Loading...

ANTISIPASI KEKURANGAN AIR, SELEMADEG TIMUR BERPALAWIJA JAGUNG

ANTISIPASI KEKURANGAN AIR, SELEMADEG TIMUR BERPALAWIJA JAGUNG
Dalam pengembangan komoditas pertanian, komoditi jagung merupakan komoditi prioritas kedua setelah padi, karena komoditas ini merupakan bahan utama dalam pembuatan ransum pakan ternak yang selama ini kebutuhannya terus meningkat. Oleh karena itu komoditi ini sangat gencar dikembangkan pemerintah melalui berbagai program dan kegiatan, seperti program UPSUS (Upaya Khusus) PAJALE (padi, jagung dan kedelai), dalam upaya untuk meningkatkasn roduksi jagung dalam negeri. Kabupaten Tabanan dalam menunjang program tersebut telah berupaya mengoptimalkan lahan-lahan, khususnya yang mempunyai pengairan irigasi yang terbatas. Salah satunya adalah Kecamatan Selemadeg Timur, dengan pemanfaatan lahan sawah dimusim kemarau (musim tanam April/September 2019 dengan mengembangkan tanaman jagung. Hal ini dilakukan para petani setempat karena dimusim tersebut curah hujan sudah mulai menurun, sehingga lahan sawah yang kebanyakan mengandalkan curah hujan dimanfaatkan petani dengan serempak menanam jagung. Luas lahan di Kecamatan Selemadeg Timur 1.174 ha lahan sawah, yang tergabung dalam 15 subak/kelompoktani talah menanam jagung. Hal ini didukung oleh perhatian pemerintah pusat maupun daerah setempat dengan memberikan bantuan benih jagung. Melalui Kegiatan APBN memberikan bantuan benih jagung varitas Bisi 228, dan kegiatan APBD Kabupaten Tabanan memberikan bantuan benih jagung Varitas Bisi 18 seluas 90 ha, yang dilengkapi dengan Pupuk Urea 50 kg/ha dan NPK 50 kg/ha. Secara teknis kegiatan ini dikawal oleh para penyuluh BP3K Kecamatan Selemadeg Timur dengan menggunakan teknologi spesifik lokasi setempat, meliputi : Persiapan lahan dilakukan tanpa olah tanah (TOT) hanya dilakukan pembuatan galengan disekeliling petakan sawah dan pengendalian gulma pra tanam dengan herbisida kontak, kemudian dilakukan pembabatan sisa jerami padi. Penanaman dilakukan 3 hari setelah pengendalian gulma, dengan menggunakan jarak tanam 40 X 80 cm (2 biji per lubang) benih ditanam setelah ditugal, kemudian benih ditutup dengan menggunakan pupuk organik. Pemupukan dilakukan dengan dosis 250 kg Urea, 300 kg NPK, dan 500 kg pupuk organik yang digunakan sebagai penutup benih saat tanam. Dan pemupukan dengan pupuk kimia dilakukan 3 kali yaitu : Pemupukan pertama dilakukan pada umur tanaman 2 minggu hst. Dengan dosis 100 kg NPK dan 100 kg Urea/ha. Pemupukan susulan ke 2 dilakukan pada umur tanaman 1 bulan hst dengan dosis 100 kg NPK dan 100 kg Urea/ha. Kemudian pemupukan terakhir dilakukan dengan 100 kg NPK dan 50 kg Urea, yang diberikan pada umur tanaman 45 hst. Cara pemberian pupuk dengan cara dikocor, yaitu pupuk Urea dan NPK dicairkan dengan air terlebih dahulu dengan perbandingan 1 kg pupuk : 10 ltr air, kemudian dikocor disekitar tanaman dengan dosis 200 ml/rumpun. Hal ini dilakukan mengingat lahan jagung dalam kondisi kering/kekurangan air. Pengendalian gulma pada tanaman jagung dilakukan dengan 2 cara yaitu : Dilakukan secara manual dengan sabit, rumput dibabat dan dikumpulkan sebagai pakan ternak sapi. Dengan herbisida kimia selektif, dimana pada umur tanaman 30 hst, dilakukan pengendalian gulma dengan herbisida kalaris, dan dilakukan hanya sekali dalam satu musim tanam. Pengendalian hama/penyakit tanaman dilakukan secara terpadu, atas rekomendasi petugas POPT setempat. Dan selama ini belum ada OPT yang menyerang tanaman jagung sampai diatas ambang ekonomis, dan pengendalianya dilakukan secara mekanis oleh petani. Setelah tanaman berumur 110-120 hst, tanaman telah memasuki masa panen. Dengan rekomendasi teknologi budidaya yang diterapkan pada wilayah Kecamatan Selemadeg Timur, produktifitas rata-rata mencapai 8,5 ton jagung pipilan kering panen/ha. Dengan berpalawija pada kondisi lahan sawah yang hampir tadah hujan hujan ini mampu memberikan manfaat dan penghasilan yang sangat menjanjikan pada para petani. Dimana dengan produksi sebersar 8,5 ton/ha jika dikalikan dengan harga Rp. 3.000,-/kg maka harga yang didapat sebesar Rp. 25.500.000,-. Jika dikurangi dengan biaya produksi yang rata-rata Rp. 12.000.000,-/ha, maka keuntungan bersih yang diterima petani sebesar 13.500.000,-/ha/musim tanam. Sungguh usaha tani yang sangat menjanjikan dan menguntungkan petani ( I Ketut Sarjawa, SP., BPP Kecamatan Selemadeg Timur, Kab. Tabanan, Bali).