Loading...

Budidaya Kedelai dan Antisipasi Terhadap Perubahan Iklim

Budidaya Kedelai dan Antisipasi Terhadap Perubahan Iklim
Budidaya Kedelai dan Antisipasi Terhadap Perubahan Iklim Salah satu masalah utama yang terjadi pada sektor pertanian saat ini adalah pemanasan global. Pemanasan global memberikan dampak terhadap perubahan iklim ekstrim baik itu La-Nina maupun El- Nino dan peningkatan suhu udara. Saat ini musim hujan dan kemarau memiliki pola yang tidak menentu. Perubahan iklim merupakan suatu tantangan yang harus dapat dipecahkan. Pertanian merupakan salah satu bidang yang berkaitan erat dengan dinamika perubahan iklim. Hal ini menyebabkan timbulnya tantangan akibat rentannya sektor ini terdampak langsung maupun tidak langsung. Strategi sektor pertanian dalam mengantisipasi melalui mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.Dampak dari perubahan iklim, yaitu: banjir, kekeringan, salinitas, ledakan hama dan penyakit tanaman. Pelandaian kapasitas produksi diperlukan upaya memitigasinya melalui peningkatan intensitas tanam dan perluasan lahan. Secara teknis, implementasi dari strategi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti: (1) memperbaiki pengelolaan sumber daya lahan; (2) melakukan penyesuaian pola tanam dan pengelolaan lahan; (3) penyiapan teknologi adaptif; (4) penerapan teknologi yang sesuai dengan iklim saat itu. Adapun daerah dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) daerah memetakan potensi kerawananan banjir dan kekeringan; (2) hama dan penyakit yang terjadi di daerah tersebut; (3) identifikasi kearifan lokal pada daerah tersebut diwaktu musim kemarau maupun hujan. Pada komoditas Kedelai, cekaman kekeringan merupakan hal yang menakutkan bagi petani. Cekaman pada fase reproduktif akan mengakibatkan produktivitas kedelai menurun hingga 40%. Pertanaman Kedelai di Indonesia sebagian besar menggunakan lahan sawah pada musim kemarau I dan musim kemarau II. Pola tanam di Indonesia adalah padi-kedelai-kedelai atau padi-padi-kedelai. Permasalahan utama Kedelai adalah dihadapkan pada musim kemarau. Hal ini mengakibatkan tanaman Kedelai rentan dengan kekeringan dan berdampak pada kekurangan air pada fase reproduktif dan dapat mengakibatkan gagal panen. Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi-umbian telah melepas varietas Kedelai toleran kekeringan dengan nama DERING. DE berasal dari kata Kedelai dan RING berarti toleran kekeringan. Keunggulan varietas ini adalah potensi hasil yang tinggi dapat mencapai 2,8 ton/ha. Keunggulannya lainnya adalah kemampuan tumbuh dengan keterbatasan air hingga 30%. Penampilan Kedelai ini dengan ciri-ciri: (1) postur yang tinggi; (2) jumlah daun yang banyak; dan (3) perakarannya yang mampu menyerap air yang banyak. Kelebihan lainnya varietas kedelai Dering adalah tahan rebah, tahan penyakit karat daun, tahan hama penghisap polong dan hama penggerek polong. Dering sangat cocok dikembangkan pada musim kemarau di areal sawah bekas pertanaman padi. Varietas Lainnya yang toleran kekeringan adalah varietas Detam. Detam bermakna sebagai jenis kedelai Hitam. Balitkabi sebagai UPT Kementerian Pertanian telah mengeluarkan viarietas kedelai hitam yang toleran kekeringan. Varietas Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida. Detam 3 Prida memiliki potensi hasil 2,88 ton/ha dan Detam 4 Prida memiliki potensi hasil 2,54 ton/ha. Varietas ini dapat ditanam pada musim kemarau. Varietas ini mampu tumbuh dengan baik dengan ketersediaan air 50%. Hal ini disebabkan varietas ini memiliki perakaran yang baik.Manfaat kedelai hitam adalah dapat menjadi bahan baku aneka produk olahan pangan yang baik untuk kesehatan. Kandungan antosianin pada kedelai hitam sangat baik untuk kesehatan. Kedelai hitam memiliki senyawa lecytin memiliki manfaat menghancurkan lemak. Selain itu, kedelai hitam merupakan bahan baku utama dalam pembuatan kecap dan kadar proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan daging. Di sisi lain,akibat perubahan iklim adanya perubahan siklus hama yang menyerang tanaman kedelai. Perubahan iklim bukan saja terjadi peningkatan suhu bumi namun mengakibatkan masalah baru pada keberlanjutan produksi pertanian Para pakar pertanian perubahan iklim memicu meningkatnya jumlah serangan hama pada tanaman Salah satu hama yang meningkat intensitas serangannya adalah Hama Thrips. Wiyono (2009) mengemukakan bahwa populasi Thrips bias meledak bila kemarau panjang yang menyebabkan adanya peningkatan suhu semakin panas. Peningkatan suhu setidaknya akan menyebabkan beberapa hal, yaitu: (1) peningkatan aktivitas terbang serangga hama; (2) usia kedewasaan kelamin memendek. Untuk mengatasi dampak intensitas serangan hama untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya oleh petan imelalui pengendalian secara alami. Upaya yang dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti: (1) tumpangsari dengan tanaman palawija lainnya seperti tanaman Jagung ataupun Kacang Hijau. Hal ini diperuntukkan agar musuh alami dapat tumbuh pada tanaman Kacang Hijau dan mengurangi intensitas serangan hama; (2) mengurangi penggunaan pestisida. Pengurangan penggunaan bertujuan agar populasi musuh alami tidak berkurang ataupun hilang akibat penggunaan pestisida sehingga keseimbangan alam dapat terjaga dengan baik. Sumber: Balitkabi Balitbang Kementerian Pertanian.Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.comPenyuluh Pertanian BBP2TP