Loading...

AYAM TUKONG JENIS AYAM LANGKA YANG PERLU DILESTARIKAN

AYAM TUKONG JENIS AYAM LANGKA YANG PERLU DILESTARIKAN
Beberapa rumpun ayam Indonesia merupakan plasma nutfah/sumberdaya genetic (SDG) yang masih perlu digali potensinya baik sebagai penghasil daging, telur maupun klangenan (fancy) baik untuk suara, aduan maupun tampilan yang cantik. Saat ini terdapat beberapa jenis/rumpon ayam lokal yang empunyai ciri spesifik dan merupakan unggulan daerah dimana ayam lokal tersebut berkembang. Identifikasi dan karakteristik jenis-jenis ayam lokal masih dianggap penting karena disamping berguna untuk keperluan koleksi plasma nutfah Indonesia, juga membantu program pemuliaan. Identifikasi dapat dilakukan terutama pada ciri-ciri fenotipe baik secara kualitatif (warna bulu, kulit, shank, paruh, pial, atau bentuk jengger) serta secara kuantitatif seperti ukuran-ukuran tubuh/morfometrik seperti panjang femur (tulang paha atas). Tibia (tulang paha bawah), shank (ceker), panjang kepala, lebar kepala, panjang leher dan lainnya. Pengukuran produktivitas dan reproduktivitas beberapa jenis ayam lokal serta ketahanan terhadap penyakit/parasite masih perlu dilakukan. Dan dari segi reproduksi , penyimpanan semen beku ayam lokal langka sangat diperlukan dalam membantu program konsevasi/pelestarian juga penyimpanan PGC (Primordial Germ Cell) saat ini menjadi topic menarik yang cukup menantang dalam konservasi Plasma Nutfah ayam lokal langka ataupun pembuatan chimera. Banyak sekali jenis ayam lokal yang perlu diekplorasi, karena belum dikenal, populasi terbaik hanya pada daerah tertentu. Informasi performans, produktivitas maupun ciri atau hanya sedikit informasi yang telah diketahui. Ayam-ayam lokal masih perlu digali baik potensi genetik maupun produktivitas,asal-usul dan kegunaannya. Ayam lokal tersebut diantaranya ayam tukong.Ayam tukong adalah sejenis ayam lokal yang berkembang di daerah pedalaman Kalimantan Barat, memiliki karakteristik dan keistimewaan yang belum diketahui dengan baik sehingga perlu dilakukan karakterisasi dan identifikasi baik aspek teknis biologis serta potensi pengembangannya dimasa depan. Ciri spesifik ayam Tukong tidak memiliki tulang ekor atau brutu, sehingga ayam Tukong tidak memiliki bulu ekor. Ayam Tukong sepintas mirip seperti burung puyuh besar akan tetatpi berpenampilan seperti ayam Kampung. Bentuk tubuh, warna bulu badan kombinasi warna merah, kuning hitam, hitam, hitam coklat dan putih. Warna bulu leher merah kuning dan hitam. Warna paruh kuning. Warna kaki kuning kepucatan. Jengger berwarna merah. Bentuk jengger pea dan adapula yang berbentuk tunggal. Warna daging keputihan. Ayam Tukong memiliki bobot tubuh lebih rendah dari ayam Kampung yaitu antara 1,7 – 2,5 kg untuk ayam jantan dewasa dan 1,2 -1,7 kg untuk ayam betinanya. Sejarah ayam TukongAyam tukong berasal dari ayam Tabulangking yaitu sejenis ayam Hutan yang hidup liar di hutan-hutan Kalimantan Barat. Pada jaman dahulu ayam ini menjadi penanda waktu bagi orang yang bekerja di ladang. Karena setiap jam 4 sore ayam Tukong terdengar suaranya beriringan antara ayam jantan dan betinanya. Ayam tukong diyakini merupakan hasil persilangan antara ayam Kampung dengan ayam Tabulangking, atau diduga bahwa nenek moyang ayam Tukong yang ada saat ini berasal dari ayam Tabulangking. Wilayah penyebaran ayam Tukong Penyebaran ayam Tukong meliputi wilayah Kabupaten Sambas (Selakau, Pemangkat, Tebas, dan Sambas), Bengkayang kota Singkawang, Pontianak, dan yang masih eksis saat ini terdapat di kabupaten Landak, khususnya di Kecamatan Mempawah Hulu. Dilaporkan pula bahwa keberadaan ayam Tukong di daerah hulu seperti Kabupaten Sanggau, Sintang hingga Kapuas Hulu.Keunggulan Ayam TukongTemperamen ayam Tukong jinak merupakan keunggulan yang memiliki ayam ini, sehingga menjadi salah satu keistimewaan yang disukai para peternak. Temperamen jinak tersebut ditunjukkan dengan tidak terlalu jauhnya mobilitas ayam Tukong dari lokasi sekitar rumah, sehingga lebih mudah diawasi oleh para peternak. Kemampuan terbang ayam Tukong juga rendah, hal tersebut merupakan karaktersitik yang mendukung untuk mengembangkan ayam Tukong sebgai ayam penghasil daging yang cukup ideal. Dengan rendahnya aktivitas ayam Tukong diharapkan metabolism intake pakan dapat secara optimal dimanfaatkan untuk menghasilkan produk daging.Produksi telur rata-rata 10 butir, berat telur 47 gram, daya tetas telur 84,3%, warna kulit telu putih kecoklatan kemerahan, lama pengeraman 21 hari, umur mulai bertelur 5-6 bulan, interval masa bertelur 3 bulan dan jumlah periode bertelur/tahun 4 kali.Bobot ayam jantan umur 3 bulan 0,6 kg, bobot ayam betina 3 bulan 0,5 kg, bobot ayam jantan umur 1 tahun 1,0-1,5 kg, ayam betina umur 1 tahun 0,9-1,2 kg, ayam jantan dewasa 1,7-2,5 kg dan ayam betina dewasa 1,2 – 1,7 kg. Sumberdaya genetik ayam di Indonesia yang berjumlah sekitar 38 rumpun merupakan kekeyaan yang tidak ternilai, namun keberadaan dan keberlangsungan pemeliharaannya perlu mendapat perhatian. (Suwarna – Pusluhtan).Sumber : 1. Sartika,Tika, 2016 " Sumberdaya genetik ayam lokal Indonesia dan prospek pengembangannya", Jakarta IAARD. Balitbangtan.2. dody94.wordpress.com