Loading...

Awali Pembangunan Pertanian, Desa Lengkong Susun Programa Penyuluhan 2022

Awali Pembangunan Pertanian, Desa Lengkong Susun Programa Penyuluhan 2022
Penyusunan programa tingkat desa tahun 2022 wilayah Kecamatan Balen dilaksanakan pada Rabu (4/2/2021) di Balai Desa Lengkong, Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro. Programa penyuluhan pertanian tingkat desa bertujuan untuk merencanakan arah dan pedoman pencapaian tujuan penyuluhan. Programa disusun secara partisipatif masyarakat. Kegiatan penyuluhan pertanian bertujuan untuk merubah pengetahuan, keterampilan, dan sikap (PKS) petani. Dengan perubahan tiga hal mendasar tersebut diharapkan SDM petani lebih maju, berusahatani lebih baik sehingga hasil panen meningkat, kesejahteraan petani juga ikut meningkat. Acara ini diikuti oleh oleh Kepala Desa beserta perangkat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengurus gabungan kelompok tani, dan kelompok tani Desa Lengkong. Dihadiri oleh Kordinator penyuluh dan penyuluh lapang Kecamatan Balen. Karena masih dalam pandemi Covid-19 undangan dibatasi hanya 20 orang. Peserta dan petugas tetap mematuhi protokoler kesehatan (prokes) dengan mencuci tangan sebelum memasuki ruangan, memakai masker, dan menjaga jarak antar peserta. Desa yang terletak di sebelah utara kantor kecamaman Balen tersebut mempunyai potensi besar di sektor pertanian. Luas lahan sawah mencapai 139 hektare. Dengan pola tanam padi-padi-palawija. Tanaman pangan (padi dan kedelai) menjadi usahatani andalan petani disana. Disusul tanaman hortikultura (lombok, bawang merah, kangkung, bayam, sawi, dan lain-lain). Desa Lengkong juga dikenal sebagai pusat penjualan bibit lombok, terung, tomat. Pemasarannya sudah menyebar di sebagian wilayah Bojonegoro. Kelembagaan pertanian di desa Lengkong terdapat 2 kelompok tani, yakni "Subur 1" dan "Subur II". Tergabung dalam gabungan kelompok tani "Subur". Penyusunan programa desa dipandu oleh tim BPP Balen yang mengawali dengan rencana anggota kelompok (RAK) yang meliputi identifikasi potensi wilayah, kalender tanam, cita-cita keluarga petani, masalah yang dihadapi, matrik jadwal kegiatan, dan rencana kegiatan yang diusulkan. Setelah diidentifikasi bersama, keluarga petani mempunyai keinginan adanya swasembada pangan, kesejahteraan petani semakin meningkat, bisa menanam padi lebih awal dan serentak. Selain itu mereka berharap adanya penyuluhan rutin kepada anggota kelompok tani, pekerjaan petani menjadi idola petani muda, petani paham tentang teknik budidaya pertanian, dan mempunyai lumbung pangan. Masalah yang dihadapi petani setelah dirangking dan memerlukan penanganan prioritas adalah organisme pengganggu tanaman (OPT). Yang pertama adalah hama tikus sawah, disusul nilai PH tanah yang rendah atau asam. Kemudian penggerek batang (sundep, beluk). Selanjutnya masalah air, tenaga kerja pertanian yang semakin berkurang, belum adanya lembaga Taruna Tani dan Kelompok Tani Wanita (KTW). Persedian pupuk subsidi yang dianggap masih kurang, hama wereng batang coklat, penyakit Blas dan Hawar Daun Bakteri (HDB) juga menjadi kendala dalam berusahatani. Penyakit Blas (Blas daun, Blas buku, Blas leher/potong leher) disebabkan jamur Pyricularia Oryzae. Sedangkan Hawar Daun Bakteri (HDB) atau Kresek yang disebabkan bakteri Xanthomonas Oryzae. Untuk solusi masalah yang ada kemudian disusun rencana kerja penyuluh yang meliputi pertemuan dan penyuluhan rutin sebulan sekali, mengadakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Selainya diadakan pelatihan praktik pembuatan pupuk organik (padatan, cair) dan pestisida nabati. Cara menaikan nilai PH tanah yang rendah dengan aplikasi kapur pertanian atau dolomit yang cukup. Termasuk metode pengendalian hama tikus, salah satunya pendirian rumah burung hantu (rubuha). Pengendalian Penggerek Batang, Blas, dan Hawar Daun Bakteri dengan pemilihan pestisida 5 Tepat, yakni Tepat Sasaran, Jenis, Waktu, Takaran, dan Cara. Untuk menambah volume air, salah satu solusinya adalah kelompok tani mengajukan bantuan sumur submersible (sibel) ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Sedangkan untuk kekurangan tenaga kerja pertanian dengan mengajukan alat mesin pertanian (Alsintan) berupa Rice Transplanter dan Combine Harvester. Iskak Riyanto, SP, PPL BPP Balen.