Desa Cangko merupakan salah satu desa di Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu. Pengairan di desa ini sangat terjamin karena dilalui saluran primer sindupraja, sehingga relatif sepanjang tahun air tersedia. Salah satu masyarakat Desa Cangko ini adalah Bapak Tabroni, beliau mantan seorang Kepala Sekolah. Sejak menjadi Pegawai Negeri pak Tabroni sudah tertarik dengan dunia pertanian. Pada Tahun 2001 mengembangkan kegiatan budidaya bebek peking, namun dalam pemasarannya mengalami kesulitan. Sehingga usaha ini tidak berkelanjutan. Setelah gagal di usaha bebek, kemudian beralih dengan usaha penggemukan kambing. Usaha ini pun hampir sama dengan usaha bebek peking. Karena tidak pernah merasa kapok, kemudian mengupayakan usaha jamur. Alhamdulillah usaha ini menghasilkan keuntungan, namun dalam pemeliharaannya mengalami kerepotan, sehingga walaupun usaha ini untung tidak dilanjutkan. Jiwa usaha yang terus menggebu dan dengan mempelajari berbagai kegiatan usaha melalui media internet, ditambah kegiatan sebagai pegawai negeri yang sudah purna, maka dipilihlah usaha budidaya lele dengan sistim Biofloc. Pengembangan budidaya lele sistim bioploc ini mendapat cemoohan dari masyarakat. Karena paham yang dimiliki maasyarakat bahwa memelihara lele itu harus di tanah. Namun setelahnya berhasil, sekarang masyarakat banyak yang menirunya. Berbekal pengetahuan yang dibaca di Majalah Trubus dan Media Internet, pada Tahun 2002, pak Tabroni mencari indukan ke Balai Benih Ikan Sukamandi. Saat itu dibelinya indukan Sangkuriang dalam 1 (satu) paket lele dengan komposisi 8 ekor betina dan 6 ekor jantan. Adanya petani-petani lainnya yang ikut memelihara / berbudidaya lele ini, maka paka Tabroni dengan dibimbing Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Tukdana Kabupaten Indramayu bermusyawarah membentuk kelompok budidaya lele. Tepatnya pada tanggal 26 Februari 2015 dimusyawarahkan dan dibentuklah kelompok budidaya lele dengan nama AL ZAWAD dengan jumlah anggota 10 orang. Pada musyawarah tersebut disepakti ketua dijabat oleh pak Tabroni. Dengan ketekunan ketekunan dan belajar secara otodidak dengan referennsi Majalah Trubus dan media Internet, Pak Tabroni mampu membenihkan indukan lele. Dalam satu periode kawin, lele tersebut mampu bertelur sebanyak 60.000 sampai 100.000 butir. Dari jumlah terlur tersebut 90 % berhasil menjadi bibit lele. Bibit lele kemudian dibesarkan di kolam pembesaran. Selain itu jika ada yang ingin membeli maka bibit lele dijualnya. Harga bibit lele ukuran 2-3 cm dijual dengan harga Rp. 30,-/ekor. Apabila ukurannya 7-8 cm dijual dengan harga Rp. 350,-/ekor. Kebutuhan bibit untuk anggota kelompok disuplay dari ketua kelompok dengan sisitm kontan atau bayar panen. Sedangkan pemasaran hasil dari anggota tersebut dapat dijual ke ketua atau dijual pedagang lainnya. Dalam hal pemasaran hasil lele ini tidak mengalami kesulitan, para pedagang datang sendiri ke lokasi. Bahkan para pedagang berebut mendapatkan lele. Ketua kelompok Al Zawad mempunyai 20 unit kolam dimana 2 kolam diantaranya untuk pembenihan, sedangkan sisanya untuk pembesaran. Pakan untuk bibit lele didapat dari lingkungan dengan mencari cacing sutra. Sedangkan pakan untuk pembesaran dengan keong mas dan kijing. Pakan ini dibeli dari masyarakat dengan harga Rp, 1.250,-/kgnya. Pemberian kebutuhan pakan untuk budidaya lele ini selalu disempling. Hal ini untuk menentukan berapa jumlah pakan yang harus diberikan, sehingga lele tidak saling memakan termasuk jadwal pemberian pakannya. Untuk membuat kolam sistim biofloc dengan diameter 3,3,meter dan tinggi 1 meter dengan alas plastik memerlukan biaya sebesar Rp. 1,5 juta. Apabila dengan bibit lele sebanyak 5.000 ekor ukuran 7-8 cm ditambah lagi Rp. 1 juta. Penempatan boks biofloc ini harus rata dan untuk meratakannya, maka alasnya diberi sekam. Disamping itu untuk menghindari dari kebocoran plastik. Berdasarkan pengalaman 1 boks biofolc dapat berisi 5.000 ekor lele selama 2 bulan pemeliharaan memerlukan biaya operasional antara Rp. 3,2 juta sampai Rp. 4 juta. Hasil panen dari 5.000 ekor mampu menghasilkan antara 5 sampai 6 kuintal. Rata-rata harga jual lele ukuran 8-10 ekor/kg mencapai Rp. 17.500- 20.000,-, sehingga pendapat minimal dari budidaya lele selama 2 bulan sebesar Rp.8,75 juta. Setelah dikurangi biaya operasional Rp. 4 juta ( Rp. 1 juta + Rp. 3,2 juta), maka keuntungan budidaya lele sebesar Rp. 4,55 juta. Bahkan menurut pengalaman pak Tabroni antara biaya operasional dengan keuntungan hampir sama 50 %. Setelah panen boks bioploc dibersihkan dicuci dengan obat anti jamur kemudian dikeringkan selama 4 hari. Setelah itu bols dapat digunakan kembali untuk pembesaran lele. Beberapa keuntungan budidaya lele sistim bioploc ini antara lain tempat budidaya tidak memelukan lahan yang luas dan panen dapat diatur sesuai kehendak kita. Karena budidaya lele tidak terpengaruh oleh musim. Keberhasilan pak Tabroni dalam mengembangkan budidaya lele sitim bioploc ini tidak terlepas dari kemauan yang keras dan selalu membaca / mencari teknologi baru untuk diterapkan di usahanya. Teknologi tesebut didapat baik melalaui media cetak / majalah Trubus ataupun media elektronik internet. Dengan selalu mencari teknologi baru dapat mempengaruhi keberhasilan usaha, permasdalahan dapat diperkecil. Penulis : EDI HARNADI Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu