Loading...

Budidaya Padi Pada Lahan Sawah Asem-Aseman

Budidaya Padi Pada Lahan Sawah Asem-Aseman
Budidaya Padi Pada Lahan Sawah Asem-Aseman Peningkatan produksi padi merupakan suatu keharusan. Hal ini diimplementasikan sebagai wujud komitmen pemerintah agar Indonesia tidaklagi mengimpor beras. Wujud dari usaha peningkatan produksi beras nasional dengan dua cara, yaitu: (1) peningkatan indeks pertanaman; dan (2) perluasan lahan baku sawah.Badan litbang Kementerian Pertanian berusaha dengan menghasilkan produk-produk unggulan hasil dari inovasi yang dilakukan.Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi nasional sebesar 76,226 juta ton. Dengan rataan produktivitas padi nasional saat ini 5,28 ton/ha maka peningkatan produktivitas menajdi suatu keharusan di saat ini dan masa-masa mendatang. Untuk itu, harus memaksimalkan usaha tani padi walaupun terdapat gejala asem-aseman. Gejala asem-aseman biasanya terjadi di lahan sawah yang selalu tergenang karena pengairannya jelek. Gejala ini ditandai dengan tanaman padi tumbuh kerdil meski jumlah anakannya normal, daun berwarna kuning dan terbakar, akarnya berwarna coklat kekuningan dan perkembangannya terhambat. Apabila lahan tersebut terus tergenang dan dipupuk urea maka tanaman yang bergejala tersebut akan mati. Gejala ini menjadi salah satu penyebab kurang optimalnya hasil produksi padi yang diperoleh.Penyebab Gejala Asem-aseman Gejala asem-aseman disebabkan oleh aliran air yang tidak lancer (menggenang), seperti di cekungan (tempat rendah), tepi galengan, tepi rel kereta api, atau tepi jalan raya. Tanah di tempat tersebut biasanya mengandung hara makro (N, P, K), bahan organik, serta hara mikro Zn. Sedangkan SO4 relatif rendah. Tanah-tanah tersebut disebut tanah yang sakit atau lapar dikarenakan pada tanah tersebut terjadi ketidakseimbangan unsur hara dan rendahnya bahan organik. Teknologi Produksia. Varietas dan Kebutuhan BenihVarietas yang tahan gejala asem-aseman adalah Memberamo, Kalimas, Sintanur, dan ketan lokal, dengan jumlah benih yang diperlukan 30-40 kg/ha.b. Persemaian dan Penyiapan BibitTempat persemaian yang perlu disiapkan seluas 5 % dari total luas sawah yang ditanami padi. Sebaiknya berkelompok agar efisien dan memudahkan pengendalian OPT. Lahan dipupuk ZnSO4 sebanyak 20 g/ 10 m2 sebelum ditanam benih. Sesudah semai berumur 5 hari pupuk dengan 400 g ZA + 100 g SP-36 + 60 g KCl setiap 10 m2. Untuk menghindari serangan OPT persemaian harus selalu dimonitor dan apabila terdapat hama kendalikan secara mekanis. Bibit berumur maksimal 21 hari ditanam di lapang. c. Penyiapan LahanLahan yang akan ditanami padi dibuatkan saluran pengairan yang cukup dalam sehingga air dapat dialirkan ke luar lahan dan tidak selalu tergenang. Umumnya lahan bergejala asem-aseman mempunyai lumpur yang dalam sehingga tidak perlu dibajak, tetapi cukup diglebeg atau dirotari dan langsung digaru. Sebelum digebleg/ digaru lahan sawah diberi bahan organik (pupuk kandang atau kompos) 2-3 ton/ ha. Perlu juga diberi pupuk P dan K dengan takaran yang sesuai ditambah 20-25 kg ZnSO4/ha sebelum tanam sebagai pupuk dasar dengan cara disebar merata pada lahan sawah. d. TanamSebelum ditanam, bibit dicelupkan dalam larutan ZnSO4 2% (20 g ZnSO4/ liter air) selama 2 menit. Bibit ditanam dengan cara tanam pindah (tapin), 2-3 bibit/ rumpun. dan gunakan 2-3 batang tanaman/rumpun dengan umur 14-17 hari sestelah semai (HSS) dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm meningkatkan populasi tanaman menjadi 213.333 rumpun/ha atau terdapat peningkatan 33,3% dibandingkan dengan sistem tanam tegel 25 x 25 cm dengan populasi 160.000 rumpun/ha. Penanaman dengan menggunakan alat tanam dilakukan pada saat kondisi air macak-macak untuk menghindari roda alat tanam terselip. Adapun cara lainnya dengan menggunakan bantuan alat "caplak". e. PemupukanPupuk 200 kg ZA/ ha dan 100 kg urea/ha diberikan dua kali yaitu setengah ZA pada umur 21-24 HST, dan sisanya diberikan saat pembentukan bunga.f. PemeliharaanKegiatan ini meliputi penyiangan, pengairan, pengendalian OPT, dan penyemprotan dengan ZnSO4. Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur ± 15 HST dan penyiangan selanjutnya disesuaikan dengan keadaan populasi gulma. Pengairan dilakukan sesuai kebutuhan dan usahakan tanah tidak selalu tergenang.g. Panen dan penanganan hasilPanen dilakukan bila 95 % butir padi pada setiap malai telah kuning, dengan cara memotong batang dengan sabit kemudian merontokkan gabah menggunakan alat perontok. Untuk mengurangi kehilangan hasil, hasil sabitan dikumpulkan di atas alas plastik sekalian digunakan sebagai alas dalam perontokan gabah. Hasil panen dikeringkan sampai memiliki kadar air ± 12 %, kemudian dikemas dalam karung yang baik untuk disimpan. Sumber: BPTP Jawa Timur, Badan Litbang Kementerian PertanianNama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.com Penyuluh Pertanian BBP2TP