Bimbingan Teknis Penggunaan Alsintan Power Tresher di Kecamatan Tampaksiring Oleh : Kikin Yuswono, S.P. Penyuluh Pertanian Pertama di Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar Saat musim panen raya, petani seringkali kesulitan mendapatkan tenaga buruh panen, karena hampir semua buruh panen menjadi rebutan petani untuk segera memanen padinya. Sementara apabila petani memanen sendiri dengan dibantu tenaga anggota keluarga saja, akan menjadi lama dan semakin banyak kehilangan hasil akibat bulir-bulir padi banyak yang rontok karena umur panen yang terlalu tua. Apalagi di Bali umumnya dan Gianyar khususnya, pada saat ada upacara-upacara keagamaan ataupun upacara-upacara adat, petani hampir tidak mempunyai cukup waktu untuk memanen padinya, akibatnya padi terlambat dipanen. Salah satu jalan agar padi tidak terlambat dipanen, padi di areal sawah mereka tebaskan/ dijual kepada tengkulak yang tentunya akan berpengaruh pada penghasilan petani. Oleh karena itu, subak mencoba mencari cara agar panen padi tidak terlambat akibat kesulitan tenaga panen, yaitu dengan cara mengajukan bantuan alat mesin pertanian power tresher kepada Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Setelah bantuan power tresher didistribusikan kepada subak, maka agar bantuan tersebut dapat berguna dan dimanfaatkan, perlu adanya pelatihan atau bimbingan teknis penggunaaanya. Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Alat Mesin Pertanian (Alsintan) power tresher pada Rabu, 2 Desember 2020 bertempat di Subak Selasih Sanding Desa Sanding Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Bimtek diikuti oleh 5 kelompok tani/ subak penerima alsintan power tresher dan PPL pendamping wilayah binaan masing-masing. Bimtek dibuka oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, I Wayan Suwarta, S.P., M.Si. Turut hadir pada kesempatan itu, Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Bidang Tanaman Pangan Ida Bagus Putu Purnama, S.Pt., M.Si., Kepala Seksi Perbenihan dan dan Perlindungan Tanaman Pangan Ir. I Wayan Nujana, Koordinator BPP Kecamatan Tampaksiring, I Wayan Sandi, S.P. Dalam pengarahannya, I Wayan Suwarta, S.P., M.Si., mengatakan bahwa kelompoktani/ subak diharapkan dapat mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya agar ilmu yang didapat dari kegiatan ini nantinya dapat dipraktekkan dan ditularkan kepada anggota kelompoktani/ subak lainnya. Pesan beliau, bantuan alsintan yang sudah diterima agar dimanfaatkan sebaiknya dan dirawat secara rutin dan berkala. Jangan sampai alsintan dibiarkan/ mangkrak tidak digunakan. “Lebih baik alsintan rusak karena digunakan, daripada rusak karena karatan akibat mangkrak” tuturnya. Selepas pengarahan dari Kepala Bidang TPH, dilanjutkan pemberian materi Bimtek dari CV. Kawan Tani selaku penyedia bantuan alsintan power tresher di Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar Tahun 2020. Budi Santoso, teknisi dari CV. Kawan Tani menyampaikan teknik-teknik penggunaan alsintan power tresher dan bagaimana melakukan perawatan secara rutin dan berkala. “Yang perlu diperhatikan adalah penggantian oli secara rutin. Maksimal 100 jam pemakaian harus diganti. Bukan hari pemakaian, karena itu, perlu dicatat setiap kali power tresher ini digunakan, sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam penggantian oli mesin.” ungkap Budi Santoso. Setelah pemberian materi dilanjutkan tanya jawab/ diskusi. Selesai acara diskusi dilanjutkan praktek penggunaan alsintan power tresher sekaligus diskusi mengenai penggunaan alsintan. “Kami sudah menggunakan dores (baca: power tresher) ini 5 kali di tempat yang berbeda. Selama ini belum ada kendala berarti. Hanya waktu itu sempat macet, berhenti tidak mau mutar mesin perontoknya. Kami buka penutup perontoknya, banyak somi (baca: jerami) yang tersangkut di dalam. Ini karena, kami waktu itu memotong jerami terlalu panjang. Sama seperti saat jerami mau digedig (baca: digepyok/ dirontokkan)” tutur I Made Suradnya, Pekaseh Subak Lawas Desa Sanding. “Jadi untuk memotong jerami padi itu tidak sama dengan memotong jerami saat mau dirontokkan dengan alat perontok manual/ tradisional. Harus lebih pendek dari saat memotong jerami biasanya.” tegas Budi Santoso. “Saat memasukkan jerami ke dalam mesin perontok ini, juga tidak harus banyak-banyak. Sedikit-sedikit, perlahan dan sambil memperhatikan suara mesin. Nanti setelah terbiasa, akan tahu dan paham, berapa banyak dan bagaimana cara memasukkan jerami ke dalam mesin perontok ini.” lanjutnya. Diharapkan dengan dilaksanakannya Bimtek ini, kelompok tani/ subak dapat mengelola alsintan power tresher yang diterima dengan baik. Adanya alsintan ini menjadi pemicu transformasi teknologi kepada petani menuju pertanian yang lebih modern, efektif, dan ramah lingkungan. Teknologi mekanisasi tersebut harus mencakup dari hulu sampai hilir sehingga tidak hanya meningkatkan produksi, akan tetapi kesejahteraan petani. Bagi petani yang mempunyai hamparan sawah yang luas, penggunaan alsintan modern sangat membantu karena efisien dan menghemat ongkos atau biaya operasional saat panen. Sebelum menggunakan power tresher, seorang petani yang memiliki sawah seluas 50 are (1 are setara 100 m2) membutuhkan 5 - 7 orang tenaga pemotong tanaman padi serta empat orang yang bertugas merontokkan bulir padi. Dan harus mengeluarkan ongkos untuk 9 - 11 orang tenaga kerja tersebut. Akan tetapi jika menggunakan alsintan power tresher petani tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk tenaga pemotong padi maupun merontokkan bulir padi karena cukup membayar biaya operasional mesin pemanen padi. Sementara jika secara manual, tanaman padi yang telah dipotong kadang didiamkan dulu hingga dua malam sehingga akan berdampak pada warna butiran berasnya menjadi kuning. "Apalagi kalau musim hujan, bisa (didiamkan) sampai tiga malam," tutur salah seorang peserta bimtek. Kendati demikian, penggunaan alsintan modern memberikan dampak sosial karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan lapangan kerja sebagai tenaga pemotong maupun perontok padi sehingga hal itu menjadi kendala di lapangan. Salam ! Sumber: dari berbagai sumber