Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas sayuran penting yang mendapat prioritas tinggi di bidang penelitian dan pengembangan sayuran karena merupakan salah satu sumber pendapatan petani, ekspor non-migas, altenatif diversifikasi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, dan bahan baku industri. Kentang merupakan komoditas hortikultura yang mempunyai nilai perdagangan domestik dan potensi ekspor yang cukup baik. Tingginya kandungan karbohidrat menyebabkan umbi kentang dikenal sebagai bahan pangan yang dapat menggantikan bahan pangan penghasil karbohidrat lain seperti beras, gandum, dan jagung (Asandhi, 1996). Kebutuhan benih kentang per hektar rata-rata 1,2 – 1,5 ton dan rata-rata kebutuhan benih per tahun 1.094.240 - 1.641.360 ton jika ukuran benih (30-40 g per butir), tetapi akan meningkat menjadi 2-2,5 ton jika digunakan benih lebih besar dari 40 g per butir. Populasi tanaman kentang per hektar umumnya berkisar antara 40.000 – 50.000 tanaman. Produktivitas hasil kentang nasional dari tahun 2010 sampai tahun 2014 berturut-turut yaitu 15,94 ton / ha; 15,96 ton / ha; 16,58 ton / ha; 16,02 ton / ha; 17,30 ton / ha (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2015). Kendala yang dihadapi petani kentang Indonesia adalah sulitnya memperoleh umbi benih yang berkualitas tinggi, karena umumnya benih lokal yang digunakan saat ini sudah mengalami kemunduran (degenerasi) dan tertular dengan berbagai macam penyakit, terutama disebabkan oleh virus. Hal ini menyebabkan rendahnya produktifitas kentang, sehingga hasil yang diperoleh petani sedikit. Mengatasi masalah ini, perlu dilakukan pembenihan kentang yang menghasilkan benih bebas virus dan penyakit serta berkualitas tinggi (Setiadi dan Nurulhuda, 2003). Kendala utama dalam peningkatan produksi kentang adalah pengadaan dan distribusi benih kentang berkualitas yang belum kontinyu dan memadai serta kurangnya pemahaman petani dalam berbudidaya. Padahal saat ini, penggunaan benih bebas pathogen/berkualitas mutlak diperlukan (Warnita, 2003) Syarat Tumbuh Benih Kentang G0 Iklim, Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman kentang ialah 2.000-3000 mm/tahun. Media Tanam, Tanaman kentang dapat tumbuh baik pada tanah yang mempunyai struktur cukup halus atu gembur, darinase baik, tanpa lapisan kedap air, debu atau debu berpasir dan sedikit kering. Ketinggian Tempat, Tanaman kentang di usahakan di daerah yang memiliki ketinggian 500 m – 3000 m di atas permukaan laut Kultur Jaringan pada Tanaman Kentang , jaringan yang diambil untuk kultur jaringan pada tanaman kentang adalah bagian meristem dimana sel-selnya aktif membelaProduksi Umbi Benih Kentang G0 Kelas benih G0 merupakan hasil perbanyakan dari kelas benih penjenis (BS) diklasifikasikan sebagai benih dasar (BD) merupakan benih kentang generasi ke 0 yang diperbanyak dari benih penjenis, perbanyakannya harus di rumah kasa kedap serangga dan sebagai jaminan mutu G0 harus bebas patogen dan murni varietasnya. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2012), tahapan proses untuk memproduksi benih kentang kelas G0 meliputi persiapan media tanam, persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pascapanen. Persiapan Media Tanam Media tanam dapat menggunakan tanah (sub soil) yang dicampur dengan berbagai komponen lain seperti arang sekam, pupuk kandang dan komponen lainnya yang dianggap baik untuk media tanam. Media tanam harus steril dan ditempatkan/diletakan tidak kontak langsung dengan dasar tanah. Sterilisasi media dapat dilakukan dengan dikukus (steam), disanggray atau dengan menggunakan bahan kimia. Sterilisasi dengan disanggray atau dikukus (steam) selama 3-4 jam dalam suhu 100-120 °C. Sterilisasi dengan bahan kimia, harus diperhatikan penggunaan dosis, cara dan lama waktu strerilisasi yang dianjurkan oleh produknya masing-masing (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Menurut Hartus (2001), tanah di dalam screen diolah sampai gembur dengan kedalaman pengolahan tanah antara 20-25 cm. Apabila tanah terlalu masam (pH < 5,2), perlu dilakukan pengapuran dengan dolomit ( ). Selain menambah unsur kalsium (Ca), pengapuran juga akan menambah magnesium (Mg). Pupuk kandang, sebaiknya dari ayam baterai, ditaburkan merata di atas bedengan dengan dosis 20 ton/ha. Setelah pupuk kandang cukup terurai (1 minggu), dilakukan fumigasi agar tanah menjadi steril. Fumigasi menggunakan Basamid-G yang mengandung bahan aktif dazomet 98% dengan nama kimia 3,5 dimetyl-1,3,5-thiadiaziname-2-thione. Basamid-G merupakan bahan sterilisasi tanah yang dapat membasmi nematoda, cendawan, dan insekta. Bahan aktif dazomet apabila bereaksi dengan air akan mengeluarkan gas methyl isothiocyanate yang dapat membunuh nematoda, cendawan, dan serangga berbahaya di dalam tanah. Selain itu, juga dapat membasmi biji-biji gulma. Dosis anjuran adalah 40 g/m² (Hartus, 2001). Persiapan Tanam Benih induk (planlet) sebelum dikeluarkan dari botol simpan terlebih dahulu 1-2 minggu ditempat terang (hardening) agar planlet lebih kuat. Keluarkan satu persatu planlet dari botol, kemudian tanam dalam media yang sudah disiapkan dalam bak khusus/keranjang plastik/tray pot sebagai sumber perbanyakan stek. Setelah kurang lebih 2-3 minggu, planlet dapat distek beberapa kali, namun perbanyakan stek hanya dilakukan sampai generasi ketiga. Stek sebelum ditanam pangkal batangnya dicelupkan pada larutan seperti “root-on” untuk merangsang tumbuh akar. Ukuran stek dibuat relatif seragam dengan tinggi/panjang 7-10 cm, jarak potongan 0,5-1 cm dari buku (nodia), buang sebagian daunnya biarkan 3 daun ( pucuk dan 2 helai daun dibawahnya). Gunakan alat pemotong tajam (pisau, silet, gunting) yang sebelumnya sudah direndam dalam alkohol 70% (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Penanaman Disiapkan media tanam yang sudah disterilkan. Media tanam tidak boleh kontak atau menyentuh tanah. Digunakan wadah/tempat media yang mengisolasi antara media dengan dasar tanah. Media harus selalu dalam keadaan lembab. Dibuat lubang tanam dengan kedalaman ± 3 cm dan jarak tanam 8 cm × 10 cm atau 10 cm × 10 cm, kemudian tanamkan stek yang sudah berakar, yaitu kurang lebih sudah berumur 3 minggu kedalam lubang tanam (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Menurut Hartus (2001), tanah bedengan disiram terlebih dahulu agar basah sehingga mempermudah pembuatan lubang tanam. Lubang tanam dibuat dengan jarak 15 cm × 10 cm untuk produksi G0. Kedalaman mata tugal 8-10 cm. Pemeliharaan Dilakukan pemeliharaan tanaman selama pertumbuhan agar tanaman dapat tumbuh sehat dan produktif menghasilkan benih secara maksimum. Penyiraman dilakukan secara teratur, karena tanaman dari stek sangat riskan terhadap air. Penimbunan dengan media yang sama harus dilakukan seiring dengan pertumbuhan tanaman. Dilakukan penyemprotan bila diperlukan untuk mengendalikan hama dan penyakit, biasanya yang menyerang tanaman di rumah kasa adalah mite (tungau) dan penyakit embun tepung (powdery mildew). Dicabut dan dibersihkan tanaman yang mencurigakan terinfeksi penyakit. Diabaikan bila ada tipe simpang atau mutan, tetapi bila dalam jumlah banyak segera lapor dan konsultasikan dengan instansi yang menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi bidang pengawasan dan sertifikasi benih sebelum pelaksanaan pemeriksaan. Beri nutrisi tambahan untuk meningkatkan kesuburan dan produktivitas. Pemeliharaan rumah kasa selama masih ada tanaman harus dilakukan agar fungsinya tetap terjaga. Dibuat aturan agar tidak semua orang dapat keluar masuk rumah kasa secara bebas (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Menurut Hartus (2001), penyulaman untuk mengganti tanaman layu, mati, atau rusak dilakukan paling lama 7 hari sejak penanaman. Bila tanaman sudah mulai besar, interval penyiraman diperpanjang, misalnya menjadi dua hari sekali, tiga hari sekali, dan seterusnya. Dua puluh hari sebelum dipanen, tanaman tidak perlu lagi disiram. Tanaman yang telah berumur 10 hari dipupuk NPK dengan komposisi 15-15-15 (mengandung 15% N, 15% , 15% ). Dosisnya 5 gram per tanaman. Pupuk dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat menggunakan tugal. Jarak lubang pupuk sekitar 5 cm dengan kedalaman 7 cm. Setelah pupuk dimasukkan ke dalam lubang, segera ditutup menggunakan tanah (Hartus, 2001). Pemangkasan pucuk (topping) dilakukan untuk kultivar kentang yang umbinya sedikit seperti varietas Atlantik. Toping dilakukan pada saat tanaman berumur 7-10 hari. Kegiatan ini harus dilakukan secara hati-hati sebab dapat memicu tumbuhnya serangan penyakit. Pemangkasan menggunakan ujung kuku ibu jari dan telunjuk (tangan dicuci dengan menggunakan larutan desinfektan). Pemangkasan dilakukan pada cuaca cerah di siang hari. Pucuk yang dipangkas dalam keadaan masih kuncup sehingga meninggalkan luka yang sangat kecil dan akan segera kering (Hartus, 2001). Pembumbunan dilakukan untuk memperkokoh tanaman agar tidak roboh dan stolon yang muncul di permukaan tanah dapat membentuk umbi. Pembumbunan dilakukan dua kali yaitu pada saat tanaman berumur 14 hari dan 30 hari setelah tanam. Tanah untuk membumbun diambil dari parit antarbedengan (Hartus, 2001). Pemangkasan daun tua dilakukan pada umur 70 hari setelah tanam. Dedaunan yang berada di dasar bedengan dipangkas menggunakan gunting yang telah dicelupkan ke dalam larutan desinfektan. Dedaunan hasil pemangkasan dimasukkan ke dalam karung dan setelah banyak dibuang ke luar screen. Apa bila ada gejala penyakit, sebaiknya daun-daun tersebut dibakar (Hartus, 2001). Panen Panen dilaksanakan apabila tanaman sudah menguning/kering dan kulit umbi sudah kuat tidak mengelupas. Umbi yang dipanen dibersihkan dari tanah yang menempel (tidak dicuci) dan dimasukkan dalam wadah (krat/keranjang), sebaiknya tidak menggunakan karung/waring. Umbi dapat langsung diseleksi atau digrading sebagai calon benih. Diusahakan tidak memasukkan umbi ke gudang dalam keadaan basah. Setiap selesai panen rumah kasa dibersihkan walau tidak harus disterilkan, dibersihkan dari sisa-sisa panen dan atap dari lumut atau kotoran yang akan mengganggu sinar masuk (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Menurut Hartus (2001), untuk tanaman tipe genjah, pemanenan dapat dilakukan pada umur 90-120 hari, sedangkan untuk tipe medium dan dalam, masing-masing dapat dipanen pada umur 120-150 hari dan 150-180 hari. Satu minggu sebelum panen, seluruh batang dipangkas habis dan menyisakan pangkal batang beserta akar dan umbi. Perlakuan ini bertujuan untuk memperkeras atau melayukan umbi agar tidak mudah lecet atau luka sewaktu pemanenan maupun pengangkutan. Pemanenan dilakukan dilakukan dengan cara menggali umbi dari ujung bedengan kemudian terus disisir sampai ke ujung lainnya. Hasil panen dimasukkan ke dalam keranjang dan diangkut ke gudang penampungan sementara untuk dibersihkan, disortasi, dan dikelompokkan. Pasca Panen Kegiatan pasca panen meliputi pemeliharaan, penyimpanan, pemeriksaan umbi calon benih, dan pengemasan. Dilakukan sortir bila masih ada umbi yang bergejala penyakit atau rusak mekanis dan dilakukan grading (pengkelasan) ukuran benih bila diperlukan. Umbi disimpan dan disusun dalam krat/keranjang sebagai kelompok calon benih di tempat/ ruang yang terang dan kering (tidak lembab). Diberi perlakuan (treatment) pestisida (ditabur/ dry dressing), kemudian ditutup dengan kain/ kelambu. Benih kelas G0 mutlak harus bebas pathogen dan murni tidak ada campuran varietas lain. Kemasan benih dapat dibuat dari karung net, dus atau kayu. Kemasan harus kuat dan dapat melindungi benih dalam kemasan. Volume benih G0 dalam setiap kemasan yaitu 1.000 knol. Benih setiap kemasan berdasarkan keseragaman ukuran atau campuran dari berbagai ukuran (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012). Menurut Hartus (2001), dalam penanganan pascapanen perlu dilakukan grading. Kentang yang ukurannya sama dikelompokkan menjadi satu, misalnya grade I 20-30 gram, grade II 30-40 gram, dan grade III 40-50 gram. Umbi yang hendak dijadikan benih harus disimpan dulu selama 4-5 bulan. Penyimpanan bertujuan untuk memecah masa dormansi (masa istirahat) umbi. Umbi yang telah habis masa istirahatnya akan keluar tunas dari mata-mata tunas yang ada di permukaan kulitnya. Umbi disimpan di dalam gudang penyimpanan terang (diffuse light storage) dan diletakkan pada rak-rak. Tebal tumpukkan 2-3 umbi sehingga memungkinkan cahaya menyebar merata ke seluruh umbi yang disimpan. Kapasitas rak antara 75-100 kg/m². Dinding gudang dilapisi screen agar hama penggerek umbi tidak dapat masuk. Setelah penyimpanan selama 5 bulan umbi siap untuk ditanam.