Loading...

Budi Budidaya Padi Hemat Air

Budi Budidaya Padi Hemat Air
Terjadinya kerusakan daerah aliran sungai (DAS) serta perubahan iklim global berdampak semakin langkanya ketersediaan air tanah untuk pertanian. Perubahan iklim global ini ( el-nino dan la-nina) mengakibatkan terjadinya kekeringan pada musim kemarau (musim kemarau terlalu lama) dan kebanjiran pada musim hujan (intensitas hujan yang tinggi) .Air merupakan factor sensitif yang dibutuhkan tanaman, terlebih lagi bagi tanaman padi sawah irigasi. Kelangkaan air ini mengakibatkan antara lain : 1) Produksi padi akan turun karena luas areal tanam berkurang, kebutuhan tanaman akan air tidak terpenuh. seperti beras yang merupakan makanan pokok bangsa Indonesia, sekitar 70% produksi padi nasional berasal dari padi sawah beririgasi (jadi kelangkaan air pada padi sawah irigasi akan sangat mempengaruhi ketersediaan pangan pokok bangsa Indonesia); 2) kelangkaan ini juga mengakibatkan penggunaan air akan sangat kompetitif yang dapat berpengaruh negative terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan dapat memicu konflik antar sektor dan antara daerah yang berada dalam kawasan DAS.Menghadapi masalah semakin langkanya keterdesidiaan air ini dengan segala akibatnya terutama dalam penyediaan pangan pokok beras, diperlukan upaya pemanfaatan air secara efesien dan upaya pelestarian sumber daya air. Penggunaan air irigasi secara efesien dapat dilakukan dengan budidaya yang sesuai dan perbaikan sistem irigasi yang dapat menghemat penggunaan air. Budi budidaya yang sesuai terutama dalam pelaksanaan kegiatan antara lain:1. Pengolahan tanah . Pengolohan tanah bertujuan untuk melumpurkan tanah. Pelumpuran yang terus menerus menghasilkan lapisan kedap air beberapa sentimeter dibawah permukaan tanah. Lapisan ini menahan perkolasi (infiltrasi) air kedalam tanah, sehingga air dapat lebih lama tergenang dipermukaan.2. Varietas yang berumur sedang/pendekKebutuhan air harian tanaman padi dari berbagai fenotipe dari sejak fase vegetatitif sampai fase produktif tidak berbeda. Umur tanaman menentukan perbedaan konsumsi air tanaman. Varietas Cisadane yang berumur panjang mengkonsumsi air lebih banyak dari varietas Cikapundung dan IR54 yang berumur sedang. 3.Tabur benih langsung. Tabur benih langsung (tabela) pada tanah yang diolah kering atau gogorancah mempercepat waktu tanam dan waktu panen padi. Karena tanah tidak dilumpurkan, maka konsumsi air dapat dihemat 2.400 – 3.000 m³/ha. Tabela pada tanah yang dilumpurkan juga mempercepat waktu tanam dan panen ( menghemat tenaga kerja 30%), menghemat konsumsi air karena tidak perlu penggenangan (land soaking), sementara menuggu bibit dicabut dari persemaian, seperti diterapkan pada system tanam pindah. 4. Tanpa Oleh Tanah (TOT). TOT bisa diterapkan bila ketersediaan air di waduk sangat terbatas. Persyaratan TOT adalah (a) tanah mudah melumpur (self pudding), (b) herbisida pratumbuh harus digunakan dan (c) varietas padi mempunyai laju pertumbuhan vegetative cepat harus ditanam.5. Optimasi kelengasan tanahJenis tanah tertentu memilliki kemampuan menahan air (water holding capacity). Tanah bertekstur lempung berliat memiliki kemampuan menahan air tertinggi. Kemampuan tanah menahan air dapat ditingkatkan dengan pemberian bahan organik dan pembenah tanah (soil condisioner).Mulsa jerami dan sisa-sisa tanaman menekan evaporasi sehingga dapat mempertahankan kelengasan tanah (lembab) dalam waktu lebih lama dan dimanfaatkan oleh akar tanaman Sumber : Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian-Kementerian Pertanian Gambar: http://www.pupukkelapasawit.com/cara-menanam-padi http://ekonomi.inilah.com/read/detai (irigasi)Penulis : Marwati (Penyuluh, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP-KEMENTAN)