Cara yang efektif dalam mengecambahkan benih Pala Tanaman Pala (Myristica spp.) merupakan tanaman perkebunan yang banyak dikembangkan oleh masyarakat. Terutama di beberapa sentra pala yang tersebar hingga Indonesia Timur. Sejak jaman Belanda tanaman Pala merupakan tanaman rempah yang banyak dicari oleh bangsa Eropa. Negara Indonesia masih sebagai Negara pengekspor Pala tertinggi di dunia. Tanaman Pala bernilai tinggi karena biji dan Fuli memiliki nilai ekonomis yang baik. Tanaman Pala merupakan rempah asli Indonesia yang dimanfaat kan oleh industry karena kandungan minyak atsirinya. Minyak atsiri pala memiliki kandungan anti oksidan, anti bakteri, anti jamur. Tanaman Pala berumur 25-50 tahun dapat menghasilkan 160 kg/buah/tahun yang terdiri daging buah, biji sejumlah 22,50 kg, dan fuli 3 kg.Masalah dalam tanaman perkebunan termasuk Pala dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu: usia tanaman produksi, pada umumnya petani tidak melakukan pemeliharaan yang baik dan penggunaan bibit dari benih yang tidak baik. Kebutuhan petani adalah memiliki benih Pala dengan mutu yang baik. Mutu yang dimaksud adalah mutu fisiologis yang tinggi dan terstandarisasi. Adapun syarat-syarat dalam melakukan perbenihan sudah di tentukan. Ditjenbun (2013) dalam Melati (2015) mengemukakan bahwa benih Pala yang digunakan harus berasal dari: (1) klon unggul yang telah dilepas secara nasional maupun lokal; (2) usia 11-13 bulan; (3) bebas dari HPT; (4) tinggi > 50 cm dan telah disertifikasi. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengecambahkan adalah: (1) Dormansi benih; (2) media tanam dan; (3) tingkat kemasakan benih.(1) Dormansi Benih.Dormansi benih pala disebabkan oleh kulit benih. Definisi dormansi adalah benih tidak berkecambah namun tidak rusak. Benih yang sehat namun tidak dapat berkecambah disebut juga dormansi. Ada beberapa cara untuk membuat benih dapat berkecambah, antara lain: (a) skarifikasi; (b) perendaman benih; (c) penusukan.A. Skarifikasi.Untuk meningkatkan vaibilitas benih dapat dilakukan dengan memberi perlakuan skarifikasi dengan cara mengamplas kulit benih sehingga air dapat menyerap ke dalam. Perlakuan ini bertujuan meningkatkan daya tumbuh benih karena kulit benih sulit menyerap air. Saleh (2002) mengemukakan perlakuan skarifikasi pada tanaman Aren dengan dua lubang terbukti dapat meningkatkan jumlah akar.B. Pematahan dormansi dengan perendaman.Metode ini dilakukan dengan cara melakukan perendaman benih. Tujuan perlakuan adalah melunakkan kulit benih sehingga kulit mengelupas. Kulit Pala yang mengelupas akan memudahkan proses penyerapan air maupun udara. Walaupun jumlah kebutuhan air sangat dipengaruhi oleh jenisnya. Hal lain yang mempengaruhi adalah suhu. Gunasekaran (2001) mengemukakan bahwa GA 100 ppm/Giberelin meningkatkan daya kecambah benih.(2) Media Tanam Hal lain yang mempengaruhi perkecambahan benih adalah lingkungan. Media tanam yang baik akan membuat pertumbuhan tanaman yang baik. Kegunaan media tanam yang baik akan menyebabkan pertumbuhan tanaman yang baik dapat terlihat dari tumbuhnya batang yang tegak dan kokoh, serapan air baik, sehingga mampu menyerap unsur hara dengan maksimal. Pada prinsipnya benih akan terlihat berkecambah dengan cepat dan baik bila didukung oleh media tanam yang dibutuhkan olehnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khandekar et, al (2006) dan Abirami et al (2010) dalam Melati (2015) tentang media perkecambahan benih menggunakan dedak padi, media pasir, serta campuran vermikompos dan serabut kelapa menunjukkan bahwa dedak padi jauh lebih cepat dibandingkan dua media lainnya. Sedangkan yang paling lama terhadap kemunculan kecambah adalah dengan media vermikompos dan serabut kelapa.(3) Tingkat Kemasakan BenihBanyak petani yang melakukan pengambilan benih yang berasal dari buah yang dipanen namun belum masak benar. Hal ini keliru sebab kandungan yang belum masak benar tidak tersedia: (a) nutrisi yang cukup; dan (b) embrio yang sempurna. Ciri-ciri benih telah masak dapat terlihat kasat mata seperti: (a) warna kulit buah kuning kusam; (b) kulit benih terlihat coklat tua; (c) fuli berwarna merah cerah. Adapun cara lainnya menurut Sangakkara (1993) buah Pala yang baru jatuh ke tanah menunjukkan bahwa buah sudah mencapai tingkat masak fisiologis. Dengan proses pengeringan dan penyimpanan yang baik maka benih akan memiliki daya viabilitas yang baik. Namun demikian, benih Pala yang yang masak selama masa transportasi dari kebun juga dapat dikategorikan masak. Benih Pala yang baik memiliki kadar air yang tinggi. Adapun setelah benih yang dipanen bila disimpan pada suhu ruang dapat menyebabkan menurunnya daya kecambah benih.Daftar PustakaSangakkara U, R,. 1993. Effect of Time Harvest and Storage Conditions On Germination of Nutmeg (Myristica Hout). Journal of Agronomy and Crop Science. Vol. 170. P. 97-102.Khandekar R, G,. Dhashora L,. K,. Joshi, G, D,. Gadre, U, A,. Jain, M. C,. Haldavnekar, P, C,. Pande, V, S,. 2006. Effect of Rooting Media on Germination and Seedling Growth of Nutmeg (Myristica Fragrans Houtt). Journal Spic Aromatic Crops. 15 (2). P. 100-104.Melati. 2015. Perkecambahan Benih Pala dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Prosiding Seminar Teknologi Budidaya Cengkeh, Lada, dan Pala. Balitbangtan. Hal: 231-238. Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.com Penyuluh Pertanian BBP2TP