Jagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman menyerbuk silang. Di Indonesia dikenal dua kelompok varietas jagung, yaitu jagung komposit atau disebut juga bersari bebas dan jagung hibrida. Jagung bersari bebas atau komposit yaitu jagung hasil perkawinan silang tunggal atau perkawinan tunggal penghasil varietas yang memiliki hasil tertinggi. Sedangkan jagung hibrida dihasilkan dari perkawinan antara dua tau lebih induk yang memiliki keunggulan, yang merupakan generasi pertama hasil persilangan antara induk berupa galur murni, galur harapan atau varietas bersari bebas. Dalam suahatani jagung, kelompok varietas jagung komposit cukup banyak diusahakan oleh petani. Salah satu keunggulan dalam usahatani jagung komposit adalah kemudahan dalam memperoleh benih. Petani dapat memperoleh benih tanpa harus membeli, umumnya mereka memilih tongkol jagung yang bagus dan baik untuk dijadikan benih. Namun cara memperoleh benih tersebut tidak dinajurkan. Untuk memperoleh benih jagung dengan kualitas baik perlu memperhatikan teknik produksi yang dianjurkan. Berikut teknik memproduksi benih jagung komposit. Penyiapan Lahan Untuk membuat tanah lebih gembur dan membantu perkecambahan, penyiapan lahan sebaiknya dilakukan minimal dua minggu sebelum tanam. Penyaiapan lahan dilakukan dengan mengolah tanah secara sempurna. Pada saat pengolahan lahan, buat saluran drainase, khususnya pada lahan-lahan yang berpotensi tergenang air. Sebelum tanam pastikan adanya fasilitas pengairan. Pada musim hujan, pengairan tidak akan mengalami masalah, tetapi pada musim kemarau perlu disediakan pompa air. Kerapatan Tanaman Untuk mengatur kerapatan tanaman, dilakukan dengan mangatur jarak tanam. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 cm di antara baris, dan 20 cm dalam baris dengan jumlah biji tiap lubangnya sebanyak satu biji. Pada saat tanam dianjurkan menggunakan tali untuk mengatur jarak tanam agar benih ditanam dengan jarak yang seragam. Arah baris pada lahan datar dibuat searah dengan arah sinar matahari, tetapi pada lahan miring disesuaikan dengan kontur lereng. Pemupukan dan Aplikasi Pestisida Pupuk diberikan optimal dan pestisida diaplikasikan jika diperlukan. Pengendalian gulma sangat penting dilakukan agar tanaman tidak mengalami cekaman kekurangan hara. Takaran dan waktu pemberian pupuk untuk percobaan jagung pada umumnya direkomendasikan diberikan tiga kali, yaitu pada saat tanam, umur 25-30 hari setelah tanam, dan umur 45-50 hari setelah tanam. Pada saat tanam, pada pertanaman 1 hektar, diberikan 100 kg Urea, 200 kg SP36, dan 50 kg KCl/ha. Pada pemupukan kedua (umur 25-30 hari) pupuk yang diberikan adalah Urea sebanyak 150 kg dan 50 kg KCl. Pemberian pupuk kedua dilakukan setelah penyiangan pertama dan pembumbunan. Pemupukan ketiga (Umur 45-50 hari) diberikan 150 kg urea/ha. Pemupukan ketiga diberikan pada saat tanaman menjelang berbunga.Pemberian pupuk, dilakukan pada lubang pupuk yang telah dipersiapkan sebelumnya, kemudian ditutup dengan tanah.hal ini dilakukan agar pupuk tidak menguap. Pengairan Perlu dipersiapkan dan diatur, terutama pada musim kemarau. Pada musim hujan, perlu dibuatkan saluran drainase untuk menghindari terjadinya genangan air. Usahakan penetapan waktu tanam telah mempertimbangkan panen berlangsung pada saat tidak ada hujan (kelembaban rendah). Sumber: Sania Saenong, M. Azrai, Ramlah Arief, dan Rahmawati. Pengelolaan Benih Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros. Foto: http://eproduk.litbang.go.id Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com