Tembakau atau Nicotiana Tabacum L, termasuk tumbuhan beracun dan merupakan bahan baku pembuatan rokok kretek disamping cengkeh. tembakau dan juga industry hasil tembakau di Indonesia memeiliki peranan strategis dalam perekonomian nasional dan regional karena merupakan sumber pendapatan Negara, devisa, pendapatan petani, penyediaan lapangan kerja di pedesaan dan perkotaan. Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan dengan luas areal 206.337 ha (data angka sementara 2016, Buku Statistik Perkebunan) dengan produksi menacapai 196.154 ton (daun kering) dengan produktivitas sebesar 989 ton/Ha. Ekspor komoditas tembakau tahun 2015 tercatat sebesar 30.675,47 ton (daun kering) ke berbagai negara diantaranya ke Singapura, Malaysia, Sri Lanka, Jeman, Belgia dan lain-lain. Dari beberapa jenis tembakau, yang banyak dibudiadayakan di Indonesia adalah tembakau Virginia. Agar tanaman tanaman tembakau tumbuh dan berkembang dengan baik, disampaikan cara bercocok tanam tembakau dengan baik sebagai berikut: Cara bercocok tanama. Jenis tanah, jenis tanah yang cocok adalah tanah vertisol, icepticol, entiso, alfisol dan oxisol, tektur tanah lempung berpasir, dan solum tanah untuk pertumbuhan 120-150 cm serta kedalaman air tanah minimal 30cm, pH 5,5 - 6,5;b. Iklim, tembakau dapt tumbuh dengan baik pada ketinggian0-300 diatas permukaan laut dengan suhu udara 27-33ºC;c. Benih, yang digunakan harus memenuhi persyaratan antara lain: mempunyai sifat aslii seperti induknya, benih bernas dan tidak rusak, berat benih 1 gramlebih dari 300 butir/biji, daya kecambah minimal 80% dan bebas hama dan penyakit;d. Pengolahan tanah, dilakukan setelah tanah dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, kemudian tanah dibajak/dicangkul sekurang-kurangnya 3 kali dengan kedalaman tanah 25-30 cm dengan tenggang waktu 1-2 minggu, Kemudian membuat got/saluran pembuangan air untuk membuang kelebihan air. Ukuran got besar 40x40 cm dengan lebar bagian dasarnys 30 cm, sedang ukuran gor kecil 20x20 cm dengan lebar bagian dasarnya 20 cm. Langkah selanjutnya memasang ajir dengan bambu berukuran panjang 50 cm, diameter1 cm dengan jarak 140 cm untuk tanda lebar gulud dan jarak 40 cmsama dengan lebar kalenan (saluran antar gulud), Pembuatan guludan dilakukan dengan mengangkat tanah dibagian kalenan diletakkan diatas tanah sebagai guludan. Arah guludan membujur dari Timur – ke Barat dengan panjang 9-12 m,tinggi 25-35 cm, selanjutnya guludan dibiarkan selama 2 minggu;e. Penanaman, untuk menjamin pertumbuhan tanaman seragam, dianjurkan menggunakan bibit yang seragam umur dan besarnya. Bila bibit ditanam pada waktu kondisi panas/kemarau maka sebelum tanam, lubang tanam disiram air terlebih dahulu.Untuk mencegah serangan OPT, disekitar lubang tanam ditaburi furadan 3G dengan dosis 2 gramtiap lubang tanam. Waktu tanam sebaiknya dilakukan pada sore hari.f. Waktu tanam, dapat dimulai pada awal musim kemarau untuk menghindari genangan air dan paling lambat 12 dasarian sebelum akhir musim kemarau;g. Jarak tanam, disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah, sedangkan jarak tanam umum yang dianjurkan adalah 45-60 cm x 90-140 cm. Pemeliharaana. Pemupukan, pada tanah berat (vertisol), kebutuhan pupukN:40-45kg/ha atau dengan ZA 200-250 kg/ha, Pupuk P dapat diberikan sebelum atau menjelang tanam, sekitar 70 kg (pupuk P205), kebutuhan pupuk K dapat diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk N yaitu dengan memberikan pupuk ZK atau KNO3 atau pupuk yang lain. Pada tanah ringan kebutuhan, pupuk N sebesar 60-70 kg N/kg yang diberikan sebanyak 2 kali.Bila curah hujan hujan tinggi, dapat diberikan lagi pupuk N sebanyak 10-15 kg/ha, pupuk P sebanyak 45 kg/ha, pupuk K 150-200 kg/ha dan pupuk Mg sebanyak 30 kg/ha.; b. Air, kebutuhan airpada tanaman tembakau agar hasil yang diperoleh berkualitas bagus, selama pertumbuhan kadar air yang diperlukan sebesar 400 – 600 mm.;c. Penyiangan, dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu, dengan mencangkul tanah disebalah kiri dan kanan barisan tanaman dengan kedalaman 20 cm. Penyiangan kedua dilakukan setelah tembakau berumur 4 minggu dengan jarak 10 cm dari tanaman kemudian dilakukan pembubunan serta pendalaman kelenan sehingga guludan tanah lebih tinggi. Selanjutnya penyiangan ke III dilakukan pada saat tanaman menjelang panen;d. Pemangkasan/toping dan penyirungan/wiwil, dilakukan pada saat tanaman menghasilkan karangan bunga atau satu kuncup bunga telah mekar, 4-5 lembar daun dari bundel bunga ikut diambil saat dilakukan toping dan disisakan 18-23 lembar dauntermasuk daun kaki. Pemangkasan dapat menyebabkan 3-4 sirung pada ketiak daun teratas tumbuh sangat cepat.Tiap ketiak daun berpotensi menghasilkan,3sirung yang tumbuhnya berurutan. Tunas ketiak daun yang tumbuh akibat pemangkasan/toping harus dibuang (diwiwil) dengan tenggang waktu 5 hari; Pengendalian OPT Beberapa hama yang sering menyerang tanaman tembakau adalah ulat grayak (Spodoptera litura), ulat daun (Helicoverpa armigera), ulat pupus (Helicoperpa asulta) dan kutu daun (Aphis sp), sedang jenis penyakit yang banyak dijumpai adalah penyakit lanas (Phytopthora nicotianae var nicotianae), TMV (Tobaco Mozaik Virus), virus krupuk (Ruga tabacci) dan penyakit layu bakteri (Xanthomonas solanacearum).Pengendalian lanas dan virus sulit dilakukan yang efektif menggunakan varietas tahan seperti varietas DB 101 tahan lanas, Coker 178 tahan TMV. Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan cara sanitasi, penggunaan bibit sehat, membuat guludan tinggi, draenasi baik dan menyemprotkan fungisida pada pangkal batang.. Panen dan pasca panena. Panen, pemetikandaun harus dilakukan pada saat yang tepat masak dengan criteria: helaiandaun berwarna hijau kekuningan,tangkai dantulang daun berwarna keputihandan bila daun dipetik berbunyi nyaring. Pemetikan daun tembakau dalam satu musim dilakukan 5-7 kali tergantung dari jumlah dan tingkat ketuaan daun. Tingkat kemasakan daun tembakau dapat dibagi menjadi tiga kelas yaitu kurang masak, tepat masak dan kelewat masak. Kurang masak dengan ciri: 1) kandungan kloropil masih terlalu tinggi, sehingga pada fase penguningan sulit menjadi kuning sehingga diperoleh krosok yang kurang cerah; 2) fasepenguningan memerlukan waktu lebih lama sehingga boros bahan bakar; 3) mutu krosok lebih rendah. Ciri daun kelewat masak:1) warna krosok tidak rata; 2) krosok rapuh atau kurang elastic; 3) bobotkrosok atau rajangan tembakau lebih rendah.b. Pasca panen, daun yang telah dpanen segera diangkut ketempat pengolahan. Pengangkutan daun dengan cara digulung menggunakan karung agar tidak sobek, diameter gulungan 50cm dan berat 35-40 kg tiap gulungan daun Pengangkutan daun dari lahan ketempat pemrosesan dilakukan dengan hati-hati jangan sampai merusak daun. Daun dapat pula diangkut dengan keranjang tanpa diikat. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Dihimpun dari beberapa sumber