Hidroponik, suatu sistem pertanaman yang sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat perkotaan. Dimana, penarapannya menggunakan metode budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa media tanah yang menekankan terhadap pemenuhan kebutuhan hara dan nutrisi bagi tanaman tersebut. Istilah petani millenial, yang kerap sekali menjadi perbincangan hangat dalam melakukan sistem pertanaman tersebut. Terbukti, seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini, memaksa hampir seluruh petani khususnya pedesaan harus berinovasi agar memaksimalkan setiap hamparan lahan yang dimiliki baik lahan sawah, tegalan bahkan pekarangan yang sejatinya melekat dengan rumah. Jika hidroponik terkenal dengan image pertanian perkotaan, maka tidak menutup kemungkinan sektor pedesaan juga mampu melakukan hal tersebut. Selain faktor kemudahan, tujuan lainnya adalah pemanfaatan lahan pekarangan, pemenuhan gizi dan nutrisi untuk keluarga serta jaminan mutu terhadap produk pertanian yang akan kita olah, khususnya tanaman sayuran. Tantangan tersebutlah yang menjadi cikal bakal Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bluto-Sumenep mendedikasikan kegiatan “Bimbingan Teknis Pelatihan Budidaya Sayuran Hidroponik” pada hari Selasa, 16 Februari 2021. Terdapat 20 desa yang ada di Kecamatan Bluto, sehingga para penyuluh harus mampu secara merata dalam merubah, memberikan informasi dan memberdayakan agar mereka mau dan mampu mengorganisasikan diri dan keluarganya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, kesejahteraan dan peningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan. Tepat jam 09.00 WIB sebanyak 20 Kelompok Wanita Tani (KWT) se-kecamatan Bluto yang merupakan sasaran utama memenuhi undangan dalam kegiatan tersebut. Dimana pada dasarnya, lahan pekarangan, manajemen kebutuhan nutrisi dan jaminan mutu terhadap diri dan keluarganya sangat identik dengan wilayah kekuasaan wanita. Hal ini tentu diawali proses demi proses yang harus dilakukan dalam mengubah perilaku, sikap dan keterampilan mereka dalam mengadopsi suatu pembelajaran baru terkait hidroponik. Melalui sambutan pengarahan dan pembukaan oleh Bapak Sa’dawi Jayadi, SP selaku Koordinator Penyuluh Pertanian (KORLUH) Kecamatan Bluto, mengungkapkan “Saya sangat bersyukur kegiatan bimbingan teknis ini terlaksana, harapannya akan terjadi keberlangsungan nanti. Tujuannya selain meningkatkan silaturrahim, akan senantiasa terjalin sharing hearing antara pelaku utama dengan PPL. Minimal satu bulan satu kali.” Tuturnya dengan tegas dan bijak. Kegiatan tersebut semakin semangat dan meriah dengan hadirnya Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, Bapak Arif Firmanto, S.TP, M.Si. Semangat antusiasme, senantiasa terpatri dari partisipasi peserta dalam mengambil peran pada saat pelatihan berlangsung. “Saya sangat mendukung penuh dan mengapresiasi terhadap kegiatan ini, kedepannya bisa diadakan pelatihan lanjutan dengan tema yang berbeda.” Tuturnya dengan penuh wibawa. Selain itu, beliau juga sangat terbuka memberikan semangat kepada peserta dan melakukan jajak pendapat terkait kegiatan-kegiatan KWT dan kendala-kendala yang dihadapi. Diawali dengan materi penyemaian sayuran (phakcoy dan selada) di media rockwool hingga pembuatan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dalam sistem pertanaman hidroponik, memberi kesan positif untuk sebagian besar peserta. Pertanyaan demi pertanyaan satu persatu terlontar mulai dari pemenuhan alat dan bahan dari mana, perbedaan pupuk jika diletakkan ditanah, usia pindah tanam bahkan muncul usulan agar BPP menyediakan segala alat dan bahan yang dibutuhkan hidroponik. Tujuan utamanya tidak lain untuk mempermudah pelaku utama dan pelaku usaha. “Betul sekali, jadi sangat menyenangkan jika kita memiliki kebun sendiri. Perawatannya juga tidak sulit dan pemenuhan nutrisi sayuran bisa kami dapatkan dengan mudah tanpa membeli di luar” ujar salah satu kelompok dengan sumringah. Menanggapi hal tersebut memicu semangat para penyuluh pertanian di Kec. Bluto untuk lebih meningkatkan inovasi dan pengembangan dari berbagai aspek baik dari sumberdaya alam dan manusia serta potensi di wilayah tersebut. Harapan besarnya, dengan sinergitas antara petani (pelaku utama) dan penyuluh pertanian mampu memberi nuansa baru dalam pengembangan pertanian di Kabupaten Sumenep. Saling melengkapi dengan satu tujuan yang menjadi utama yaitu mendorong berkembangnya petani millennial dan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat. NAZILATUR ROHMAH PPL Kecamatan Bluto