Loading...

ANTISIPASI GAGAL PANEN, BPTPH LAKUKAN GERDAL PENYAKIT TUNGRO

ANTISIPASI GAGAL PANEN, BPTPH LAKUKAN GERDAL PENYAKIT TUNGRO
Tungro merupakan salah satu penyakit pada tanaman padi yang menjadi permasalahan dalam usaha peningkatan produksi padi nasional. Penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis virus (Rice Tungro Spherical Virus/RTSV dan Rice Tungro Bacilliform Virus/RTBV) yang ditularkan oleh wereng hijau (Nephotettix virescens), yang dapat menyebabkan kehilangan hasil padi. Gejala utama penyakit tungro terlihat pada perubahan warna daun terutama pada daun muda berwarna kuning oranye dimulai dari ujung daun. Daun muda agak menggulung, jumlah anakan berkurang, tanaman kerdil dan pertumbuhan terhambat. Gejala ini biasanya tersebar mengelompok pada areal pertanaman padi sehingga hamparan tanaman padi terlihat bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan tanaman sakit. Berdasarkan hasil pengamatan dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamtan Baturiti telah terjadi serangan penyakit tungro pada tanaman padi seluas 8 Ha di Subak Tuka Tempek Payangan, Desa Perean Tengah Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Menindaklanjuti laporan dari POPT Kecamatan Baturiti, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Bali melaksanakan gerakan pengendalian (gerdal) hama wereng hijau yang merupakan vektor dari virus tungro pada hari Selasa, 1 Desember 2020 di Subak Tuka Tempek Payangan. Kegiatan Gerdal yang dimulai dari pukul 08.30-12.00 Wita tersebut dihadiri oleh Staf UPTD BPTPH Provinsi Bali, Koordinator POPT Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Koordinator BPP Baturiti, POPT Kecamatan Baturiti, Penyuluh Pertanian Kecamatan Baturiti, Kelian Subak Tuka Tempek Payangan berserta petani peserta gerdal. Jumlah Petani yang menghadiri gerdal yaitu 32 orang. Kegiatan Gerdal diawali dengan pemberian materi dan pengarahan oleh bapak I Nyoman Wirka, SP yang mewakili Kepala UPTD BPTPH Provinsi Bali tentang penyebab terjadinya serangan penyakit tungro, cara pencegahan dan cara pengendaliannya. Tiga penyebab utama terjadinya penularan tungro adalah ketersediaan sumber inokulum virus, adanya serangga penular (wereng hijau), dan tanaman peka. Cara pencegahan dan pengendalian terpadu penyakit tungro yang meliputi beberapa komponen yaitu waktu tanam tepat, penggunaan varietas tahan, pergiliran varietas, kultur teknis (pemilihan waktu tanam, pemilihan varietas, eradikasi sumber inokulum pada tahap pratanam, pengelolaan persemaian, cara dan pengaturan jarak tanam, penggunaan pupuk N tidak berlebihan, pengaturan ketersediaan air, eradikasi sumber inokulum pada saat pascapanen dan pergiliran varietas), penggunaan pestisida sesuai dengan kondisi tertentu dan secara bijaksana. Selanjutnya dilakukan penyerahan bantuan (APBN) oleh BPTPH Provinsi Bali kepada Petani berupa sarana perlengkapan seperti masker, topi dan selop tangan, serta sarana pengendalian berupa Insektisida BASSA 500 cc sebesar 10 liter. Kegiatan gerdal dilanjutkan dengan penyemprotan insektisida BASSA 500 cc ke tanaman padi yang terserang penyakit tungro dengan dosis 1 liter/1 ha, dan konsentrasi 2-3 cc/liter air, untuk 1 are diperlukan 4 liter larutan insektisida (larutan semprot). Pembuatan larutan semprot dilakukan dengan melarutkan insektisida BASSA 500 cc sesuai dengan dosis yang dianjurkan pada ember yang berisi air sesuai kapasitas pipa semprot, kemudian diaduk menggunakan tongkat kayu secara merata dan tuangkan larutan insektisida ke tangki hand spryer secara hati-hati. Kemudian petani melakukan penyemprotan pada tanaman yang terkena serangan penyakit tungro. Penyemprotan larutan insektisida BASSA merupakan cara untuk mengendalikan hama wereng hijau yang merupakan serangga penular (vektor) dari virus tungro. Dengan Adanya Gerakan Pengendalian (Gerdal) ini, petugas teknis BPTPH Provinsi Bali dan Koordinator POPT Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan mengharapkan petani dapat melakukan tindakan pencegahan juga mengantisipasi meningkatnya serangan penyakit tungro agar tidak sampai terjadi gagal panen. Diharapkan juga bahwa penggunaan pestisida kimia merupakan alternatif terakhir (Ni Luh Werdhyastuti, SP., PPL Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali).