Loading...

CARA PENGENDALIAN HAMA BUAH NAGA AGAR AMAN DIKONSUMSI

CARA PENGENDALIAN HAMA BUAH NAGA AGAR AMAN DIKONSUMSI
Pengendalian hama tanaman merupakan salah satu kegiatan budidaya yang perlu diperhatikan. Caranya dapat secara fisik maupun dengan penggunaan pestisida kimia atau organik. Pengendalian hama tanaman buah naga sebaiknya dilakukan dengan cara fisik dan menggunakan pestisida organik, agar buahnya aman dikonsumsi. Penggunaan pestisida kimia perlu dihindari atau sangat dibatasi dengan jumlah sedikit saja. Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan akan berakibat buruk terhadap kesehatan, lingkungan dan lebih banyak biaya. Berikut beberapa hama tanaman buah naga dan cara pengendalian secara fisik maupun organik.Sumber Gambar: Institut Pertanian Bogor. Hama Tungau (Tetranycus sp.) Hama Tungau berukuran sangat kecil, berbentuk menyerupai laba-laba serta bersifat polyfag, yaitu menyerang hampir segala jenis tanaman. Serangga dewasa berukuran kurang lebih 1 mm. Hama tungau aktif di siang hari. Siklus hidup tungau diselesaikan antara 14-15 hari. Hama tungau menyerang tanaman buah naga dengan cara menghisap cairan batang maupun cabang. Akibatnya di permukaan kulit batang atau cabang tanaman terserang akan muncul bintik-bintik kuning atau cokelat. Serangan berat akan menyebabkan tanaman buah naga tumbuh tidak normal. Pengendalian hama tungau pada budidaya organik bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang hama tungau diberikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar dengan pengocoran) dan melalui bagian tanaman degan penyemprotan. Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci)Imago serangga dewasa berukuran 1-1,5 mm, berwarna putih, serta sayapnya ditutupi lapisan lilin bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok di permukaan bagian bawah cabang. Jika tanaman disentuh biasanya serangga akan beterbangan seperti kabut (kebul putih). Gejala serangan kutu kebul pada tanaman buah naga ditandai adanya bercak nekrotik akibat rusaknya sel-sel serta jaringan tanaman pada batang atau cabang yang terserang. Ekskresi kutu kebul berupa madu yang merupakan media tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis berlangsung tidak normal. Selain kerusakan langsung pada tanaman, hama kutu kebul merupakan serangga sangat berbahaya karena berperan sebagai vektor penular virus tanaman. Kerugian akibat serangan kutu kebul dapat mencapai 20-100%. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 60 jenis virus yang berpotensi ditularkan oleh kutu kebul. Pengendalian hama kutu kebul pada budidaya organik dapat dilakukan secara kultur teknis dengan menerapkan metode strip-planting, yaitu menanam tanaman perangkap mengelilingi lahan/kebun sehingga membentuk pagar yang rapat. Tanaman perangkap yang efektif antara lain, jagung, bunga matahari, kacang panjang, dan buncis. Selain penerapan strip planting, pengendalian gulma juga harus dilakukan secara rutin. Gulma sangat berpotensi sebagai inang kutu kebul. Untuk mengurangi populasi serangga bisa melakukan pemasangan alat perangkap yellow trap sebanyak 40 buah/ha. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami hama kutu kebul, antara lain sebagai berikut: 1) Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae) yang memiliki siklus hidup 18-24 hari memiliki kemampuan memangsa nimfa kutu kebul sebanyak 200-400 ekor. Satu ekor kumbang betina mampu menghasilkan telur sebanyak 3.000 butir; 2) Parasitoid Encarcia formosa, satu ekor serangga betinanya mampu menghasilkan telur sebanyak 100-200 butir. Penyemprotan pestisida nabati seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut harus dilakukan secara rutin (interval penyemprotan 3-4 hari sekali). Untuk memperkuat kondisi tanaman agar mampu bertahan dari infeksi virus yang ditularkan oleh hama kutu kebul maka diperlukan penyemprotan mengunakan nutrisi organik secara rutin, interval penyemprotan setiap 7 hari sekali. Pemberian nutrisi organik bertujuan memberikan asupan yang cukup pada tanaman, sehingga tanaman tetap sehat. Hama Kutu Sisik (Pseudococcus sp.)Hama ini lebih menyukai bagian batang atau cabang tanaman buah naga yang tidak terkena sinar matahari. Batang atau cabang tanaman terserang akan telihat kusam. Pengendalian hama Peudococcus sp. pada buah naga bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3 - 4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar dengan pengocoran) dan melalui bagian tanaman dengan penyemprotan. Hama Kutu Batok (Aspidiotus sp.)Hama kutu batok menyerang tanaman buah naga dengan cara mengisap cairan batang atau cabang, sehingga bagian tanaman terserang berwarna kuning. Pengendalian hama (Aspidiotus sp.) pada budidaya organik bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar dengan pengocoran) dan melalui bagian tanaman dengan penyemprotan. BekicotHama bekicot menyerang tanaman buah naga terutama ketika musim hujan. Bekicot menyerang tanaman buah ini di malam hari dengan cara menggerogoti batang atau cabang tanaman sehingga bagian tanaman terluka berpotensi terinfeksi oleh penyakit sekunder yang bisa disebabkan oleh fungi maupun bakteri. Pengendalian hama bekicot bisa dilakukan secara fisik yaitu melakukan pengontrolan lahan, mengambil berkicot yang menempel di tanaman (cara ini lebih efektif dilakukan saat malam hari, karena bekicot memiliki aktifitas tinggi di malam hari). BurungGangguan burung atau codot (Jawa) umumnya jarang terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Biasanya hama burung menyerang buah masak. Pengendalian hama ini cukup melakukan pemanenan tepat waktu agar dapat mengurangi resiko serangan burung tersebut. Semut Umumnya, semut akan muncul saat tanaman buah naga mulai berbunga. Bunga memiliki aroma khas serta mengeluarkan cairan berasa manis. Hama semut menyerang dengan mengerubungi bunga yang baru kuncup, selanjutnya mengakibatkan kulit buah akan berbintik-bintik cokelat, sehingga mengakibatkan kualitas buah turun dan harga rendah. Pengendalian hama semut pada buah naga secara organik dilakukan dengan menaburkan kapur di sekitar batang utama.Semoga bermanfaat (Penulis: SUSILO ASTUTI HANDAYANI – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber Informasi:1. Anonim, 2003. Menanam Dragon Fruit/Buah Naga. MIM Mojokerto. 2. Rahma. 2013. Delapan Bahan Pestisida Alami Untuk Tanaman Organik Anda. Standard Operating Procedure (SOP, Direktorat Budidaya Tanaman Buah. Direktorat Jenderal Hortikultura.3. Standar Nasional Indonesia (SNI) 6729 Tahun 2013. Sistem Pertanian Organik.4. Dari berbagai sumber.