Loading...

budidaya bawang merah di desa sungai geringging

budidaya bawang merah di desa sungai geringging
bawang merah (allium cepa var ascolanicum) termasuk tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi, mempunyai banyak mamfaat dan mempunyai prospek pasar yang baik, hal ini tidak terlepas karena masyarakat indonesia mengkonsumsi sepanjang tahun, karena itu ketersediaan secara kontiniu mutlak diperliukan. pemerintah kabupaten kampar pada tahun 2013 melalui berbagai terobosan dalam upaya mewujudkan 5 pilar pembangunan kabupaten kampar yang dikerucutkan menjadi 3 zero, yaitu zero kemiskinan, zero pembangunan dan zero rumah kumuh, salah satunya melaksanakan terobosan tersebut adalah pilot proyek budidaya bawang merah di desa sungai geringging kecamatan kampar kiri, dalam upaya menjadikan kabupaten kampar sentral produksi bawang merah di pulau sumatra. disini balai penyuluhan pertanian (bpp) kecamatan kampar kiri mempunyai peran melaksanakan transfer teknologi budidaya bawang merah dalam upaya mensosialisasikan, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap para pelaku utama dan pelaku usaha. syarat tumbuh : bawang merah menghendaki ketinggian tempat 0 – 1000 mpl tekstur tanah remah, sedang sampai liat. berdrainase baik, memiliki bahan organik yang cukup menghendaki ph tanah 5,5 – 6,5 persiapan sarana produksi sebelum melakukan budidaya bawang merah, sebaiknya sarana produksidipersiapkan terlebih dahulu terutama umbi/bibit : umbi/bibit dipilih variatas unggul seperti bima, manjung dll umbi/bibit dari tanaman berumur 70 hst masa penyimpanan umbi/bibit 2,5 – 4 bulan umbi sehat, bebas hama/penyakit dan ukuran seragam kebutuhan umbi/bibit 1,5 – 2 ton/ha umbi/bibit disiram dengan larutan bregadium water pa – 71 + delsen + air (1 liter + 200gr + 10liter) dibiarkan beberapa jam sebelum ditanam. pengolahan tanah 1. pengolahan tanah pertama untuk memudahkan pengolahan tanah atau mencangkul, gulma dan sisa – sisa tanaman dibersihkan dengan cara di semprot menggunakan herbisida seperti gromoxon atau ditebas, kemudian tanah dicangkul dengan kedalaman 20 – 30 cm. batang kayu/akar kayu yang masih berada didalam tanah diangkat dan dikumpulkan diatas permukaan tanah. gulma atau sisa – sisa tanaman yang mudah busuk, bisa ditimbun didalam tanah dan pada akhirnya bisa menjadi pupuk organik. penyemprotan dengan larutan agri simba (mikroba probiotik) yang dicampur dengan air kelapa dengan perbandingan 5 liter + 15 liter guna menyuburkan, memperbaiki struktur tanah, mencegah penyakit akar dan mengefektifkan penyerapan unsur hara. 2. pengolahan tanah kedua buat bedengan dengan lebar 100 – 120 cm, panjang disesusaikan dengan keadaan lahan kedalaman parit bedengan 20 – 30 cm jarak antar bedengan 20 – 30 cm tabur pupuk petroganik 1 ton/ha tabur dolomit diatas permukaan bedengan secara merata 1 ton/ha permukaan bedengan tanam dibuat rata taburkan pupuk dasar secara merata (p.tsp 250kg) ditaburkan furadan 3g sebanyak 40 kg/ha secara merata penanaman umbi/bibit dipotong (foges) ujung umbi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. jarak tanam 15 x 17 cm. tanam 1 umbi/bibit per lubang umbi/bibit di benamkan hingga rata dengan permukaan tanah umbi/bibit yang seragam menghasilkan pertumbuhan merata 7 – 10 hari. servis/perapihan bedengan sebelum melakukan pemberian pupuk susulan i dan susulan ii dilakukan perapian bedengan dengan cara menaikan tanah yang ada diparit keatas/samping bedengan. penyiangan penyiangan (pendangiran) biasa dilakukan sebelum diberikan pupuk susulan yaitu pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam. cara menyiang rumput – rumput liar (gulma) harus hati – hati agar tidak merusak perakaran tanaman bawang merah, sebaiknya dicabut dengan tangan kalau perlu dengan alat bantu koret. pemupukan pupuk susulan i: diberikan 15 hst (ditabur secara merata) - pupuk npk 25, 7, 7 = 100 kg/ha - pupuk urea = 100 kg/ha - pupuk za = 100 kg/ha - pupuk grower = 100 kg/ha pupuk susulan ii : diberikan 30 hst (ditabur secara merata) - pupuk npk mutiara 16, 16, 16 = 100 kg/ha - pupuk kcl = 100 kg/ha - pupuk grower = 100 kg/ha disamping pupuk tersebut diatas juga diberikan pupuk cair (ppc/zpt) sebagai perangsang pertumbuhannya diberikan dengan cara disemprotkan pada tanaman. pengendalian h/p pengendalian hama/penyakit pada tanaman bawang merah diarahkan secara terpadu, meliputi budidaya tanaman sehat, pelestarian musuh alami dan pengamatan dini. hama utama seperti ulat bawang, ulat gerayak dll sedangkan penyakit utama seperti layu fusharium dan bercak daun (alternaria parii). pengendalian opt : >furadan 3g = 40 kg/ha ditabur sebelum tanam secara merata >bawang merah umur 12 hst dilakukan penyemprotan/pencegahan penyakit dengan : * demalis 100 cc/ha * antracol 50 gram/ha * antonik 40 cc/ha (untuk satu kali penyemprotan) * bayfolan 600 ml/ha * remon 50wp 1 kg/ha * azomite organic 400 gram/ha * calsium super 600 gram/ha (untuk satu kali penyemprotan) penyemprotan dilakukan dengan interpal 1 minggu 1 kali. pengendalian penyakit mati pucuk / bercak hitam / fusharium sp: > melakukan sanitasi gulma yang tumbuh diantara tanaman serta pada lingkungan disekitarnya > memperbaiki drainase untuk menghindari genangan air di pertanaman > mencabuti dan memusnahkan (dibakar) bagian atau tanaman yang mati karena serangan cendawan > disemprot dengan agen hayati antagonis (pf) dengan konsentrasi 10 ml/liter air kepangkal batang. untuk tanaman baru dianjurkan : > menanam variatas tahan seperti philipina dan sumenep > melakukan rotasi tanaman dalam waktu lama > menanam bibit umbi yang sehat dan kompak (tidak keropos) tidak luka/kulit tidak terkelupas dan warnanya mengkilap >menambahkan pupuk organik dilahan 5 – 10 ton/ha > melakukan perendaman bibit umbi bawang merah sebelum ditanam, kedalam cairan tricoderma sp atau dalam larutan pf konsentrasi 5 ml/liter air selama 3 menit > menghindari perlukaan umbi baik pada saat tanam atau panen >memberi perlakuan tanah dengan fungisida efektif (anaconda 50wp, raksasa 80wp) atau penambahan pupuk kandang/kompos tricodarma sp. (dengancara menginfestasikan 50 gramj tricodarma sp kedalam 50 kg pupuk kandang). panen tanaman bawang merah dapat dipanen hasilnya setelah berumur 55 s/d 60 hari setelah tanam pada musim penghujan dan 60 s/d 85 hari setelah tanaman pada musim kemarau, ciri tanaman bawang merah bisa dipanen apabila daun bawang sudah mulai rebah, produksi bawang merah antara 8 – 10 ton/ha, dalam keadaan basah. pembersihan dan pengikatan umbi bawang merah dibersihkan dari tanah dan akar yang menempel dengan alat bantu pisau tajam secara hati-hati agar tidak menyebabkan luka atau rusak pada umbinya. untuk memudahkan pengakutan dari kebun ke tempat penjemuran dilakukan pengikatan. pengeringan pengeringan dilakukan secara tradisional yakni dengan cara dijemur di bawah terik sinar matahari selama 1–2 minggu sambil dibolak-balik hingga keringnya merata. tempat pengeringan dapat di atas tanah rata atau tempat bedengan yang telah dipanen yang dialasi anyaman bambu dan disiapkan plastik penutup bawang merah bila datang hujan, usahakan jangan sampai terkena air hujan, bila terkena air hujan bisa menimbulkan warna hitam dan mungkin bisa busuk. disamping pengeringan secara tradisional bisa juga dilakukan pengeringan buatan yakni dengan cara dimasukan kedalam ruangan atau tempat yang suhunya sekitar 480c selama 18 jam, dengan memanfaatkan panas dari energi surya atau kompor. penyimpanan penyimpanan bawang merah dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : ikatan bawang merah digantungkan di atas para-para tungku dapur, dengan cara ini bawang merah bisa tahan hingga 6 bulan. ikatan bawang merah digantungkan di rungan terbuka. di gudang penyimpanan atau ruang bersuhu dingin ± 0 0c pada kelembaban 65 %. ikatan bawang merah di simpan dalam rak-rak di gudang penyimpanan yang bersuhu antara 25 – 30 0c kelembaban udara 70 – 80 %, keadaan gudang kering dan peredaran udaranya baik. lipatkain utara, agustus 2019 penulis, sasli erman. ts