Loading...

BAHAN PAKAN ASAL PERKEBUNAN RENDAH EMISI METANA

BAHAN PAKAN ASAL PERKEBUNAN RENDAH EMISI METANA
Produksi gas metana dalam proses fermentasi bahan pakan di dalam rumen menyebabkan terjadinya inefisiensi dalam pemanfaatan energi pakan. Diperkirakan bahwa energi yang terbuang dalam bentuk gas metana sebesar 6-10% dari total gross energi yang dikonsumsi (Johnson dan Johnson 1995; Joblin 1999). Emisi gas metana yang dihasilkan oleh proses fermentasi rumen pada ternak ruminansia semakin mendapat perhatian oleh karena terkait dengan aspek iklim dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Gas ini memiliki potensi dan kontribusi penting sebagai gas rumah kaca, karena akumulasinya mempercepat terjadinya proses peningkatan suhu bumi yang berdampak kepada perubahan iklim yang seringkali sulit diprediksi.Bahan pakan berasal dari perkebunan yang berpotensi menekan emisi metana atau tergolong rendah emisi metana adalah bungkil inti sawit, solid decanter, batang kelapa sawit, biji karet dan tetes/molases. 1. Bungkil inti sawit dan solid decanter. Kandungan lemak kasar pada bungkil inti sawit dan solid decanter cukup tinggi, kandungan serat kasar tergolong rendah dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) tergolong tinggi. Variasi semua unsur nutrisi pada kedua produk tersebut cukup lebar disebabkan oleh perbedaan proses pengolahan. Bungkil inti sawit memiliki potensi menghasilkan metana yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan solid decanter. Hal ini terutama disebabkan oleh kandungan lemak yang lebih tinggi pada solid decanter. Lemak merupakan unsur nutrisi yang memiliki potensi untuk menurunkan metana pada ternak ruminansia (Eckard et al. 2010). Dengan kandungan lemak tergolong tinggi serta memiliki palatabilitas yang baik, maka bungkil inti sawit dan solid decanter dapat digunakan sebagai pakan konsentrat untuk menekan emisi metana. 2. Batang kelapa sawit. Batang kelapa sawit merupakan produk pakan yang tersedia dari perkebunan kelapa sawit saat dilakukan peremajaan terhadap tanaman tua pada umur sekitar 25 tahun. Komposisi kimia batang kelapa sawit menunjukkan bahwa fraksi batang bagian atas kelapa sawit mengandung pati dalam konsentrasi tinggi (65%). Tingginya kandungan unsur pati ini dapat menjadi faktor potensi dalam menekan emisi metana jika digunakan sebagai komponen pakan dalam ransum ternak ruminansia. Dibandingkan dengan karbohidrat mudah larut dari kelompok gula, maka potensi metanogenik pati dilaporkan lebih rendah (Johnson dan Johnson 1995). Oleh karena itu, penggunaan batang kelapa sawit fraksi batang atas untuk mensubstitusi sebagian serat sebagai sumber energi berpotensi menurunkan emisi metana. Hasil penelitian Martin et al. 2007 menunjukkan bahwa penggunaan ransum pada sapi dengan meningkatkan kandungan pati dari 30% menjadi 45% mengakibatkan penurunan produksi metana sebesar 56% tanpa memengaruhi pertumbuhan sapi. Mengganti unsur karbohidrat struktural/serat kasar dengan pati akan menstimulasi penurunan pH rumen dan selanjutnya akan memodifikasi populasi mikroba rumen. Perubahan populasi mikroba rumen ini selanjutnya dapat mengakibatkan perubahan arah pembentukan asam lemak volatil yang lebih mengarah kepada pembentukan propionat dan akan menyebabkan menurunnya produksi H2. 3. Biji karet. Potensi biji karet dalam menurunkan emisi metana jika digunakan sebagai pakan diperkirakan terkait dengan kandungan lemak yang sangat tinggi yang mencapai 30-40%. Proses ekstraksi baik menggunakan pelarut ataupun secara mekanis masih meninggalkan lemak dalam jumlah yang relatif tinggi pada bungkil biji karet. Kelebihan penggunaan lemak dalam upaya mengurangi emisi metana adalah bahwa pH rumen dapat dipertahankan normal untuk menjamin optimalnya fungsi rumen (Martin et al. 2010). Dalam konteks ini biji karet diduga memiliki potensi tinggi dalam menekan emisi metana. 4. Molases/tetes. Kandungan karbohidrat non-struktural, terutama kandungan gula mudah larut (sukrosa) relatif tinggi pada molasses. Molases tidak mengandung unsur lemak dan serat kasar, sedangkan protein sangat rendah. Molases dapat digunakan sebagai komponen pakan konsentrat untuk menyumbang sebagian unsur karbohidrat mudah larut dan mensubstitusi sebagian kebutuhan serat sebagai sumber energi. Disamping itu, molases sangat palatabel dan dapat menstimulasi peningkatan taraf konsumsi pakan. Kombinasi kedua karakteristik nutrisi ini merupakan indikasi adanya potensi pada molases untuk menurunkan emisi metana bila digunakan sebagai pakan pada ternak ruminansia. Disamping itu, molasses juga mengandung sulfur yang relatif tinggi (3-5 g/kg bahan kering). Hasil penelitian Phuong et al. (2012) yang dilakukan in vitro menunjukkan bahwa sulfur dapat menekan emisi metana setelah 48 jam masa inkubasi. (Suwarna-BPPSDMP) Sumber : Ginting, 2009 "Limbah Perkebunan Untuk Pakan Ternak Ruminansia Dan Potensinya Menurunkan Emisi Gas Metana" Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih Sumatera Utara