Loading...

CARA MENGENDALIKAN GULMA TANAMAN KEDELAI

CARA MENGENDALIKAN GULMA TANAMAN KEDELAI
Gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya dapat merugikan tanaman utama. Keberadaan gulma dapat menjadi pesaing dalam penyerapan unsur hara bagi tanaman dan menjadi inang bagi hama. Sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa keberadaan gulma pada pertanaman kedelai dapat menurunkan hasil 12 hingga 80%. Untuk itu, pengendalian gulma menjadi salah satu aktivitas yang harus dilakukan dalam usahatani kedelai. Pengendalian gulma umumnya dilakukan petani dengan cara manual, sehingga dibutuhkan waktu yang lama, tenaga kerja yang banyak. Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk penyiangan. Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar pengendalian gulma menjadi lebih efektif dan efisien, yaitu: Kenali Jenis Gulma Mengenali jenis dan sifat gulma merupakan langkah awal untuk menentukan pengendalian yang tepat. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa gulma yang biasa tumbuh pada pertenaman kedelai sekitar 56 spesies, terdiri dari 20 jenis rerumpuran, 6 jenis teki-tekian, dan 30 jenis berdaun lebar. Beberapa jenis rerumputan yang merugikan tanaman kedelai diantaranya Eleusine indica (rumput belulang), Cynodon dactylon (rumput Bermuda/ rumput grinting) Digitaria ciliaris (rumput ceker ayam) dan Echinocloa colonum. Gulma berdaun lebar diantaranya: Amaranthus sp. (bayam duri), dan Ageratum conyoides (babadotan). Berdasarkan lama hidup, pada tanaman kedelai, jenis gulma yang sering dijumpai adalah gulma semusim. Gulma jenis ini umumnya memliki sifat tumbuh cepat dan dapat menghasilkan biji dalam periode yang amat singkat, sehingga cukup sulit untuk mengendalikannya. karena selalu tumbuh pada saat pengolahan tanah yang dilakukan setiap musim dan didukung oleh kelembaban air yang cukup. Waktu yang Tepat Waktu yang tepat untuk mengendalikan gulma pada tanaman kedelai adalah waktu periode kritis tanaman, yaitu periode di mana tanaman sangat peka terhadap faktor lingkungan. Pada tanaman kedelai, gulma mulai banyak tumbuh kira-kira dua minggu setelah tanam, sehingga pada saat tanaman berumur 2-3 minggu perlu segera dilakukan pengendalian atau biasa disebut dengan tindakan penyiangan gulma. Penyiangan kedua dilakukan 6 minggu setelah tanam atau setelah selesai masa berbunga. Cara Tepat Pengendalian gulma pada tanaman kedelai yang umum dilakukan petani adalah: cara mekanis, cara kimia, rotasi tanaman, penyiapan lahan (olah tanah), cara biologi dan pengendalian gulma secara terpadu. 1. Cara MekanisCara ini paling umum dilakukan oleh petani. Cara mekanis dilakukan dengan menggunakan alat sederhana seperti cangkul, sabit, koret maupun landak. Cara ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Untuk menyiang 1 hektar, setidaknya dibutuhkan 20-40 orang.Di samping itu, dalam pelaksanaannya sering dilakukan secara terlambat karena sangat tergantung ketersediaan tenaga kerja. Dari sisi hasil dalam menekan pertumbuhan gulma, cara mekanis dapat memberikan hasil yang cukup bagus. Namun demikian, cara mekanis ini sulit dilakukan bila tanaman kedelai sudah berumur 4 minggu karena kanopi sudah saling menutup. 2. Cara KimiaCara kimia dilakukan dengan menyemprotkan bahan kimia atau lebih dikenal herbisida. Bahan ini dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan gulma. Keuntungan dari penggunaan herbisida antara lain dapat menghemat waktu dan tenaga kerja. Untuk mengendalikan gulma dalam 1 hektar, dapat dilakukan oleh satu orang tenaga kerja dalam waktu 1-2 hari. Penyemprotan herbisida perlu memperhatikan jenis gulma, waktu penyemprotan, dan takaran. 3. Kultur TeknisCara kultur teknis dapat dilakukan dengan olah tanah, pengaturan jarak tanam, penggunaan mulsa, dan pergiliran tanaman. Meskipun pengaturan jarak tanam dapat memberikan peluang gulma untuk tumbuh lebih baik dibandingkan dengan cara sebar, namun dalam pelaksanaan pengendalian gulma menjadi lebih mudah dan waktunya lebih efisien pada cara tanam teratur. Pemberian mulsa jerami padi sebanyak 5 ton per hektar dengan cara disebar terbukti cukup efektif untuk menekan perkembangan gulma hingga 65%, dan dapat meningkatkan hasil. Pergiliran tanaman dapat memotong siklus pertumbuhan jenis gulma tertentu, karena adanya perbedaaan gulma yang berkembang pada setiap jenis komoditas tanaman. Pergliran tanaman atau pengaturan pola tanam yang dianjurkan berdasarkan iklim dan lokasi tanam. Untuk lahan kering beriklim basah dengan pola tanam padi/jagung/ubi kayukedelai-kacang-kacangan atau jagung tumpangsari kedelai-kedelai-bera. Pada lahan sawah tadah hujan dengan pola tanam padi-kedelai-palawija lain, sawah irigasi semiteknis seperti pola tanam padi-kedelai-kedelai, sawah dengan irigasi teknis seperti padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai. Pemilihan komoditas tanaman untuk pola tanam didasarkan pada ketersediaan sumberdaya air. 4. Cara TerpilihPengendalian ini dilakukan dengan cara memilih dan membuang jenis-jenis gulma yang sulit dikendalikan dan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dari tanaman kedelai serta meninggalkan gulma yang dianggap tidak merugikan tanaman. Biasanya gulma yang dipilih untuk dicabut adalah gulma yang keras, pertumbuhannya melebihi tanaman kedelai seperti Amaranthus sp. (bayam duri), Paspalum conyugatum (rumput paitan), dan Imperata cylindrica (alang-alang). 5. Pengendalian Gulma TerpaduDilakukan dengan cara mengombinasikan semua cara pengendalian gulma baik secara langsung (manual, mekanis, dan kimiawi) maupun dengan cara tidak langsung (penyiapan lahan, cara tanam, air, irigasi, varietas, dan rotasi tanaman). Sistem pengendalian terpadu biasanya ditekankan kepada pendekatan agroekosistim untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Sumber: Radjit dan Runik. 2013. Pengendalian Gulma pada Kedelai. Dalam Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. http://pplgampengrejo.blogspot.co.id/ Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com