Loading...

Budidaya Tanaman Kangkung Organik Di Desa Reudeup Aceh Besar

Budidaya Tanaman Kangkung Organik Di Desa Reudeup Aceh Besar
Tanaman kangkung ( Ipomoea sp ) merupakan jenis tanaman sayuran daun, pasti kita sering memakan kangkung dan tentunya masyarakat Indonesia menyukai sayur kangkung. Selain rasanya enak, kangkung juga mengandung gizi yang tinggi seperti vitamin A, B dan C serta beberapa bahan mineral seperti Zat besi yang bermanfaat bagi kesehatan diantaranya: Meningkatkan daya tahan tubuh secara alami karena mengandung Vitamin C yang tinggi. Menjaga kesehatan tetap sehat, karena karotenoit, luteinnya dan Vitamin A nya tinggi sehingga bisa mencegah katarak. Kangkung yang kaya zat besi bisa jadi salah satu rekomendasi makanan buat penderita anemia Banyaknya anti oksidan yang terkandung dalam kangkung bisa mencegah potensi kangker Kangkung bisa mencegah terjadinya kerusakan organ hati, Karena mengandung antioksi dan enzim yang memiliki fungsi detoks. Mengatasi insomnia dengan kandungan selenium dan zing yang bisa ngantuk dan rileks. Pengolahan tanah sangat penting di lakukan untuk budidaya sayuran khususnya kangkung, di desa Reudeup pengolahan di lakukan dengan menggunakan cangkul yang diolah secara baik serta di berikan pupuk organic. Karena tanaman kangkung mempunyai siklus panen cepat sebaiknya kita dapat menebarkan pupuk lebih cepat dengan cara mendiamkan selama 2-3 hari di bedengan sebelum tanam. Setelah dilakukan pengolahan tanah di buat bedengan dengan lebar 1 meter dan panjang di sesuaikan dengan luas lahan, sedangkan jarak antar bedeng 30 – 40 cm. Jarak antar bedengan berfungsi sebagai saluran pemeliharaan dan pemanenan. Petani kangkung didesa Reudeup melakukan penanaman kangkung dengan 2 cara yaitu dengan di tebar langsung di bedengan dan dengan cara di tunggal. Kelemahan cara ditebar langsung adalah boros penggunaan benih dan memerlukan perkerjaan yang terampil agar hasil tebar merata. Dengan cara di tunggal kita bisa mengatur jarak tanam dengan jarak 20 x 20 cm tiap lubang 2-5 biji sehingga didapakan kerapatan populasi tanaman yang ideal. Pemupukan dalam budidaya kangkung tidak di perlukan pupuk yang intensif cukup di lakukan pemupukan awal saja sudah cukup untuk memberikan nutrisi pada tanaman hingga panen. Penanaman kangkung di desa Reudeup menggunakan kotoran ternak kambing sebagai pupuk dasar. Pemupukan tambahan dapat di lakukan apabila tanaman terlihat kurang subur atau warna sayuran kurang hijau. Pemupukan tambahan dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk organic cair ( POC ). Dalam pemeliharan tanaman kangkung, penyiraman sangat penting di lakukan karena kangkungmemerlukan banyak air untuk pertumbuhannya. Namun bila curah hujan tinggi daun yang di hasilkan akan jelek. Penyiraman dapat dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari dengan intensitas yang cukup. Hal selanjutnya adalah penyiangan, walaupun kangkung merupakan merupakan tanaman siklus cepat adakalanya tanaman muda kalah bersaing dengan rumput. Terutama saat penebaran benih awal, pertumbuhan dari benih menjadi tanaman relatif agak lama sehingga potensi terselip gulma cukup tinggi sehingga harus dilakukan penyiangan gulma dengan cara mencabutnya. Dalam budidaya tanaman sayuran ini tidak luput dari pengendalian hama dan penyakit, adapun hama yang sering menyerang pada budidaya tanaman kangkung antara lain Belalang, Ulat Grayak ( Spodotera Litura ), dan kutu daun. Gejala yang ditimbulkan dari serangan Ulat grayak ini adalah daunnya bolong-bolong dan pinggiran daun bergerigi bekas dari gigitan. Sedangkan gejala dari serangan kutu daun membuat tanaman kerdil dan daun melengkung karena kutu daun menyerap cairan dari daun tanaman. Adapun Penyakit yang biasanya menyerang adalah penyakit kerat putih (Albigo ipomoeae panduratae ). Gejala dari serangan penyakit ini akan muncul bercak putih pada daun kemudian akan meluas. Dalam budidaya kangkung darat organic, penangganan hama harus dilakukan secara terpadu. Untuk mengurangi resiko serangan hama dan penyakit perlu dilakukan rotasi tanam, mengatur jarak tanam dan melakukan penyiraman yang tepat dan bisa juga dengan menggunakan pestisida hayati seperti daun nimba, gadung, dan sereh wangi. Budidaya kangkung dari awal sebar hingga panen memakan waktu 30 – 45 hari. Pemanenan bisa di lakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara di potong dan di cabut, khusus untuk kangkung organik di desa reudeup di lakukan pemanenan dengan cara di cabut. Ditulis Oleh Rospianda, SP ( Penyuluh WKPP Bukit Baro II, BPP Montasik )