Guna mendukung keberhasilan swasembada daging, pemerintah telah mendorong pengembangan agribisnis integrasi perkebunan kelapa sawit dengan sapi potong, Hal ini sebagai upaya untuk peningkatan populasi sapi untuk subsitusi impor. Keuntungan lain yang diperoleh antara lain: adanya peningkatan pendapatan pekebun dari hasil ternak, menekan resiko penurunan pendapatan pekebun, menerapkan sistim pertanian tidak monokultur dan mendukung program ketahanan pangan. Agar pengembangan agribisnis integrasi perkebunan kelapa sawit dan sapi potong berhasil, ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan antara lain: 1) persyaratan teknis; 2) pengolahan limbah dan manajemen pakan; 3) potensi limbah sapi potong; dan 4) pemberdayaan petani/peternak. Persyaratan teknisPersyaratan teknis yang harus dipenuhi yaitu: 1) lokasi mudah dijangkau dengan dukungan infrastruktur sarana transportasi dan komunikasi; 2) ada spesifikasi usaha (pembibitan atau penggemukan); dan 3) sistim pengandangan untuk memudahkan pengelolaan pakan dan limbah/kotoran; 4) manajemen pakan. Khususnya untuk manajemen pakan dengan memperhitungkan daya dukung pakan berdasarkan luas pertanaman kelapa sawit yaitu per hektar 3 ekor (1 jantan dan 2 betina) dan berdasarkan umur tanaman kelapa sawit dengan cara mencatat fluktuasi daya dukung pakan per hektar sepanjang tahun dan proporsi campuran bahan pakan sepanjang tahun (hijauan antar tanaman/HAT, pelepah dan daun, bungkil dan lumpur sawit). Pengolahan limbah sawit dan manajemen pakanLimbah kelapa sawit dapat diolah sebagai pakan ternak yang berupa: 1) Palm pressing fibre (PPF) yaitu hasil ikutan yang didapatkan dariproses penempaan (pressing) buah kelapa sawit segar setelah direbus dan pelepasan buah dari tandannya Untuk meningkatkan daya cerna dan tingkat konsumsi dapat ditambahkan dengan sodium hydroxide, urea dan ammonium hydroxide; 2) Palm Sludge (PS), yaitu lumpur sawit merupakan hasil ikutan dari pencucian dan proses pemisahan CPO dan pemisahan minyak makan. Bahan ini dipergunakan sebagai sumber lemak khususnya untuk ternak berlambung tunggal; 3) Palm Kernel Cake (PKC) yaitu bungkil kelapa sawit hasil ikutan proses pengolahan inti sawit menjadi Palm Kernel Oil (PKO; 4) OIL Palm Fronds (OPF), merupakan hasil ikutan dari pelepah dan daun pada penyiangan saat panen tandan buah segar; 5) Empty Fruits Bunch (EFB) yaitu tandan buah kosong yang diolah dalam bentuk pellet EFB dapat digunakan sebagai pupuk tandan sebar (PTS) karena dapat dikembalikan kelahan kebun dengan menyebar diantara tanaman kelapa sawit.Potensi limbah kelapa sawit sebagai pakan dapat digambarkan sebagaiberikut:- Pelepah dan daun sawit: 23 helai 130phn x 7 kg x 36% BK menghasilkan 7.534,8 kg - Bungkil inti sawit. 22 ton TBS x 2,3% bungkil inti sawit x 93% BK menghasilkan 470,58 kg- Lumpur sawit: 22 ton TBS x 5% sludge x 24,08% menghasilkan 264,88 kg Totall. 8.270,26 kgKebutuhan BK/1 ekor sapi 3,5% bobot badan metabolicDengan asumsi berat seekor sapi(local) 200 kg= 3,5% x 200kgx 365 hari menghasilkan 2.555 kg. Dengan daya tampung pakan dari kebun kelapa sawit per hektar sebesar 8.270,26 /2.555 menghasilkan 3 ekor sapi.. Potensi limbah sapi potongIntegrasi perkebunan kelapa sawit dengan sapi potong memberikan keuntungan antara lain: 1) membrantas gulma tanaman sehingga menghemat biaya pengendalian gulma tanaman; 2) mengurangi biaya transportasi dari lokasi panen ke tempat penjualan/penyimpanan tandan; 3) menghasilkan pupuk organik; dan 4) menghasilkan bio gas. Pemberdayaan petani/peternak. Agribisnis integrasi kelapa sawit dan sapi potong sebaiknya dilakukan dengan melibatkan petani dengan melibatkan perkebunan rakyat maupun perkebunan kelapa sawit skala besar melalui kemitraan. Pola kemitraan kengan perkebunan skala besar dikembangkan secara profesionaldan tidak merugikan petani. Untuk itu para petani harus ditingkatkan kapasitasnya terutama pengetahuan tentang inseminasi buatan (IB), kawin silang,manajemen pakan,perawatan kesehatan sapid an pengolahan limbah tanaman sawit dan limbah sapi. Pengembangan pola kemitraan akan memberikan manfaat yang besar baik bagi perkebunan skala besar, pemerintah dan juga bagi petani yaitu: 1) dapat mengurangi gangguan/penjarahan hasil kebun; 2) adanya rasa keadilan dalam pemilikan kebun; 3) meningkatkan fungsi kontrol masyarakat terhadap perkembangan perkebunan; dan 4) dapat mendongkrak percepatan pembangunan wilayah. Selain itu para petani akan mendapatkan keuntungan ganda yakni mendapatkan upah sebagai tenaga kerja pada perkebunan dan mendapat deviden sebagai pemilik sehingga meningkatkan kesejahteraan dan posisi tawar petani. Sehingga akan terjadi pemerataan dan keadilan pembagian hasil usaha integrasi sapi potong dan kelapa sawit. Peluang peningkatan pproduktivitas dan kualitasDari hasil penelitian menunjukkan pakan dan pemeliharaan yang baik dapat menaikkan bobot hidup 0,75 kg/ekor/hari. Campuran pakan hijauan alami seperti pelepah daun kelapa sawit dan produk samping pengolahan limbah kelapa sawit merupakan salah satu pakan berkualitas. Keseimbangan perbandingan sapi potong jantan dan betina yang ideal dalam peternakan adalah 1:10. Untukmenghindari kawin sedarah sistim rotasi dalam satu satuan waktu tertentu dari satu wilayah ke wilayah lain harus teratur. Dengan pengaturan perkawinan ini petani dapat menjual ternak berumur 1-1,5 tahun secara periodic dan berkelanjutan mulai tahun kedua/ketiga. Sapi yang dijual dapat dijadikan induk petani lain. Jumlah anak sapi yang bisa dijual secara periodic ergantung pada jumlah kepemilikan ternak sapi dan jumlah sapi betina. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Dihimpun dari beberapa sumber