Loading...

Budidaya Padi Organik untuk Kesehatan

Budidaya Padi Organik untuk Kesehatan
Keuntungan Budidaya Padi OrganikKendala dalam pembudidayaan tanaman padi adalah tinggi biaya pemeliharaan serta ketergantungan petani terhadap pengunaan pupuk anorganik dan pola pikir petani yang masih menerapkan cara pengendalian hama penyakit tanaman padi dengan membasmi mengunakan pestisida, akan tetapi tidak mengetahui dampak residu kimia yang ditinggalkan di dalam tanah,lingkungan dan konsumen. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan organik berupa pupuk organik (kotoran ternak,kompos jerami,pupuk hijau) bisa menjadi solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan pupuk organik dalam budidaya padi organik. Berdasarkan ketersediaan pupuk kandang untuk tiap satu ekor sapi, mampu menghasilkan kotoran segar 7,5 ton/thn/ekor, dan ini merupakan potensi.Sejalan dengan tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan serta perubahan gaya hidup (Life style) untuk mengkonsumsi bahan makanan berbasis organik sebagai penunjang utama kesehatan merupakan peluang agribisnis padi organik. Budidaya Padi OrganikBertanam padi secara organik pada dasarnya tidak berbeda dengan bertanam padi pada pelaksanaan intensifikasi yang dilakukan petani. Perbedaannya hanya pada pemilihan varietas, penggunaan pupuk dan pestisida.1. Pemilihan VarietasBertanam organik biasanya diawali dengan pemilihan benih tanaman non-hibrida. Varietas padi yang cocok ditanam secara organik hanya jenis atau varietas alami. Padi yang dapat ditanami antara laian adalah Rojolele, Mentik, Pandan dan Lestari.2. Penyiapan Lahan Penyiapan lahan pada dasarnya adalah pengolahan tanah sawah hingga siap untuk ditanami. Diupayakan pengolahan tanah sehalus mungkin agar penyerapan unsur hara oleh tanaman dapat berlangsung dengan baik.3. PenanamanBibit tanaman yang baik untuk dipindahkan kelahan memiliki persyaratan tinggi sekitar 25 cm, memiliki 5-6 helai daun, batang bawah besar dan keras, bebas dari hama penyakit, serta jenisnya seragam. Penentuan jarak tanam dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu sifat varietas dan kesuburan tanah. Bila varietasnya memiliki sifat merumpun tinggi maka jarak tanamnya harus lebih lebar dari padi yang memiliki sifat merumpun rendah. Sementara bila tanah sawah lebih subur, jarak tanam harus lebih lebar dibanding tanah kurang subur. Jarak tanam yang paling banyak digunakan petani adalah 25 x 25 cm dan 30 x 30 cm.4. PemupukanPupuk organik yang digunakan berupa pupuk kandang atau kompos matang sebanyak 5 ton/ha. Pemberian dilakukan saat membajak sawah kedua dengan cara disebar merata keseluruh permukaan sawah. Pemberian pupuk bokashi lebih hemat dibanding pupuk kandang atau kompos, cukup 1,5 – 2 ton/ha yang dapat dijadikan sebagai pupuk dasar. Selanjutnya pupuk susulan pertama diberikan saat tanaman sekitar 15 hari. Pupuk yang diberikan berupa pupuk kandang sebanyak 1 ton/ha atau 0,5 ton/ha kompos fermentasi. Cara pemberiannya ditabur disela-sela tanaman padi. Pupuk kedua pada saat tanaman berumur 25 – 60 hari dengan frekuensi seminggu sekali. Pupuk yang diberikan berupa pupuk organik cair bisa buatan sendiri yang memiliki kandungan Nitrogen (N) tinggi. Dosis yang digunakan 1 liter pupuk yang dilarutkan dalam 17 liter air. Cara pemberian dengan disemprot pada daun tanaman. Pemberian pupuk susulan ketiga dilakukan saat tanaman memasuki fase generatif atau pembentukan buah, yaitu setelah tanaman berumur 60 hari. Pupuk yang digunakan mengandung unsur Phospat (P) dan Kalium (K) tinggi. Dosis 2-3 sendok makan pupuk P yang dicampur dalam 15 liter atau satu tangki kecil pupuk. Pupuk disemprot ketanaman dengan frekwensi seminggu sekali. Pemberian pupuk tersebut dapat dihentikan bila sebagian besar bulir padi sudah tampak menguning.5. Penyiangan.Penyiangan dilakukan dengan cara pencabutan gulma. Dalam satu musim tanam, dilakukan tiga kali penyiangan. Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur sekitar 3 minggu, kedua umur 35 hari dan ketiga umur 55 hari.6. PengairanMeskipun secara umum air yang tergenang dibutuhkan padi sawah, namun ada saatnya sawah harus dikeringkan agar pertumbuhan dan produktivitas tanaman menjadi baik. Penggenangan air dilakukan pada saat 1) Awal pertumbuhan, petakan sawah harus digenangi air setinggi 2 – 5 cm dari permukaan tanah selama 15 hari atau saat tanaman mulai membentuk anakan; 2) Pembentukan anakan, ketinggian air perlu ditingkatkan dan dipertahankan antara 3 – 5 cm, hingga tanaman terlihat bunting. Bila ketinggian air lebih dari 5 cm, pembentukan anakan atau tunas akan terhambat. Sebaliknya, bila ketinggian airnya kurang dari 3 cm, gulma akan mudah tumbuh;3) Masa bunting, air dibutuhkan dalam jumlah cukup banyak. Ketinggian air sekitar 10 cm. Kekurangan air pada fase ini harus dihindari karena dapat berakibat matinya primordia. Kalau primordia tidak mati, bakal butir gabah akan kekurangan makanan sehingga banyak terbentuk butir gabah hampa.4) Pembungaan, ketinggian air dipertahankan antara 5 – 10 cm. Kebutuhan air pada fase ini cukup banyak. Namun bila mulai tampak keluar bunga maka sawah perlu dikeringkan selama 4 – 7 hari. Ini dilakukan agar pembungaan terjadi atau berlangsung secara serentak. Pada saat bunga muncul serentak, air segera dimasukan kembali agar makanan dan air dapat terserap sebanyak-banyaknya oleh akar tanaman. Ketinggian air tetap 5 – 10 cm.Pengeringan Sawah dilakukan pada saat1) Menjelang bunting, bertujuan untuk menghentikan pembentukan anakan atau tunas karena pada saat ini tanaman mulai memasuki fase pertumbuhan generatif. Lama pengeringan lahan 4 – 5 hari. Keadaan seperti ini akan merangsang pertumbuhan generatif sehingga tanaman akan berbunga serentak.2) Pemasakan biji, adalah untuk menyeragamkan biji dan mempercepat pemasakan biji. Patokan pengeringan adalah saat seluruh bulir padi mulai menguning. Pengeringan jangan dilakukan sebelum semua bulir tampak menguning karena dapat berakibat malai padi menjadi kosong. Pengeringan ini dilakukan hingga saat padi dipanen.7. Pemberantasan Hama dan PenyakitPemberantasan hama dan penyakit padi organik perlu dilakukan secara terpadu antara budidaya, biologi, fisik (perangkap atau umpan), dan kimia (pestisida organik)8. PanenSecara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Padi Tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.2) Pedoman Teknis Pengembangan System of Rice Intensification 2013, Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.3) https://ktnakampar.wordpress.com4) Sumber gambar : https://www.google.com