BPP Kotim Komando Strategis Pembangunan Pertanian atau yang lebih dikenal dengan Kostratani adalah gerakan pembangunan pertanian di tingkat kecamatan dengan mengoptimalkan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di era digital 4.0 dalam mengelola pertanian nasional melalui pendekan teknologi informasi (IT) dan mekanisasi pertanian. Untuk mempercepat terwujudnya tujuan ini, Kementerian Pertanian RI melalui Proyek Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN) Integrated Parcticipatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP) menggelar Training Of Facilitator (TOF) Pelatihan BPP Kostratani di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi, Bogor (29-2/4). Kegiatan yang mengundang 40 daerah di Indonesia yang mendapat proyek IPDMIP ini mengangkat tema “Pemupukan Berimbang Tingkatkan Produktivitas dan Daya Saing Pertanian” selain offline, diselengarakan secara online yang diiikuti seluruh BPP se Indonesia.inas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Kabupaten Tanggamus tidak mau ketinggalan dalam peran aktifnya. Tiga penyuluh pertanian lapangan diutus ke Bogor mengikuti TOF ini. Mereka adalah Peni Joko Pitoyo, SST, Koordinator BPP Klumbayan Barat, Roni Sepriyono, SP, Koordinator BPP Kota Agung Timur dan Eriyanto MZ, SP, Kelompok Jabatan Funsional DKPTPH. Panitia pelaksana Dr. Ir Leli Nuryati melaporkan, TOF ini bertujuan melatih para tenaga fasilitator tiap daerah untuk mewujudkan BPP sebagai Kostratani. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP ini. Ir. Leli mewajibkan pelaksanaan pelatihan menerapkan protokol kesehatan atau prokes yang ketat. Prof. Dedi Nursyamsi menguatkan pernyataan Ir. Leli Nuryati . “ Para penyuluh adalah kunci utama keberhasilan Kostratani, sesuai tema kegiatan ini penyuluh mampu mensosialisakan ke para petani seluruh Indonesia untuk bijaksana dalam kegiatan pemupukan atau yang disebut dengan pemupukan berimbang,” terangnya. Pemupukan berimbang, lanjut Prof. Dedi adalah memberikan pupuk secukupnya, sesuai jenis tanaman , menyesuaikan status hara dan target produksi yang akan dicapai. “Sebelum pemupukan dilakukan, tanah yang sehat wajid diciptakan, karena ini kuncinya,” tegasnya. “Tanah sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat. Tanaman sehat akan menghasilkan hasil panen yang sehat. Hasil panen sehat akan menghasilkan makanan yang sehat. Makanan yang sehat akan menghasilkan manusia manusia yang sehat. Dan manusianya sehat, Negara akan kuat.” Oleh Roni Sepriyono, SP