Loading...

Budidaya Tanaman Sagu (Metroxylon spp) Berbasis Kearifan Lokal

Budidaya Tanaman Sagu (Metroxylon spp) Berbasis Kearifan Lokal
Sagu merupakan sumber karbohidrat dan dapat dijadikan bahan pembuatan etanol untuk substitusi bahan bakar minyak. Apabila pati sagu dimanfaatkan bukan hanya untuk bahan pangan, tetapi juga untuk pembuatan etanol, maka ketergantungan pada bahan bakar minyak sampai di perdesaan akan terjamin dan berkesinambungan. Dengan demikian petani akan bergairah mengolah dan membudidayakan tanaman sagu karena harganya akan lebih kompetitif, sehingga berdampak pada kesejahteraan petani.Persiapan bahan tanamBahan tanam sagu berasal dari jenis-jenis sagu yang unggul, terutama dari potensi produksi pati yang tinggi seperti Molat, Tuni, Ihur, Makanaru, dan Rotan di Maluku. Sedangkan jenis sagu di Papua yang berduri yaitu Para, Rondo, Wimir, Witar, dan yang tidak berduri yaitu Osukulu, Yeba dan Folo. Perbanyakan bibit dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Pada cara generatif, benih yang digunakan harus sudah matang fisiologis, tidak terdapat cacat, memiliki besar rata-rata dan memiliki tunas. Sedangkan cara vegetatif, benih yang digunakan yaitu benih yang berasal dari tunas yang berumur kurang dari satu tahun, memiliki berat 2-3 kg dengan diameter berkisar antara 10-13 cm, dan dipilih dari pohon induk yang sehat. Pendongkelan anakan dari tanaman induk dilakukan menggunakan dodos. Selanjutnya dilakukan perendaman bibit dalam larutan fungisida. Persiapan lahanSagu tumbuh pada lahan berlumpur, air tanah berwarna cokelat dan bereaksi agak asam, serta sangat toleran terhadap pH 3,5-6,5. Tanaman sagu juga tahan terhadap salinitas hingga 10 ms/cm. Pada fase muda, sangat tahan terhadap genangan dan keragaman. Lahan yang baik bagi sagu adalah lahan dengan genangan kurang dari 6 bulan dan jeluk air tanah lebih dari 100 cm pada musim kemarau. Budidaya tanaman sagu sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan. Sebelum ditanami benih sagu, lahan harus dibersihkan dari tanaman besar, semak/belukar, dan perdu. Jika lokasi di lahan rawa atau gambut, dilakukan pembangunan kanal-kanal air untuk pengaturan sistem drainase dan sebagai jalan produksi, transportasi, distribusi pekerja dan sarana produksi. PenanamanSebelum penanaman sagu dilakukan pembuatan lobang tanam dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm. Selanjutnya diberi pupuk dasar/organik. Jarak antar tanaman 8-10 m dengan sistem tanam segi empat. Penanaman dilakukan saat musim penghujan atau tergantung ketersediaan air di lokasi pertanaman. Daun benih dipangkas 30-50 cm dari banir untuk memperkecil transpirasi, dan diberi naungan. Penanaman sagu hanya dilakukan satu kali, selanjutnya hanya dilakukan pengelolaan anakan per rumpun, sebaiknya terdiri atas 8-10 tanaman sagu dengan fase pertumbuhan berbeda.Pemeliharaan TanamanPemeliharaan tanaman meliputi pengendalian gulma, pengendalian OPT, penjarangan anakan, serta pengamanan lokasi pengembangan (pencegahan kebakaran). 1. Pengendalian gulma baik secara mekanis maupun kimiawi (kondisi lahan kering). Pada umur 3-4 tahun dilakukan penyiangan agar hama dan penyakit tidak mudah menyerang tanaman sagu tersebut, dan mengurangi kebakaran. Penyiangan dilakuan dengan sabit, cangkul, tangan dan sebagainya. Hasil penyiangan dapat dipendam maupun dibuat kompos, namun jika terdapat hama pada gulma, maka sebaiknya gulma dibakar.2. Penjarangan anakanPenjarangan anakan dilakukan untuk mengatur jumlah populasi dan pertumbuhan anakan. Anakan baru yang muncul harus dipilih dan diusahakan selalu mengelilingi induknya. Anakan yang tidak dikehendaki pada setiap rumpun dipangkas setiap tiga bulan. Setiap rumpun disisakan 10 pohon dengan umur tanaman yang bervariasi, sehingga dapat dipanen setiap tahun 1 pohon.3. PemupukanUnsur hara yang diperlukan diantaranya kalium, kalsium dan magnesium. Pemupukan dibenamkan, melingkar pada sekeliling rumpun. Pupuk diberikan pada tanaman sagu yang masih muda , dilakukan hingga 1 tahun menjelang masa panen, dilakukan 1-2 kali setahun, pada awal musim penghujan.4. Hama dan penyakit penting tanaman saguHama penting tanaman sagu diantaranya adalah anai-anai, kumbang sagu, ulat sagu dan babi, sedangkan penyakit yang menyerang umumnya bercak kuning yang disebabkan oleh cendawan Cercospora sp. pada daun. Gejala penyakit ini adalah daun berbercak-bercak coklat dan dapat mengakibatkan seluruh daun berbercakkk-bercak kering atau berlubang-lubang. Bila serangan cukup hebat, kanopi tanaman sagu Nampak meranggas. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lingkungan dan dengan pemaka Bagian ujung bataang mulai membesar (membengkak) sebagai tanda awal keluarnya bunga.ian fungisida.5. PemanenanTanaman sagu yang siap dipanen mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a). umur tanaman sekitar 10-12 tahun dan ukuran batang dan tinggi terbesar dalam satu rumpun; b). jumlah daun di pucuk /mahkota berjumlah antara 3-4 pelepah dan daun baru yang muncul mulai memendek; c). belum muncul bunga (bagian ujung batang mulai membesar (membengkak) sebagai tanda awal keluarnya bunga.; d). Duri pada pelepah yang baru mengalami pemendekan. Keterlambatan panen menyebabkan penurunan rendemen pati yang sangat tinggi.Cara pemanenan yaitu pohon sagu dipotong hingga mendekati bagian akar menggunakan gergaji mesin maupun kampak. Batang sagu dibersihkan dari pelepah hingga hanya manyisakan bagian gelondongan batang sagu saja yaitu sepanjang 6-15 m. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian).Sumber: 1. Pedoman Budidaya Sagu (Metroxylon spp) yang baik. Direktorat Jenderal Perkabunan. Kementerian Pertanian. 2014.2. Budidaya Tanaman Sagu. Kerjasama Ditjen Perkebunan dan Institut Pertanian Bogor.3. Ps://agroteknologi.web.id4. http://agroteknologi.web.id/cara-budidaya-tanaman-sagu/