Loading...

CATATAN PERJALANAN MENGUNJUNGI SEBUAH TEMPAT YANG DISELIMUTI HALIMUN ( DESA ENCLAVE PINOGU KAB BONE BOLANGO PROPINSI GORONTAL

CATATAN PERJALANAN MENGUNJUNGI SEBUAH TEMPAT YANG DISELIMUTI HALIMUN ( DESA ENCLAVE PINOGU KAB BONE BOLANGO PROPINSI GORONTAL
Didataran Gorontalo yang merupakan daerah pertanian, terdapat sebuah tempat yang sangat indah dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Sebuah desa yang setiap waktu diselimuti halimun sangat indah. Nama tempat itu adalah PINOGU. Sebuah desa enclave yang berada nun jauh didalam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ( disebut demikian karena Taman Nasional ini sebagian wilayahnya masuk wilayah kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara di kecamatan Dumoga) Sejarah terbentuknya desa tersebut penduduknya merupakan migrasi dari pengikut pejuang nasional Nani Wartabone dijaman penjajahan Belanda. Migrasi penduduk desa Suwawa kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango (salah satu kabupaten yang ada di provinsi Gorontalo), dilakukan sekitar era tahun 1940an dimana pada saat itu rakyat Gorontalo seperti ditempat lainnya di Indonesia melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dan tempat ini yang jaraknya sekitar 45 km dari pusat kecamatan (Suwawa) merupakan lokasi yang sangat stategis untuk menjadi tempat persembunyian para pejuang kemerdekaan. Pemerintahan desa Pinogu dipimpin oleh seorang kepala desa yang mempunyai wilayah seluas 41000 ha dan dibagi menjadi 5 dusun dengan penduduk kurang lebih 2256 jiwa. Memasuki desa ini bisa ditempuh melalui 2 jalur . Jalur pertama melalui jalan setapak yang apabila dilalui oleh penduduk asli ataupun remaja 17 - 19an tahun ditempuh selama kurang lebih 5-6 jam tapi saya SEWAKTU BERKUNJUNG bisa sampai didesa tersebut dengan waktu tempuh 14 jam...... wow lamanya. Banyak yang saya lihat pada saat menyusuri jalan setapak yaitu melalui tempat bertelurnya burung maleo; sepanjang perjalanan diiringi oleh burung rangkong, kera yang bergelantungan sepanjang dahan pohon dan sempat berpapasan dengan anoa. Hal tersebut memberikan nuansa yang tak terkira dan tidak bisa dilukiskan keindahannya dan pasti juga tidak bisa diganti dengan nilai uang berapapun jumlahnya. Jalur kedua yang bisa dilalui adalah dengan melewati jalan yang telah dibuka oleh pemerintah menembus taman nasional. Jalan ini sempat menimbulkan kontroversi . Hanya sayangnya jalur ini cukup jauh dengan selisih sekitar 15 km, sehingga kurang diminati oleh penduduk lokal. Yang melalui jalan ini umumnya tamu yang berani menumpang kendaraan roda 2 yang biayanya mencapai Rp.75 000.- sekali jalan atau Rp. 150 000,- pp per orang. Memang dibutuhkan keberanian ataupun kadar adrenalin yang lebih tinggi diatas rata-rata mengingat jalan yang akan dilalui kendaraan roda 2 diatas jalan pengerasan yang rusak parah, dengan batu-batu besar yang bermunculan diatasnya. Itulah sebabnya kendaran roda 2 yang meliwati jalan tersebut berjenis trail yang khusus untuk melalui jalan-jalan dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Masyarakat desa Pinogu merupakan penduduk yang mata pencahariannya adalah petani. Dengan kondisi yang terisolir seperti ini, kendala yang dialami petani adalah mereka sangat sukar memperoleh sarana produksi pertanian (pupuk, benih unggul dan lainnya); serta kesulitan dalam memasarkan hasil produksinya. Dengan dukungan alam yang masih kaya dengan bahan organik, kegiatan bercocok tanam petani didesa ini masih menerapkan sistim pertanian tradisional. Satu hal yang patut memperoleh penghargaan adalah kemauan penduduk sekitar untuk mempertahankan keasrian lingkungannya yaitu dengan menjaga lingkungan dari kerusakan yang justru dilakukan oleh para pendatang yang berwujud pencari kayu ataupun pencari rotan. Kreatifitas petani juga pantas dihargai yaitu untuk mengairi sawah seluas kurang lebih 95 ha , mereka membuat kincir air dari bambu dan kayu; petani tersebut sempat memperoleh penghargaan sebagai penyelamat lingkungan . Hal lain yang membanggakan didesa ini adalah produksi beras yang mencukupi kebutuhan masyarakat desa tersebut, ternak ayam yang cukup banyak dan juga hasil pertanian lainnya seperti cacao, kopi dan juga vanili. Untuk tanaman buah-buahan yang menonjol adalah buah durian, langsat dan pisang. Khusus buah durian terdapat areal pertanaman buah durian sejumlah 5 ha yang berisi durian unggul lokal dan rasa buahnya sangat disenangi oleh masyarakat. Pada saat saya berkunjung didesa tersebut rata-rata petani yang menanam padi menyimpan hasil panen dalam bentuk gabah kering yang jumlahnya 250 karung gabah kering per rumah petani, ada 8 rumah yang sempat saya hitung . Petani juga melakukan kegiatan beternak ayam dan sapi serta kambing. Khusus ternak ayam setiap rumah rata-rata mempunyai ternak ayam sejumlah 100 ekor per rumah yang dipelihara dengan cara tradisional. Potensi sebaik ini disayangkan sangat sukar pemasarannya , mengingat kondisi jalan akses ke desa tersebut yang sangat sukar untuk dilalui. Selama ini alat transportasi lainnya yang digunakan petani adalah dengan menggunakan ternak kuda. Kuda digunakan untuk pengangkut beban hasil- hasil pertanian setiap hari pasar yaitu setiap hari sabtu. Pasar tersebut ada didesa perbatasan dengan Taman Nasional yaitu didesa Tulabolo yang merupakan desa terakhir sebelum masuk ke Taman Nasional. Melihat catatan tersebut diatas, dapat dicermati bahwa desa indah yang diselimuti halimun akan membaik perekonomiannya apabila ada akses jalan kedesa tersebut. Namun yang terjadi adalah dilemma buah simalakama; apabila akses jalan dibuka yang notabene adalah membuka akses keTaman Nasional maka akan terjadilah pembabatan hutan di Taman Nasional tersebut. Sementara fungsi Taman Nasional selain sebagai paru-paru dunia dan sebagai daerah penyanggga air; juga sebagai tempat yang menyimpan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi apabila kerusakan tersebut benar-benar terjadi. Disisi lain untuk meningkatkan pendapatan petani membutuhkan jalan akses untuk menjual hasil pertaniannya. Keduanya sangat sukar untuk dipenuhi oleh pemerintah. Kearifan petani lokal yang patuh pada hukum adat; menyelamatkan keberadaan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Itulah sebabnya pemandangan indah yang tak pernah hilang dimakan waktu adalah menyaksikan iringan kuda petani yang membawa hasil pertanian bersama petani lain yang memikul pisang atau buah durian ; yang turun dari puncak gunung diiringi halimun dibelakangnya; menuju pasar desa Tulabolo sambil menikmati secangkir kopi yang khas pedesaan dengan aroma jahe dikopi tersebut. Dipasar inilah terjadi transaksi perdagangan yang dapat menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar desa Tulabolo dan juga sebagai tempat petani desa Pinogu menjual hasil panennya. Ingin mencoba petualangan baru untuk menambah khasanah pengetahuan? Datanglah ketempat yang indah yang diselimuti halimun setiap saat, saya akan dengan senang menjadi penunjuk jalannya. Ir. Tri Inayati MM/195910211987102001 (KJF Bakorluh Provinsi Gorontalo) Nasrun Napu, SP (Admin Level 3)