Loading...

Biosekuriti Tiga Zona Pada Lokasi Usaha Peternakan Unggas

Biosekuriti Tiga Zona Pada Lokasi Usaha Peternakan Unggas
Salah satu sebab munculnya virus H5N1 atau Flu Burung yang menyerang unggas di Indonesia pertama kali pada tahun 2003 silam, disebabkan kurangnya kesadaran para peternak menjaga kebersihan peternakan mereka. Untuk mencegah hal tersebut terulang, sejumlah peternakan ayam di Indonesia mulai menerapkan biosekuriti tiga zona yang direkomendasikan organisasi pertanian dan pangan dunia, The Food and Agriculture Organization (FAO). Cara penerapannya, peternakan dibagi dalam tiga zona dengan menjaga standar kebersihannya semakin ketat. Area tersebut mencakup zona merah atau kotor, zona kuning untuk persiapan, dan zona hijau atau zona bersih untuk produksi. Zona Merah Zona merah adalah seluruh dunia di luar area peternakan (a) Seluruh dunia di luar peternakan adalah kotor, penuh dengan virus dan bakteri yang ingin membunuh ayam. (b) Lokasi penerimaan dan membersihkan segala peralatan yang berhubungan dengan kegiatan peternakan Zona Kuning Zona perpindahan yang dimaksudkan adalah : (a) Area antara dunia luar yang kotor (merah) dan area bersih tempat ayam hidup (hijau) (b) Akses terbatas hanya bagi kendaraan atau peralatan yang diperlukan (c) Hanya orang yang sudah mandi dan berganti pakaian dan alas kaki zona kuning yang boleh masuk. (d) Lokasi penyimpaini merupakan tempat penyimpananan peralatan yang sudah bersih dan kering. Zona Hijau Area paling bersih di dalam peternakan ; (a) pekerja yang ditugaskan dan sudah berganti pakaian dan alas kaki zona hijau yang boleh masuk (b) Hanya peralatan penting yang boleh masuk (c) Tidak ada pengunjung yang boleh masuk (d) Egg tray/kotak telur dari luar tidak boleh masuk (e) Sekali masuk, kendaraan tidak boleh keluar lagi Manfaat dari Konsep Biosekuriti Tiga Zona antara lain adalah ; (a) membantu peternak untuk dapat melaksanakan biosekuriti dengan mudah di peternakannya, sehingga dapat mencegah perkembangan kuman penyakit ternak (b) produktivitas ternak relatif stabil. (c) menurunkan penggunaan antibiotik dan disinfektan. Umumnya peternak masih serampangan saat memberi antibiotik untuk ternaknya. (d) dengan terjadinya pengurangan penggunaan antibiotic, maka akan menurunkan residu pada ternak. Konsep Biosekuriti yang selama ini dianngap sulit dan mahal untuk dilakukan ternyata dapat dilaksanakan secara mudah dan dengan biaya yang murah, penerapan konsep Biosekuriti tiga zona ini tidak hanya dilaksanakan pada perusahaan besar saja namun juga dapat dan sangat dianjurkan untuk peternak kecil sehingga dapat meningkatkan standar kesehatan ternak dan lingkungan dan juga dapat meningkatkan produktivitas usaha peternakan yang dilaksanakan. (Penulis: Vesmotanilda Penyuluh Pertanian Nagari Limo Kaum II)