Loading...

Budidaya Nanas

Budidaya Nanas
Provinsi Kalimantan Barat sebagai sentra produksi nenas memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat potensi lahan yang dimiliki masih cukup luas yaitu sekitar 1,6 juta ha lahan gambut yang sangat cocok untuk komoditas nenas. Pengembangan nenas di lahan gambut selain sebagai upaya memanfaatkan potensi lahan tidur juga sekaligus dapat berperan dalam memberdayakan petani terutama dalam mengurangi "Kabut Asap". Selama ini lahan gambut tersebut merupakan lahan yang tidak tergarap dan sering dituding sebagai salah satu penyebab terjadinya kabut asap karena sangat mudah terbakar di saat musim kemarau. Dengan demikian pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan nenas selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menjadi salah satu upaya penting dalam neningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani/masyarakat. Di Kabupaten Kubu Raya telah dibangun pabrik pengolahan nenas menjadi konsentrat oleh PT. Agro Industri Saribumi Kalbar yang membutuhkan pasokan bahan baku buah nenas segar sekitar 300 ton per hari. Untuk memenuhi pasokan bahan baku tersebut perlu areal kebun nenas yang cukup luas yang melibatkan petani nenas di sekitar pabrik. Pengembangan nenas di Provinsi Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya yang sebagian untuk memasok bahan baku industri pengolahan nenas mejadi konsentrat, merupakan terobosan dalam memanfaatkan potensi pasar dunia yang permintaannya terus meningkat, disamping akan mengukuhkan peran Indonesia sebagai negara pengekspor nenas yang saat ini menempati urutan keempat terbesar di dunia setelah negara Thailand, Costa Rica dan Philipina. Tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan kawasan nenas di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat, adalah: 1. Mendorong produksi dan mutu nenas untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan dan pasar regional 2. Meningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dan pelaku usaha nenas serta meningkatkan devisa B. Pelaksanaan Pelaksanaan pengembangan nenas di Kabupaten Kubu Raya dan kabupaten Pontianak guna memenuhi bahan baku industri pengolahan nenas PT. Agroindustri Saribumi Kalbar, telah dimulai sejak pabrik pengolahan konsentrat direncanakan dibangun dan diresmikan pada bulan Juni 2008. Sampai saat ini beberapa hasil yang telah dicapai antara lain: 1. Perluasan areal nenas di Kubu Raya telah mencapai 1.000 ha dengan perincian 300 ha lahan inti dan 700 ha lahan petani mitra. 2. Sebagian petani telah menerapkan SOP yang telah disusun dan disosialisaikan oleh Ditjen Hortikultura. 3. Adanya program penyediaan benih sumber nenas dari Ditjen Hortikultura sebanyak 15.000 batang, dan dari Depnakertrans sebanyak 200.000 batang. Tahun 2009 Depnakertrans telah menyetujui penyediaan benih sebanyak 5 juta batang. 4. IPB bekerjasama dengan UNTAN mencanakan memberi bantuan teknis untuk perbanyakan benih dari stek daun. 5. Ditjen Hortikultura telah melaksanakan latihan penangkar benih dengan stek daun dengan narasumber dari PKBT IPB 6. Pabrik sudah mulai beroperasi meskipun masih seminggu sekali dengan kapasitas yang rendah (under capacity). C. Permasalahan Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan nenas guna memenuhi bahan baku industri pengolahan antara lain: 1. Pabrik pengolahan konsentrat nenas masih kekurangan bahan baku. 2. Kondisi infrastruktur, khususnya jalan usahatani masih perlu ditingkatkan untuk memperlancar dan mempermudah pengangkutan produk nenas. 3. Petani nenas menghendaki harga nenas dinaikkan dari Rp. 400/kg menjadi Rp. 600/kg. 4. Petani nenas kekurangan modal untuk perluasan usahataninya terutama untuk pembukaan lahan dan pembelian benih. 5. Ketersediaan benih terbatas, perbanyakan masih secara konvensional dengan anakan, tunas batang, dan mahkota. 6. Panen buah tidak serempak dan tingkat kematangan buah beragam. 7. Belum ada kepastian status lahan berkaitan dengan RUTR dan daerah hutan lindung. 8. Rendemen konsentrat yang dihasilkan rendah karena sebagian besar buah yang nenas adalah jenis Queen, yang seharusnya jenis Smooth Cayenne. 9. Kadar keasamaan dalam konsentrat cukup tinggi, karena sebagian besar nenas yang diproses tidak segar sehingga sudah mengalami fermentasi. 10. Tingkat kerusakan buah sampai di pabrik pengolahan cukup tinggi karena keterbatasan sarana transportasi dan kondisi jalan yang rusak. D. Pemecahan Masalah Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan pertemuan Tim Fokus Group Nenas (Tim yang dibentuk oleh Tim Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah) diselenggarakan pada tanggal 3 Desember 2008 bertempat di Pontianak. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Bank Indonesia Pontianak yang dihadiri oleh Pimpinan BI Pontianak, Asisten II Setda Provinsi Kalbar, Direktur Budidaya Tanaman Buah Ditjen Hortikultura, Staf Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Hortikultura, Direksi PT. Agroindustri Saribumi Kalbar, serta perwakilan dari Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Pertanian dan Peternakan Kubu Raya, dan Dinas terkait lingkup Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan hasil diskusi dan kondisi lapang, tindaklanjut yang harus dilakukan antara lain: 1. Penyusunan jadwal palang untuk menindaklanjuti permasalahan hasil identifikasi Tim Fokus Group Nenas. 2. Perusahaan mitra agar segera melakukan perluasan areal tanam nenas di lahan inti, dengan menerapkan SOP yang telah disusun sebagai percontohan petani disekitarnya. 3. Pemetaan pertanaman nenas yang meliputi jenis dan umur tanaman sebagai bahan penyusunan rencana pengembangan dan rencana produksi. 4. Ketua kelompok tani yang telah mengikuti pelatihan penangkaran nenas, agar dibimbing untuk melakukan penangkaran benih dengan stek daun. 5. Sambil menunggu benih bantuan pusat dapat digunakan sebagai sumber penangkaran benih, perusahaan mitra (PT. Agroindustri Saribumi Kalbar) berkoordinasi dengan BPSBTPH melakukan seleksi pohon induk nenas jenis Smooth Cayenne yang akan dgunakan sebagai sumber benih pada tahun 2009. 6. Bank Indonesia Pontianak agar mendorong kalangan perbankan khususnya yang telah menandatangani MOU untuk dapat merealisasikan fasilitiasi permodalan kepada petani nenas. 7. Untuk mengurangi kadar keasaman konsentrat nenas, perlu dilakukan perbaikan cara budidaya dan peningkatan penanganan pengangkutan buah. 8. Secara bertahap dilakukan pengantian jenis nenas dari jenis Queen diganti dengan jenis Smooth Cayenne. E. Instansi Terkait 1. Ditjen Hortikultura (Dit. Budidaya Tanaman Buah, Dit. Perbenihan dan Sarana Produksi) 2. Depnakertarans (Program Kota Terpadu Mandiri) 3. Bank Indonesia Pontianak, BRI, PNM Mandiri, Bank BTPN 4. PT. Agroindustri Saribumi Kalbar 5. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air 6. Pemda Provinsi Kalbar dan Pemkab Kubu Raya Produk pupuk CNI yang bisa membantu meningkatkan hasil pertanian dan Hortikultura yaitu: • Plant Catalyst 2006 Produk CNI adalah "Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah" Ditulis dalam Pertanian dan Perikanan | Tag: Bahan Baku, Industri Konsentrat, Nenas, Orientasi EKSPOR