Tanaman teh selain menghasilkan daun yang bermanfaat sebagai bahan minuman juga menghasilkan biji. Salah satu bahan bakar nabati yang telah dikembangkan adalah biodiesel, yang memiliki karakteristik mendekati bahan bakar yang berasal dari minyak bumi. Selain itu juga mempunyai kelebihan terutama efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan diantaranya rendah emisi bahan pencemar, bio-degradable dan tidak beracun serta terjaminnya produktiitas sepanjang waktu karena bahan baku utamanya bersifat dapat diperbaharui.Teh merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang pemanfaatannya hingga saat ini masih terbatas pada bagian akar, batang dan daun sedangkan bagian buahnya selama ini belum dimanfaatkan secara optimal hanya sebagian kecil digunakan untuk pembibitan, padahal di dalam buah teh ini terdapat biji teh yang memiliki potensi besar sebagai bahan bakar nabati. Buah teh berukuran diameter berkisar 1-5 cm, biasanya berarna hijau zaitun dengan kulit tempurung yang tebal dan keras, sedangkan biji teh berwarna cokelat tua. Luas areal penanaman teh pada tahun 2013 sebesar 125.373 hektar di mana setiap hektar memiliki 10.000-14.000 batang dan dalam satu batang dapat menghasilkan buah dan biji teh sebanyak 8-12 kg/tahun.Memang tidak semua tanaman teh dapat di ambil bijinya dikarenakan tanaman teh yang di petik pucuknya tidak mampu menghasilkan biji. Biji teh dapat diperoleh dari kebun plasma nutfah dan dari perkebunan teh rakyat yang tanamannya kurang dipelihara (pemangkasan dan pemetikan tidak dilakukan dengan baik) sehingga tanaman teh tetap menghasilkan biji. Pemanfaatan biji teh sebagai bahan baku untuk biodiesel dianggap sebagai alternatif solusi untuk mencukupi kebutuhan konsumsi energi dunia yang semakin meningkat selain untuk memanfaatkan biji teh yang selama ini tidak digunakan. Biji teh memberikan beberapa keuntungan diantaranya : potensi produksi yang besar dalam jangka waktu panjang, sistem budidaya yang mudah, dan tidak bersinggungan dengan ketahanan pangan.Proses produksi biodiesel umumnya melalui proses ekstraksi, pemurnian dan transesterifikasi minyak menjadi biodiesel. Untuk menghasilkan minyak biji teh dengan memvariasikan suhu pemanggangan biji teh di mana hasil rendemen minyak biji teh tertinggi diperoleh pada suhu pemanggangan ? 95 0C dengan frekuensi pengepresan ? 14 kali berkisar 65,38 – 73,23 %. Hal ini disebabkan suhu pemanggangan yang tinggi mampu membuka pori-pori matriks inert sehingga memudahkan minyak untuk berdifusi keluar. Konversi biodiesel yang dihasilkan dari 50 g minyak biji teh dan 10 g metanol sebesar 40 ml. Biodiesel yang dihasilkan memiliki bilangan asam 0,354 mh KOH-g, berat jenis 0,888 kg/L, titik nyala (flash point) sebesar 87 0C, angka penyabunan sebesar 191,49 dan nilai kadar ester alkil sebesar 97,32 %. Hasil uji tersebut telah memenuhi syarat SNI 8017 hanya saja nilai titik nyala yang dihasilkan masih di bawah syarat mutu SNI (minimal 100 0C). Penyebabnya bisa dipengaruhi oleh beberapa kemungkinan diantaranya masih terdapat zat pengotor lainnya yang belum terpisah sempurna. Jadi masih perlu kajian lebih mendalam agar memenuhi persyaratan mutu yang diharapkan. Di tulis kembali oleh : Harnati Rafiastuti, SP Sumber Bacaan : 1. M.Sultoni Arifin, Dr. dkk. 1992. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Teh. Pusat Penelitian Perkebunan Gambung. Bandung.2. Rokhmah, DN dan Ifah, Tajul. 2014. Potensi Minyak Biji Teh Sebagai Bahan Bakar Nabati. Info Tek Perkebunan. Puslitbangbun.3. http://budidayanews.blogspot.co.id/2011/04/budidaya-tanaman-teh.html.4. Sumber gambar berasal dari id.wikipedia.org