Budidaya cabai rawit diawali dengan penyediaan benih dengan kualitas yang baik, agar hasil panennya optimal. Benih cabai rawit dapat dibeli dari toko-toko pertanian yang resmi terdekat. Namun, sering di perdesaan mengalami kesulitan memperoleh benih tersebut. Bila sulit mendapatkan bibit cabai rawit yang dijual atau harganya mahal, maka petani dapat membuat benih cabai sendiri dari hasil panen sebelumnya. Untuk mendapatkan tanaman cabai rawit yang seragam, benih perlu dibuat bibit dahulu sebelum ditanam di lahan. Dalam tulisan ini yang disebut benih adalah biji, sedangkan bibit merupakan benih yang sudah tumbuh. Berikut uraian cara membuat benih dan bibit cabai rawit sendiri. Jenis Cabai Rawit Sebelumnya perlu diketahui dahulu jenis/varietas tanaman cabai rawit yang sering ditanam oleh para petani, yaitu; 1) Cabai rawit kecil atau biasanya disebut cabai jemprit, buahnya kecil-kecil, pendek, dan rasanya sangat pedas dibandingkan dengan jenis cabai lainnya; 2) Cabai rawit putih atau cabai rawit domba, ukuran buah lebih besar dari cabai jemprit dan celepik, rasa buahnya kurang enak dan kadang-kadang tidak terlalu pedas; 3) Cabai rawit celepik, memiliki buah lebih besar dari pada cabai jemprit dan lebih kecil dari cabai domba/cabai putih, rasanya tidak sepedas cabai jemprit, kulit buah muda berwarna hijau muda atau terkadang berwarna hijau tua, dan setelah matang berwarna merah padam. Sedangkan jenis benih cabai rawit meliputi varietas lokal, OP, dan hibrida, tetapi biasanya yang dijual di toko-toko pertanian ada dua jenis saja, yaitu OP dan hibrida. OP adalah benih lokal tapi mempunyai berbagai kelebihan. Sedangkan benih hibrida merupakan hasil persilangan dari dua indukan yang berkualitas, sehingga diharapkan anaknya bisa mewarisi dua sifat induknya tersebut. Benih cabai yang dapat dibuat sendiri berupa jenis lokal dan membuatnya melalui berbagai perlakuan khusus agar mendapatkan benih cabai yang berkualitas baik.Cara Membuat Benih Cabai Rawit Petani membuat benih cabai rawit tidak bisa asal mengambil biji dari buah cabai sembarangan, namun perlu dipilih tanaman dan buah cabai yang berkualitas bagus, yaitu: 1) Tanaman cabai rawit yang akan digunakan sebagai indukan dipilih yang seragam (tinggi, bentuk batang, bentuk daun, warna bunga dan bentuk buah cabai); 2) Tanaman cabai rawit yang akan sebagai indukan harus sehat tidak terserang hama penyakit; 3) Tanaman cabai rawit yang akan sebagai indukan harus dirawat dengan baik agar pertumbuhannya optimal; 4) Buah cabai rawit dipilih yang seragam baik bentuk maupun ukuran; 5) Diutamakan buah cabai dari cabang tanaman yang terbawah, karena biasanya benih akan lebih cepat tumbuh setelah disemaikan; 6) Buah cabai dari hasil panen ke-4 hingga ke-6 karena memiliki biji yang optimal, sedangkan hasil panen ke-1 sampai ke-3 jumlah biji masih sedikit dan hasil panen menjelang ahkir panen jumlah biji banyak berukuran kecil-kecil; 7) Buah cabai yang terpilih dipetik setelah kering di pohon atau buah sudah benar-benar masak dan kulit luarnya tampak mengkilap; 8) Lalu buah cabai dipotong secara membujur dan diambil biji yang ada di bagian tengah yang biasanya paling berkualitas, biji bagian pangkal dan ujung buah dibuang; 9) Biji cabai yang dipilih direndam dalam air bersih dan buang biji yang mengambang; 10) Biji yang tenggelam baik untuk benih, lalu dijemur sekitar 3 hari atau sampai kering; 11) Biji yang sudah kering disimpan di tempat yang kering dan ada sirkulasi udaranya; 12) Penyimpanan yang baik benih dapat bertahan sampai 2 tahun. Cara Membuat Bibit Cabai Rawit Benih cabai rawit dibuat bibit sebelum ditanam di lahan akan mendapatkan kelebihan antara lain, tanaman yang akan ditanam di lahan dapat dipilih yang seragam dan sehat agar tumbuh dan berproduksi optimal serta waktu panennya dapat bersamaan. Cara membuat bibit cabai rawit sebagai berikut: 1) Satu minggu sebelum penyemaian, buat bedengan dengan lebar pesemaian 1 - 1,25 m sepanjang sesuai kebutuhan/lahan;2) Bedengan dicangkul dan dibuat media tanam yang terdiri dari campuran pupuk organik, tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1:1; 3) Benih cabai rawit direndam dalam air hangat, kemudian didiamkan selama 12 jam untuk mempercepat perkecambahan, lalu tiriskan; 4) Sebarkan benih secara larikan sepanjang bedengan, jarak antar larikan 3-6 cm, tutup dengan lapisan tanah tipis-tipis; 5) Lakukan pengamatan, penyiraman dan pengendalian OPT selama dipesemaian; 6) Seminggu sebelum memindahkan bibit, polibag berukuran 3 - 5 cm diisi media tanam yang terdiri dari campuran pupuk organik, tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1:1; 7) Setelah terbentuk 2-3 helai daun sempurna atau sekitar 14-16 hari setelah semai, bibit pindahkan benih ke dalam polibag; dan 8) Setelah berumur 20 - 25 hari atau ditandai dengan 5 helai daun sempurna, bibit dapat ditanam pada lahan. Perlu diperhatikan, bahwa benih yang baik mempunyai daya tumbuh sampai 80% dan semakin lama benih disimpan, daya tumbuhnya semakin berkurang, jika daya tumbuhnya kurang 50% sebaiknya jangan digunakan lagi. Selamat mencoba (Penulis: Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Uun Sumpena. Budidaya Cabai Rawit. 2. Setiadi. Jenis dan Budidaya Cabai Rawit. Penebar Swadaya, 2002.3. Dari berbagai sumber.