Loading...

Bahan Tanam Unggul Kakao

Bahan Tanam Unggul Kakao
Bahan tanam memegang peranan penting didalam usahatani kakao sehingga penanaman kakao yang memiliki ketahanan yang baik, produksi tinggi dan mutu baik sangat diperlukan dalam pengembangan kakao di Indonesia. Mengingat peningkatan produksi dengan perluasan areal saat ini tidak dapat mengimbangi penurunan produksi tanaman tua serta serangan hama PBK dan penyakit VSD yang mngancam produksi kakao nasional, maka diperlukan upaya perbaikan agar produksi kakao nasional dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Perbaikan perkebunan kakao dapat dilakukan melalui upaya rehabilitasi, peremajaan dan perluasan areal dengan bahan tanam unggul dan penerapan teknologi maju. Persiapan bahan tanamTanaman kakao yang akan diambil bibitnya atau benihnya sebaiknya dari kebun induk yang mempunyai sifat-sifat: 1)kondisinya sehat; 2) pertumnuhannya normal dan kokoh,; 3) menghasilkan produksi yang tinggi antara 790-90 tongkol per pohon per tahun; 4) berumur antara 12-18 tahun.Beberapa Prinsip yang Harus diperhatikan yaitu: 1)Petani dilarang menanam tanaman transgenik, termasuk tanaman sela dan penaung transgenic; 2) Varietas atau klon yang ditannam sebaiknya yang telah direkomendasikan oleh lembaga resmi terkait, yaitu Dinas Perkebunan, Blaai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Penerapan Praktis:Penyiapan bahan tanam kakao yang paling sederhana yaitu mnggunakan benih hibrida. Benih diperoleh dari kebun benih yang bersertifikat dari Menteri Pertanian.Bahan tanam kakao yang lain yaitu berupa klon yang perbanyakannya secara vegetatif. Karakteristik beberapa klon kakao anjuran:.1. ICCRI 03SK Mentan No. 530/Kpts/SR.120/9/2006Potensi daya hasil : 2.09 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha).Karakteristik mutu biji: a). Berat per biji kering 1,28 gram; b) Kadar kulit ari : 11,03 %; c) Kadar lemak biji 55,01 %Ketahanan hama dan penyakit: tahan penyakit busuk buah, agak tahan penyakit VSD dan agak tahan hama PBK.Kesesuaian wilayah pengembangan Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; tipe iklim A, B, dan C menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketingian tempat 0-600 mdpl., disarankan untuk kelas kesesuaian lahan S1 dan S2.2. ICCRI 04SK Mentan No. 529/Kpts/SR.120/9/2006Potensi daya hasil : 2.06 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha)Karakteristik mutu biji: a) Berat per biji kering : 1,27 gram; b) Kadar kulit ari : 11,04 %; c) Kadar lemak biji : 55,07 %Ketahanan hama dan penyakit: Tahan terhadap penyakit busuk buah :; rentan Penyakit VSD dan agak tahan terhadap Hama PBK.Kesesuaian wilayah pengembangan Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; tipe iklim A, B, dan C menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketingian tempat 0-600 mdpl., disarankan untuk kelas kesesuaian lahan S1 dan S2.3. Seavina 6 (Sea 6)SK Mentan No. 1984/Kpts/SR.120/4/2009Potensi daya hasil : 1,54 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha)Karakteristik mutu biji : Berat per biji kering 0,65 – 0,8 gram, kadar kulit ari : 16,7 – 18,75 %, kadar lemak biji : 49,6 – 58,17 %Ketahanan hama dan penyakit: Tahan terhadap Penyakit busuk buah, : tahan Penyakit VSD, dan agak tahanHama PBK : rentanKesesuaian wilayah pengembangan Disarankan untuk daerah terserang penyakit VSD dengan intensitas serangan berat pada kondisi wilayah yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; tipe iklim A, B, dan C menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson namun untuk perbaikan kualitas biji disarankan daerah bertipe iklim A atau B; tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketingian tempat 0-600 mdpl., disarankan untuk kelas kesesuaian lahan S1 dan S2.4. SULAWESI 1 (Sul 1) SK Mentan Nomor.1694/Kpts/SR.120/12/2008Potensi daya hasil : 1,8 – 2,5 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha)Karakteristik mutu biji : Berat per biji kering 1,10 gram, kadar kulit ari 11,3 %, kadar lemak biji 48 – 50 %Ketahanan hama dan penyakit: Agak tahan terhadap Penyakit busuk buah, :, tahan Penyakit VSD, tahan dan rentan terhadap Hama PBK .Kesesuaian wilayah pengembangan Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; endemis penyakit pembuluh kayu (VSD), tipe iklim A, B, C, D menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketingian tempat 0-900 mdpl., disarankan pada kelas kesesuaian lahan S1 dan S2.5. SULAWESI 2 (Sul 2) SK Mentan Nomor.1695/Kpts/SR.120/12/2008Potensi daya hasil 1,8 – 2,75 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha)Karakteristik mutu biji: Berat per biji kering 1,0 gram, Kadar kulit ari 11,64 %, Kadar lemak biji 45 – 47 %Ketahanan hama dan penyakit: agak tahan Penyakit busuk buah, agak tahan Penyakit VSD, dan agak tahan, Hama PBK Kesesuaian wilayah pengembangan Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; endemis penyakit pembuluh kayu (VSD), tipe iklim A, B, C, D menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketingian tempat 0-900 mdpl., disarankan pada kelas kesesuaian lahan S1 dan S2. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP)Sumber:1. Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP on Cocoa). Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. 2014.2. http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/?p=4153