dan bila sudah kering dilakukan perontokan. Biji dijemur hingga kadar kekeringannya mencapai sekitar 14-15 %, kemudian dikemas dan disimpan. (Yulia Tri S) Email: yuliatrisedyowati@gmail.comDaftar Pustaka:Direktorat Budidaya Aneka kacang dan Umbi, 2015http://fredikurniawan.com/teknik-pengapuran-lahan-kering-dan-masam-untuk-budidaya-kedelai/