Black Soldier Fly (BSF) – lalat tentara hitam (Hermetia illucens, Diptera : Stratiomyidae) adalah salah satu serangga yang berperan sebagai pengurai limbah organik, termasuk kotoran ternak. Lalat ini dikenal juga dengan nama "phoenix worms". Tubuh lalat BSF berwarna hitam dengan bagian segmen basal abdomennya berwarna transparan sehingga sekilas menyerupai tawon (wasp waist).Media untuk budi daya larva sangat bervariasi antara lain kotoran hewan, limbah buah-buahan, limbah restauran, limbah dapur, limbah rumah tangga, selulosa dan sampah organik lainnya. Tetapi, terdapat laporan yang menyebutkan bahwa larva yang diberi pakan limbah restauran, yang disimpan selama 30 hari pada suhu 30oC dan terkontaminasi jamur telah menyebabkan larva tidak sehat (lemah dan kurang aktif). Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya larva BSF adalah jenis media pertumbuhan, kandungan nutrien pada media tumbuh dan lingkungan.Secara ringkas, tahapan produksi larva BSF sebagai berikut : Persiapan tempat pemeliharaan dan media pertumbuhan larvaUntuk tempat pemeliharaan larva dapat digunakan tong plastik (berdiameter 56 cm dan tinggi 50 cm) dan bak beton berukuran 5 x 10 x 0,5 m. Tong ditopang dengan tiang yang berbentuk segitiga dengan tinggi 60 cm. Disamping itu, juga dibutuhkan kawat, fiber, bambu dan penutup tong. Media pertumbuhan larva dapat digunakan limbah-limbah organik. Tong-tong yang telah berisi media, selanjutnya ditempatkan diantara semak-semak atau tempat-tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan (Fahmi et al. 2007). Produksi larva BSF juga dapat dilakukan pada bak yang dibuat dari semen atau kayu dengan ukuran 3,5 x 7 x 0,6 m. Teknologi cara budidaya lalat BSF tergantung pada lingkungan dimana produksi larva akan dilakukan. Sebaiknya produksi larva BSF dilakukan pada daerah yang bervegetasi atau perkebunan dan dekat dengan lokasi sumber media. Untuk lingkungan yang berpenduduk padat, budidaya lalat BSF dapat dilakukan dengan sistem tertutup menggunakan kandang yang dibangun seperti rumah kasa, sedangkan pada lingkungan yang terbuka (berpenduduk jarang) dapat menggunakan tong -tong plastik yang ditutup dan diselingi dengan kawat, fiber atau bambu.Persiapan ruang koleksi telur Telur yang telah dibuahi (subur) dapat dikoleksi setelah lalat jantan dan betina kawin. Luas ruangan untuk kawin juga berperan penting dalam keberhasilan kawin lalat BSF. Kandang kasa berukuran 3 x 6,1 x 1,8 m yang diletakkan di luar (out door) dapat dijadikan ruang yang ideal untuk kawin dan ruang bertelur bagi lalat BSF. Lalat betina secara alamiah lebih suka meletakkan telur ke tempat-tempat yang berongga menyerupai sarang lebah. Bagian yang berongga dari kertas kerdus atau yang berbahan plastik dapat digunakan untuk menarik betina meletakkan telur diatas sumber makanan. Selain itu, dapat juga digunakan daun pisang kering.Pemeliharaan larva BSF Untuk pemeliharaan larva BSF dibutuhkan media berupa limbah-limbah organik. Misalnya, sebagai media pertumbuhan dapat digunakan bungkil kelapa sawit (BKS). Sebanyak 3 kg BKS yang telah dihaluskan kemudian dicampur dengan 6 liter air dan diaduk secara merata (perbandingan 1:2). Selanjutnya, campuran tersebut dimasukkan ke dalam tong dan ditutup dengan kawat kasa, kemudian diatasnya diletakkan daun pisang kering. Tong ditutup yang diselipi kawat, bambu dan fiber. Setelah dua minggu, akan diperoleh larva yang masih muda didalam tong. Semua larva dipindahkan ke dalam bak yang lebih besar dengan penambahan media. Larva dapat dipanen setelah satu – dua minggu didalam bak. Larva instar akhir (prepupa) akan bermigrasi sendiri meninggalkan media menuju ke tempat yang kering. Untuk memperoleh 1 kg larva BSF, maka dibutuhkan 3 kg BKS. Media sisa produksi larva dapat dikeringkan dibawah sinar matahari dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Larva BSF lebih menyukai makanan yang mengandung air daripada yang kering.Media untuk proses pembentukan pupa sebaiknya gembur atau berrongga dan longgar sehingga mudah ditembus atau disusupi oleh larva. Media tersebut harus memudahkan pupa untuk mendapatkan oksigen dari udara. Apabila kondisi media pupa terlalu rapat, menyebabkan pasokan oksigen sedikit yang berakibat kematian pupa dan tidak menetas menjadi lalat dewasa.Berdasarkan dari manajemen proses limbah, larva BSF yang diberi pakan terbatas lebih efektif dalam mengurangi limbah kotoran kering. Larva yang diberi pakan 27 g kotoran sapi perah kering mampu mengurangi limbah sampai 58%, sedangkan yang diberi pakan 70 g hanya mampu berkurang sekitar 33%. Kematian larva yang diberi pakan terbatas juga lebih sedikit (Pemanfaatan Bungkil Kelapa Sawit (BKS) dilaporkan menghasilkan bobot larva yang lebih tinggi dibandingkan dengan media feses ayam petelur. Media BKS juga menghasilkan kadar protein dan berat kering larva yang lebih tinggi (Katayane et al. 2014). Keadaan ini diduga karena kualitas protein yang ada didalam feses ayam petelur merupakan senyawa Non Protein Nitrogen (NPN) yang berkualitas lebih rendah dibandingkan dengan kandung protein pada BKS (Arief et al. 2012). Studi lain menyatakan bahwa substrat yang berkualitas rendah akan menghasilkan larva BSF yang lebih sedikit karena media pertumbuhannya mengandung komponen gizi yang kurang atau terbatas. Apabila kandungan nilai gizi pada media pertumbuhan berkurang, maka fase larva dapat mencapai 4 bulan, tetapi apabila nuturisinya cukup, maka fase larva hanya memerlukan waktu 2 minggu (Olivier 2000). (Suwarna- BPPSDMP) Sumber : Berbagai sumber