di era pembangunan pertanian yang pesat yang menghasilkan varietas unggul baru (untuk padi) menyebabkan semakin berkurangnya penanaman varietas padi lokal. sumber daya genetik padi lokal semakin langka didapatkan bahkan mengarah pada kepunahan. untuk memperoleh varietas unggul padi, diperlukan ketersediaan koleksi sumber daya genetik yang memiliki sumber-sumber gen (sifat) yang memiliki keunggulan tertentu sebagai bahan tetua persilangan. sumber daya genetik padi tersebut tidak menutup kemungkinan berasal dari koleksi padi lokal. mentik wangi merupakan salah satu varietas padi lokal yang perlu dilestarikan dan digali potensinya. oleh karena itu petani di desa sungai geringging kecamatan kampar kiri kabupaten kampar provinsi riau pada tahun 2019 melaksanakan budidaya tanaman padi sawah dengan varietas mentik wangi yang bertujuan untuk mengetahui respons padi lokal mentik wangi terhadap pendekatan teknologi system rice of intensiï¬Âcation (sri) dan pengelolaan tanaman terpadu (ptt). tujuan sri dan ptt pada prinsipnya juga sama yaitu untuk meningkatkan produksi dengan target petani yang berbeda dan pengelola yang berbeda. perlakuan pertama adalah pendekatan teknologi sri, meliputi umur bibit muda 14 hss (hari setelah sebar), jarak tanam 30 x 30 cm, 10 ton/ha pupuk organik, tanpa penggunaan pestisida kimia. adapun perlakuan kedua adalah pendekatan (ptt), meliputi umur bibit muda (14 hss), jarak tanam 25 x 25 cm, 2 ton/ha pupuk organik, 250 kg/ha urea, 50 kg/ha sp-36 dan 50 kg/ha kcl). hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil yang dicapai padi mentik wangi dengan pendekatan sri lebih tinggi dibanding dengan pendekatan teknologi ptt. tujuan utama petani di desa sungai geringging dengan mengembangkan budidaya padi lokal varietas mentik wangi ini tidak hanya mengutamakan pada peningkatan produksi, tetapi juga diperlukan teknologi yang mampu menghasilkan produk yang eï¬Âsien, berdaya saing tinggi, dan dalam jumlah yang cukup. penggunaan varietas unggul merupakan salah satu implementasi dari program p2bn yang merupakan program pemerintah ri dalam mendukung ketahanan pangan nasional. mentik wangi ini disukai karena baunya yang khas, harum, dan rasanya yang pulen sehingga menggugah selera makan setiap orang. seperti pada umumnya padi lokal, mentik wangi memiliki potensi produksi yang lebih rendah dari pada padi varietas unggul baru (vub). di samping itu, diduga beras lokal mentik wangi ini memang secara genetis adalah beras yang pulen sehingga dengan pengaruh lingkungan seperti pendekatan teknologi sri maupun ptt tetap menghasilkan beras yang keduanya pulen. lipatkain utara, agustus 2019 penulis, sasli erman. ts