Loading...

BUDIDAYA JAGUNG TANPA OLAH TANAH PADA LAHAN TERDAMPAK PERBAIKAN SALURAN IRIGASI

BUDIDAYA JAGUNG TANPA OLAH TANAH PADA LAHAN TERDAMPAK PERBAIKAN SALURAN IRIGASI
Jagung merupakan komoditas pangan strategis setelah padi, karena selain sebagi sumber karbohidrat juga sebagai bahan baku industri pangan dan pakan ternak. Tanaman jagung dapat ditanam dilahan kering maupun dilahan sawah, terutama pada saat debit air mengecil akibat musim kemarau maupun perbaikan saluran irigasi. Adanya perbaikan saluran irigasi pada 2 (dua) subak, yaitu Subak Aya Pemanis dan Subak Aya Babahan di kecamatan penebel mengakibatkan lahan persawahan disekitarnya tidak mendapatkan air untuk pertanaman padi, sehingga pemerintah kabupaten mensiasati dengan pemberian bantuan bibit jagung kepada subak yang terdampak. Teknik budidaya jagung yang digunakan dengan menerapkan metode tanpa olah tanah (TOT). Pengertian tanpa olah tanah adalah cara penanaman tanpa perlakuan persiapan lahan seperti pembajakan dan penggemburan tanah terlebih dahulu, hanya diperlukan lubang untuk membenamkan benih ke dalam tanah. Penanaman tanpa olah tanah biasanya menggunakan alat Tugal untuk melubangi permukaan tanah tempat benih ditanam. Metode TOT diterapkan di lahan sawah bekas tanaman padi yang telah selesai di panen. Jerami bekas tanaman padi digunakan sebagai mulsa untuk tanaman jagung. Cara menanam jagung dengan metode tanpa olah tanah memiliki beberapa keuntungan, diantaranya: Mempersingkat waktu budidaya karena tidak diperlukan pengolahan tanah. Menghemat biaya tenaga kerja. Menghindari kerusakan tanah, karena tanah yang terlalu sering dibalik dan digemburkan akan mengalami pengerasan dalam jangka panjang dan potensi hilangnya mineral tanah. Mengurangi erosi lapisan hara tanah bagian atas karena proses pengolahan. Namun tidak dilakukannya pengolahan tanah menyebabkan banyaknya sisa-sisa gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, sehingga perlu dilakukan pembersihan areal pertanaman. Persiapan Lahan 1. Pembersihan lahan dan penyiapan mulsa jerami Lahan dibersihkan dari gulma. Jerami taburkan secara merata di atas permukaan lahan. Jerami berguna sebagai mulsa penutup tanah. 2. Penyiapan Drainase Drainase dibuat berbentuk garis lurus dengan jarak antar ruas sekitar 1 meter. Tujuan pembuatan drainase ini untuk membuang kelebihan air. 3. Pemupukan Untuk meningkatkan kesuburan lahan, ditambahkan pupuk organik berupa pupuk kandang. Pupuk ditaburkan dalam bentul larik, sesuai dengan baris lubang tanam. Dosis pupuk organik untuk tanaman jagung sekitar 2 ton per hektar. Tahapan penanaman 1. Persiapan benih Benih jagung yang digunakan adalah BISI 22B 2. Pengaturan Jarak Tanam Jarak tanam untuk tanaman jagung dalam satu baris sekitar 25 cm, sedangkan jarak antar baris sekitar 60-70 cm. 3. Penanaman Penanaman benih bisa dilakukan maksimal seminggu setelah pemberian pupuk organik. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman sekitar 3-5 cm. Dimasukkan 2 benih jagung dalam satu lubang tanam, kemudian ditutup dengan dengan tanah. 4. Pemberian Pupuk Tambahan Pemupukan tambahan dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam satu periode tanam tergantung tingkat kesuburan tanah dan jenis benih yang digunakan. Jenis pupuk yang dibutuhkan tanaman jagung harus memenuhi unsur N, P dan K. Takaran pupuk untuk budidaya jagung berdasarkan rekomendasi BPTP per hektarnya adalah 100 kg Urea + 300 kg SP-36 & NPK. Untuk frekuensi pemupukan dua kali, diberikan pada 10 dan 35 hari setelah tanam (hst). Untuk frekuensi pemupukan 3 kali berikan pada umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst. (Nety, Adhiputra, Dwijayanta)