Bertanam Lada di Kebun Kelapa SawitHarga lada pada saat ini sangat fluktuatif, sehingga menyebabkan pendapatan petani lada menjadi tidak menentu, terutama petani yang memiliki lahan yang sempit. Dengan kondisi ini, salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas lahannya dengan mengembangkan pola tanam karet + lada. Bagi petani lada yang pemilikan lahannya terbatas, pada saat ini ingin mengembangkan komoditas yang memiliki nilai jual yang tinggi dan stabil. Berdasarkan kondisi ini, beberapa petani yang pemilikan lahannya tidak terlalu luas, mulai mengembangkan dua komoditi tersebut, yaitu dengan menanam lada sebagai tanaman panjat di pohon kelapa sawit (tumpangsari). Ada pun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut :1. Jarak tanam sawit adalah 9x9 meter. Minimal 8x9 meter.2. Jenis tanah kebun adalah tanah darat kering/tanah mineral, bukan gambut apalagi rawa. Tanaman lada tidak toleran pada cekaman air dan ph tanah yang terlalu asam. 3. Tinggi batang bersih sawit sebaiknya sudah ada 6 meter. Biasanya hal ini tercapai pada usia tanam 15 tahun.4. Sebagian tegakan pohon sawit sudah tumbang akibat serangan busuk pangkal batang atau sebab lainnya.Satu tegakan pohon sawit ditumpangsarikan dengan dua bibit lada. Berdasarkan penelitian, tanaman lada tumpangsari pada kebun sawit akan menghasilkan buah lada yang lebih sedikit dari pada yang ditanam di lapangan terbuka, tetapi didapati bahwa serangan jamur penyebab busuk pangkal batang dan penyakit kuning pada lada tanaman mereka sangat jauh berkurang. Patut dicatat bahwa, jamur penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman lada bukanlah ganoderma boninense, tetapi adalah fusarium oxisporum dan fusarium solani.Cara menanam lada di kebun kelapa sawit itu adalah sebagai berikut :Mula-mula petani membuat atau membeli bibit lada panjat atau lada sulur. Bibit lada umur 4 bulan itu lalu dipelihara lagi di dalam polibag ukuran 20x25 cm, diberi tiang tajar sementara sampai tingginya satu meter. Biasanya hal ini tercapai dalam masa 4 bulan. Artinya, bibit yang ditanam ke lapangan adalah bibit lada yang berumur 8 bulan. Petani lalu membuat lubang tanam ukuran 30x30x30 cm sebanyak 2, 3 sampai 4 buah di sekeliling tegakan kelapa sawit. Jarak antar batang sawit dengan titik tanam lada adalah 70 cm. Parit kecil dibuat antara lubang tanam dengan pangkal batang sawit. Ke dalam lubang tanam dimasukkan media tanam berupa 2 kg sekam padi, 4 kg pukan fermentasi, 1 kg dolomit dan 100 gram pupuk NPK Phonska. Metan lalu diaduk dengan tanah galian secukupnya saja, dimasukkan ke dalam lubang tanam lalu dibiarkan seminggu sampai sepuluh hari. Bibit lada lalu ditanam dengan posisi miring ke arah batang sawit. Sulur lada dimasukkan ke dalam parit kecil lalu juga ditimbun. Ini untuk mencegah sulur lada rusak saat panen TBS (Tandan Buah Segar) atau saat penunasan pelepah sawit. Sisa sulur lada yang sepanjang 30 cm akan berada tepat bersisian dengan pangkal batang sawit. Sulur ini akan memanjat batang sawit dan dijadikan inangnya. Perinangan ini dalam dunia biologi dikenal dengan istilah simbiosis komensalisme, dimana salah satu tanaman diuntungkan tetapi tanaman yang lain tidak dirugikan. Jika bibit lada dulunya dibesarkan di tempat teduh, maka sulur lada yang terlihat harus diberi peneduh, biasanya berupa pelepah daun sawit yang ditancapkan ke tanah. Tetapi jika bibit lada dulunya dibesarkan di tempat yang terbuka, maka peneduh tidak dibutuhkan. Selanjutnya perawatan tanaman lada tumpangsari ini sama saja seperti perawatan tanaman lada lainnya. Pada titik dimana tegakan kelapa sawit sudah tumbang, maka petani menggantikannya dengan tajar hidup berupa tongkat setinggi 150 cm . Jenis kayu biasanya adalah lamtoro, dadap, gamal atau sengon. Tongkat kayu segar yang ditancapkan tadi akan tumbuh lebih cepat dari pada tanaman lada, karena lada memang termasuk tanaman yang pertumbuhannya sedikit lambat. Tongkat kayu lalu dipangkas saat mencapai ketinggian 3 - 4 meter. Pemangkasan selanjutnya adalah setiap 6 bulan, dengan mempertahankan ketinggian tajar hidup.Tanaman lada tidak rusak ketika panen TBS, ketika jatuh, jarang sekali ia jatuh dengan menggelinding di sepanjang batang kelapa sawit. Biasanya TBS akan terjun bebas berjarak 50 - 100 cm dari batangnya. Jarak ini sudah cukup aman buat menghindarkan kerusakan pada tanaman lada.Pemupukan unsur N dikurangi sementara unsur P diperbanyak. Phosphat memang dikenal sebagai pupuk pembuahan. Tanaman yang cukup mendapat phosphat juga diketahui akan lebih tahan terhadap serangan jamur patogen.Apapun argumen teoritis yang membantah, tetapi faktanya sudah ada petani yang berhasil membudidayakan lada pada kebun kelapa sawit. Mereka menikmati tambahan penghasilan sebesar 123 kg biji lada putih kering x rp.130.000 = Rp.16.000.000 /tahun /hektarnya (60% dari penghasilan panen TBS). Jika banyak petani sawit yang mau menanam lada sebagai tumpangsari pada kebun sawitnya, maka tak pelak lagi, revolusi pertanian di Indonesia akan terjadi secara besar-besaran. Penghasilan petani akan kian terdongkrak, daya belinya meningkat, lalu kesejahteraan hidup para petani tak lagi sulit untuk diraih. Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat-obatanan, Bogor (Balitro-Bogor)Foto : Balitro-Bogor