Tikus sawah merupakan hama utama penyebab kerusakan tanaman padi yang dapat menimbulkan kerugian sangat besar bagi petani karena hama ini dapat menyerang seluruh fase pertumbuhan tanaman padi, baik vegetatif maupun generatif, bahkan pada fase penyimpanan juga tidak luput dari serangan hama ini. Hama ini telah menyerang tanaman padi seluas 20 ha, sesuai hasil pengamatan lapangan dari POPT, di Subak Angseri yang lahan sawahnya seluas 83 ha ditemukan tanda-tanda kerusakan tanaman akibat serangan hama ini dengan intensitas serangan mencapai 5% dan kepadatan populasi tikus 18 lubang aktif per Ha. Mengantisipasi meluasnya serangan hama tikus ini, hari Kamis tanggal 26 November 2020 telah dilaksanakan kegiatan gerakan pengendalian (Gerdal) hama tikus di Subak Angseri, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan Bali. Kegiatan gerdal tersebut dilaksanakan setelah adanya laporan peringatan bahaya dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Baturiti, sebagai tindak lanjut dari hasil pengamatan lapangan yang dilakukan POPT dalam menanggapi keresahan yang dialami petani Subak Angseri akibat serangan hama tikus pada tanaman padi umur 25-40 hari setelah tanam. Kegiatan gerdal yang dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri oleh Kepala UPTD BPTPH Provinsi Bali beserta staf, Koordinator POPT Kabupaten Tabanan, Kepala Desa/Perbekel Desa Angseri, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Angseri, Koordinator BPP Baturiti, POPT Kecamatan Baturiti, Penyuluh Pertanian, dan Pekaseh Subak Angseri beserta petani peserta gerdal. Dalam kegiatan ini, UPTD BPTPH Bali memberikan bantuan racun tikus berupa Brankus sebanyak 140 batang. Peserta gerdal juga difasilitasi masker, selop tangan, dan topi guna mendukung kegiatan di masa pandemi covid-19. Kepala UPTD BPTPH Bali Ir. I Nyoman Swastika, MSi. menyampaikan meskipun dalam kondisi pandemi covid-19, petani sebagai pahlawan pangan harus senantiasa tetap melaksanakan tugasnya dalam upaya menjaga ketahanan pangan tanpa mengabaikan protokol kesehatan. Dalam budidaya tanaman, adanya gangguan OPT merupakan salah satu permasalahan yang sangat menentukan keberhasilan usaha tani, oleh karena itu pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi kewajiban petani dan pemerintah melalui UPTD BPTPH yang memiliki tugas pokok dan fungsi melindungi komoditas tanaman pangan dan hortikultura dari gangguan serangan hama dan penyakit yang bisa mengakibatkan kegagalan panen. Lebih lanjut beliau mengharapkan upaya penanggulangan OPT dengan mempergunakan bahan kimia adalah merupakan langkah terakhir yang dilaksanakan setelah melalui pengamatan. Data statistik menunjukkan perkembangan hama tikus di Bali mengalami peningkatan dari tahun lalu yakni dari 600 Ha menjadi 900 Ha luasan daerah yang terserang. Hama ini berkembangbiak dengan cepat, apabila tidak dikendalikan dalam satu tahun sepasang tikus dapat berkembangbiak menjadi 1284 ekor. Selain pengendalian melalui Gerdal, upaya pengendalian tikus dapat pula dilakukan dengan melakukan pengaturan pola tanam, sanitasi (kebersihan lingkungan), melakukan gropyokan secepatnya setelah panen padi, dan melakukan pengumpanan pada tanaman fase vegetatif. Tehnik pengendalian yang digunakan dalam kegiatan gerdal ini adalah dengan pengasapan menggunakan brankus di lubang-lubang aktif tikus. Semua petani yang hadir didampingi oleh petugas melakukan gerakan pengendalian dengan cara mencari lubang aktif tempat bersarangnya tikus untuk dilakukan pengasapan kemudian lubang ditutup dengan lumpur/tanah untuk mencegah asap keluar. Kunci utama dari kegiatan ini adalah dalam menentukan lubang aktif tempat bersarangnya tikus. Karena apabila salah dalam menentukan lubang aktif otomatis kegiatan pengasapan akan sia-sia. Dosis penggunaan brankus yaitu 1 batang brankus untuk 5-7 lubang aktif. Sebagai penutup, Kepala UPTD BPTH Bali dan Kepala Desa Angseri sama-sama mengharapkan pelaksanaan gerdal ini dapat meningkatkan sinergitas antara petani dan pemerintah dalam upaya pengamanan produksi tanaman padi dari serangan hama tikus (Gusti Ayu Vera Sukmawati, S.TP. PPL BPP Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali)