Loading...

Budidaya Padi Teknologi Hazton

Budidaya Padi Teknologi Hazton
Teknologi Hazton adalah cara bertanam padi dengan menggunakan bibit tua umur 25 – 30 hari setelah semai dengan jumlah bibit padat antara 20 – 30 batang per lubang tanam. Teknologi padi hazton mengarah kepada pertanian organik, dimana penggunaan pupuk kimia sedapat mungkin bahan organik dengan bantuan dekomposer. Pemanfaatan pupuk hayati, pupuk organik dan agensia hayati menjadi ciri pengembangan padi dengan Teknologi Hazton. Komponen yang lain kurang lebih sama dengan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) Padi yang direkomendasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Dalam upaya mendukung pencapaian sasaran produksi padi tahun 2017 melalui dana APBN telah dialokasikan di daerah (Kabupaten/Kota/Provinsi) kegiatan padi melalui Budidaya Padi Teknologi Hazton seluas 50.000 hektar. Cara budidaya padi menggunakan teknologi Hazton sebenarnya mulai diperkenalkan pada tahun 2012 di Kalimantan Barat. Kata Hazton berasal dari singkatan dua penemu teknologi budidaya padi yang dikembangkan di Kalimantan Barat yaitu Haz dari Ir. H. Hazairin, Ms dan Ton dari nama Anton Kamarudin Sp. M.Si. Kriteria spesifik Budidaya Padi Teknologi Hazton Dalam pelaksanaan Budidaya Padi Teknologi Hazton untuk pengembangan seluas 50.000 hektar, maka kriteria spesifik yang harus dipenuhi yaitu : 1) Lokasi kegiatan diutamakan pada lokasi baru (Perluasan Areal Tanam) dan atau Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP) dan atau pada lokasi yang produktivitasnya masih rendah. Lokasi baru dapat melalui pemanfaatan sawah yang telah dicetak tahun 2014-2016, sedangkan peningkatan indeks pertanaman melalui pemanfaatan jaringan irigasi tersier (JIT) yang telah direhabilitasi; 2) Lokasi kegiatan diutamakan daerah yang rawan serangan keong emas, produktivitas masih rendah dan tingkat pertumbuhan anakan kurang. Budidaya Padi Teknologi HaztonBerikut ini tahapan dalam budidaya dengan Teknologi Hazton meliputi :Persiapan LahanRumput dan jerami dibersihkan (dipotong atau dengan herbisida) kemudian lakukan pengolahan tanah, sekaligus aplikasikan pupuk organik/kandang sebanyak 500-1.000 kg/hektar dan SP- 36 sebanyak 150 kg/ha.Sterilisasi LahanProses sterilisasi lahan tanam dapat dilakukan dengan menggunakan 1 sachet DECOPRIMA (100 gr), dilarutkan dalam 1-2 liter air didiamkan selama 3-6 jam kemudian diencerkan untuk 100 liter air, dan disemprotkan merata menggunakan sprayer di jerami yang telah disebarkan merata di lahan. Pastikan kondisi jerami tetap lembab/berair (macak-macak) supaya proses dekomposisi berjalan optimum. Keperluan untuk 1 ha sawah sebanyak 400 liter/hektar atau 4-5 sachet.Persiapan BenihBenih padi yang dibutuhkan adalah sekira 100-120 kg/hektar dan pilihlah benih unggul.Imunisasi BenihBenih direndam dengan air yang dicampur BactoPlus Padi selama 24 jam. Satu tablet BactoPlus Padi untuk 5-10 kg gabah.Pemeraman BenihSetelah diperam dalam karung goni lembab selama 24-48 jam, benih tumbuh tunas dan akar siap ditabur/disemai di pesemaian. Kemudian benih yang sudah diperam (sudah keluar akar) ditabur merata di bedengan pesemaian. Agar terhindar serangan burung, benih yang telah ditabur dipukul-pukul/dibenamkan sedikit di dalam lumpurImunisasi Padi di Pesemaian (saat umur 7-15 hari setelah semai)Proses ini menggunakan 1 tablet Bactoplus kemudian dilarutkan 100 cc air, dibiarkan 6-12 jam, dicampur air 15 liter (1 tangki semprot).Umur BibitUmur bibit 25-30 hari ditanam dengan 20-30 bibit/lubangJarak TanamPengaturan jarak tanam dilakukan dengan menggunakan tanam pindah sistem jajar legowo (2:1) dengan jarak (20-40)cm x 25 cm.PemupukanAplikasi pupuk urea 50 kg dan NPK 50 kg pada umur 5-7 hari setelah tanam.Aplikasikan PPC (Pupuk Pelengkap Cair) pada umur 7, 17, 27 dan 37 hari setelah tanam.Aplikasi probiotik Bactoplus Padi pada umur padi: 12, 24, dan 45 hari setelah tanam, dapat dicampur dengan insektisida (Bahan aktif : Abamiktin 2 cc/liter).Aplikasi Pupuk Susulan: Pupuk Urea 50 kg, NPK 100 kg, dan KCl 50 kg pada umur 25 hari setelah tanam.Pengendalian OPTPrinsip pengendalian organisme pengganggu (OPT) tanaman adalah meminimalisasi kerusakan dan kehilangan hasil panen, tanpa mengganggu keseimbangan biologi biota lahan sawah. Pengendalian OPT menerapkan pendekatan PHT, berbasis pada pemantauan keberadaan OPT dan musuh alaminya. Pengendalian OPT dimulai saat pengolahan tanah, persemaian, hingga fase generatif tanaman, berdasarkan pada hasilpemantauan.Panen dan PascapanenPanen tepat waktu dengan benar menjamin perolehan hasil panen secara kuantitas maupun kualitas, yang akan menentukan tingkat pendapatan usahatani padi.Pelaksanaan panen perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Panen ketika 95% bulir menguning; 2) Potong sepertiga bagian atas batang menggunakan sabit bergerigi atau sabit tajam; 3) Volume tumpukan padi hasil panen maksimal 20-30 kg dengan alas karung supaya gabah yang rontok tidak hilang; 4) Padi segera dirontok menggunakan power thresher dengan alas terpal sebagai penampung gabah.Pelaksanaan Pascapanen perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Gabah dibersihkan dari kotoran menggunakan blower atau penampi; 2) Gabah dijemur hingga mencapai kadar air 13-14% (gabah kering simpan/gks) kemudian disimpan dalam karung. Bagi para petani yang memiliki lahan dengan kesuburan sedang, serangan keong tinggi, tenaga kerja rendah, pengairan agak sulit diatur silahkan mencoba budidaya sistem hazton ini. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Padi Tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.2) http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id3) Berbagai Sumber