Loading...

Cekaman Gulma Terhadap Tanaman Budidaya (weed Stress)

Cekaman Gulma Terhadap Tanaman Budidaya  (weed Stress)
Pendahuluan Kerugian yang ditimbulkan akibat gulma berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman budidaya adalah sebagai berikut: padi 10,8%, sorgum 17,8%, jagung 13%, tebu 15,7%, cokelat 11,9%, kedelai 13,5%, dan kacang tanah 11,8% (Rogomulyo 2013). Kuantitas hasil tanaman menurun karena gulma dapat mengadakan kompetisi terhadap kebutuhan cahaya matahari, air dan unsur hara dengan tanaman yang diusahakan (Song et al. 2017). Menurut Siddiqui et al. (2010) sifat sangat kompetitif dari gulma berumput dapat dikaitkan dengan pertumbuhannya yang cepat di lahan gandum. Selanjutnya, menjadi anggota keluarga Poaceae yang sama dengan gandum, gulma ini sama persyaratan nutrisinya seperti gandum. Sementara itu, menurut Purwanti (2014) melaporkan gulma dominan yang paling mengganggu pertanaman kedelai hitam adalah gulma berjenis daun lebar yaitu Boerhavia erecta L. dan gulma teki yaitu Cyperus rotundus L. Keberadaan gulma di pertanaman menurunkan pertumbuhan dan hasil kedelai hitam pada umur 6 minggu setelah tanam (Purwanti 2014). Inawati (2000) mengatakan bahwa penurunan hasil panen diduga karena adanya kompetisi antara tanaman dengan gulma dan adanya allelopati. Derajat kompetisi yang terjadi antara tanaman dan gulma dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain varietas dan jenis gulma. Lebih lanjut dikatakan bahwa gulma Cyperus rotundus mampu menekan jumlah bintil akar kedelai varietas Wilis dan Pangrango. Hal ini disebabkan bakteri bintil akar memerlukan unsur P yang cukup tinggi untuk pembentukan bintil akar sedangkan gulma memiliki kemampuan yang kuat untuk menyerap unsur P tersebut. Oleh karena itu, kehadiran gulma akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan dalam penyerapan unsur hara P oleh kedelai sehingga pembentukan bintil akar menjadi tertekan. Menurut Hasanuddin et al. (2012) bahwa terlihat tinggi tanaman tidak bergulma 85,62 cm dan tanaman berdensitas gulma 6 gulma polibag-l setinggi 73,12 cm, hasil ini tidak memperilahtkan adanya beda nyata. Diduga karena antara gulma dan tanaman belum terjadi persaingan dalam unsur hara, air dan faktor tumbuh lainnya, karena tanaman kedelai lebih tinggi dan pada S. nodiflora sehingga tidak mampu bersaing dengan tanaman kedelai untuk memperoleh cahaya (Hasanuddin et al. 2012). Chozin (2006) mengatakan bahwa kehilangan hasil akibat gulma pada tanaman budidaya ditentukan efisiensi kompetisi antara tanaman dan gulma, jenis gulma, tingkat kesuburan tanah, varietas, alelopati, pengelolaan air, jarak tanam, kepadatan gulma dan caIra tanam. Bobot basah bintil akar pada pengamatan 45 HST berpengaruh nyata terhadap densitas gulma yaitu pada perlakuan tanpa gulma 5,75 g dan pada perlakuan densitas 6 gulma polibag-l , yaitu 1,12 g. Hidayat (2010) mengemukakan rhyzobium lebih mudah terangsang dalam rhyzosfer (lingkungan perakaran) legum daripada yang bukan legume (Hasanuddin et al. 2012). Persaingan gulma menurunkan aktivitas nitrat reduktase dan klorofil-a, klorofil-b dan kandungan klorofil total. Di antara perlakuan herbisida, pendimethalin pada 1350,50 ga.i.ha-1 menghasilkan kandungan klorofil dan aktivitas nitrat reduktase yang lebih tinggi yaitu 1.98 mg g-1 fr.wt (Jadhav 2007). Persaingan dan allelopathy adalah interaksi utama, yang penting antara keduanya tanaman dan gulma Allelopathy dibedakan dari persaingan karena tergantung bahan kimia senyawa ditambahkan ke lingkungan sementara persaingan melibatkan pemindahan atau pengurangan faktor penting atau faktor dari lingkungan, yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Berbagai kajian fisiologi dari senyawa alelopati menunjukkan peranannya yang penting dalam mempengaruhi aktivitas pemanjangan dan pembelahan sel, fotosintesis, respirasi, permeabilitas membran, pembukaan stomata, penyerapan ion mineral serta metabolisme protein dan asam nukleat (Saputra 2012). Lebih lanjut dilaporkan, gulma yang tumbuh pada pertanaman kedelai mempengaruhi besarnya bobot kering polong yang dihasilkan. Hal ini erat hubungannya dengan luas daun tanaman yang terbentuk sebagai organ fotosintesis. Akibat persaingan dengan gulma, maka pembentukan luas daun menjadi terhambat sehingga proses fotosintesis sebagai penghasil bahan kering juga mengalami hambatan. Teki (Cyperus rotundus L.) mampu tumbuh kuat dan subur di lahan pertanian tropis dan subtropis (Ameena et al 2013). Termasuk gulma penting, pesaing kuat tanaman budidaya, sulit dikendalikan. Dominan tumbuh diberbagai jenis tanah. Daya adaptasi sangat tinggi, mampu tumbuh dengan baik di lingkungan yang kurang menguntungkan, siklus fotosintesis dengan C4, mengeluarkan zat alelopati (alelopath) yaitu asam salisilat atau O-hydroxybenzoic acid dari daun dan umbi. Alelopath tersebut mampu menekan pertumbuhanan proses fotosintesis tanaman budidaya dengan cara menghambat proses penyerapan unsur hara terutama nitrogen dan air. Pengukuran aktivitas fotosintesis tanaman indikator terhadap suatu senyawa tunggal alelopati tertentu menunjukkan adanya pengurangan laju fotosintesis. Yu et al. (2003) melaporkan bahwa senyawa alelopati dari Cucumis sativus yang diujikan pada tanaman yang sama meningkatkan aktivitas enzim peroksidase dan superoksida dismutase dari akar, mengurangi konduktansi stomata dari daun, mengurangi laju transpirasi, serta menurunkan laju asimilasi bersih. Mekanisme Penghambatan Gulma Mekanisme penghambatan gulma terhadap tanaman budidaya pertanian dapat melalui : Persaingan Gulma-Tanaman Budidaya dalam Memperebutkan Air Sebagaimana dengan tumbuhan lain, gulma membutuhkan banyak air untuk hidup. Air diserap dari dalam tanah, kemudian sebagian besar diuapkan (transpirasi) dan hanya sekitar satu persen saja yang dipakai untuk proses fotosintesis. Pada setiap kilogram bahan organik, gulma membutuhkan 330 sampai 1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali kebutuhan pertanaman. Contoh: gulma Helianthus annus membutuhkan air sebesar 2,5 kali tanaman jagung. Persaingan memperebutkan air terjadi pada pertanian kering atau di tegalan (Rogomulyo 2013). Densitas gulma yang banyak dan perakarannya yang luas maka daya penyerapan air akan lebih besar dari pada tanaman budidaya, sehingga menyebabkan tanaman budidaya akan mengalami defisit air. Secara spesifik saat tanaman mengalami defisit air, tanggapan fisiologis tanaman meliputi daun layu, pengurangan luas daun, absorpsi daun, dan stimulasi pertumbuhan akar dengan mengarahkan nutrisi ke bagian bawah tanah tanaman. Tanaman lebih rentan terhadap kekeringan selama pengembangan pembungaan dan benih (tahap reproduksi). Sebagai tambahan, asam absisat (ABA), hormon stres tanaman, menginduksi penutupan stomata daun (pori mikroskopik yang terlibat dalam pertukaran gas), sehingga mengurangi kehilangan air melalui transpirasi, dan menurunkan laju fotosintesis. Tanggapan ini memperbaiki efisiensi penggunaan air tanaman dalam jangka pendek (Oliveira et al. 2013). Persaingan Gulma-Tanaman Budidaya Memperebutkan Hara Gulma menyerap lebih banyak unsur hara daripada pertanaman. Pada bobot kering yang sama, gulma mengandung kadar Nitrogen dua kali lebih banyak daripada jagung, fosfat 1,5 kali lebih banyak, 3,5 kali lebih banyak Kalium, 7,5 kali lebih banyak Kalsium dan lebih dari 3 kali lebih banyak Magnesium. Dapat dikatakan bahwa gulma lebih rakus akan unsur hara daripada tanaman yang dikelola manusia (Rogomulyo 2013). K sangat penting untuk banyak proses fisiologis, seperti fotosintesis, translokasi fotosintat ke organ, perawatan turgidity dan aktivasi enzim dalam kondisi stres (Mengel & Kirkby 2001). Kekurangan kalium menyebabkan pengurangan fiksasi dan fotosintesis dan pemanfaatan fotosintat. Gangguan ini mengakibatkan kelebihan elektron yang diproduksi pada fotosintesis dan dengan demikian merangsang produksi ROS dengan mengintensifkan transfer elektron ke O2 (Waraich et al. 2011) . Kekurangan K juga menyebabkan peningkatan generasi O2 yang bergantung pada NADPH pada sel akar yang mengindikasikan bahwa peningkatan produksi ROS selama transportasi elektron fotosintesis dan reaksi enzim pengoksidasi NADPH dapat dilibatkan dalam kerusakan membran dan degradasi klorofil pada tanaman kekurangan K (Waraich et al. 2011). Persaingan Gulma-Tanaman Budidaya Memperebutkan Cahaya Pada cahaya matahari yang redup (di musim hujan) berbagai tanaman berebut untuk memperoleh cahaya matahari. Tumbuhan lain yang lebih pendek, muda dan kurang tajuknya akan dinaungi oleh tumbuhan yang terdahulu, yang menyebabkan pertumbuhannya akan terhambat. Tumbuhan yang berjalur fotosintesis C4 lebih efisien menggunakan air, suhu dan sinar, sehingga lebih kuat bersaing berebut cahaya pada keadaan cuaca mendung. Oleh karena itu penting untuk memberantas gulma dari famili Cyperaceae dan Gramineae dari sekitar rumpun-rumpun padi yang berjalur C3 (Liu et al. 2009). Di atas permukaan tanah, persaingan untuk cahaya antara jagung dan gulma terjadi, namun, tampaknya, persaingan semacam itu tidak terjadi secara langsung oleh kepadatan foton fluks (Rajcan & Swanton 2001), karena gulma lebih rendah dari pada tinggi jagung. Namun, meski tanpa adanya naungan pada tanaman jagung, gulma mempengaruhi pertumbuhan jagung melalui radiasi. Tanaman menyerap radiasi sinar merah (660-670 nm) dan mencerminkan radiasi merah secara jauh (730-740 nm). Rasio FR/R memainkan peran penting dalam induksi banyak perubahan morfologis pada tanaman (pemanjangan batang, dominasi apikal, percabangan yang berkurang, daun tipis, distribusi luas daun, dan lain-lain). Tanaman jagung yang bebas dari gulma akan memperoleh sinar matahari lebih banyak karena sinar matahari yang datang akan langsung diserap oleh daun dan digunakan untuk fotosintesis sehingga tanaman tumbuh normal. Ketidakberdaan gulma disekeliling jagung akan menyebabkan akar jagung tidak mengalami kompetisi dalam memperebutkan hara dan air. Cahaya matahari yang jatuh di tanah tidak akan dipantulkan sehingga rasio FR/R pada jagung akan normal dan tidak akan tampak sebagai deteksi adanya tanaman selain jagung. Gulma di sekitar tanaman jagung akan menyerap sinar matahari dan di pantulkan kembali sehingga menurunkan rasio FR/R yang kemudian diserap oleh jagung sebagai deteksi pertama akan adanya tanaman lain. Menurunnya rasio FR/R memberi signal bahwa jagung harus mempertahankan diri dengan cara memperlebar beberapa daunnya untuk menaungi gulma agar tidak memperoleh sinar matahari. Perakaran jagung yang dipadati oleh gulma menyebabkan adanya persaingan unsur hara dan air sehingga akar tidak normal dan pertumbuhan diatas tanah juga tidak normal (Rajcan & Swanton 2001). Selain itu, gulma akan mempengaruhi aktivitas fotosintesis jagung melalui reduksi area daun yang disebabkan oleh campur tangan akar gulma pada akar jagung. Cara lain dimana gulma akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung di atas tanah akan melalui emisi senyawa organik volatil biogenik. Senyawa ini dapat bertindak baik sebagai allelokimia dan sebagai sinyal untuk mendeteksi tanaman tetangga (Kruse et al. 2000). Sementara itu, pada tanaman yang dinaungi oleh gulma maka akan terjadi penurunan FR/R sehingga saat diterima oleh Phytocrome B, D,E akan mempengaruhi jumlah hormone tertentu seperti etilen, giberelin dan auksin. Sehingga tanaman akan merespon secara morfologi dengan elongasi, peningkatan tinggi tanaman dan pelebaran daun secara tidak normal (Silva et al. 2009) Alelopati dan dampaknya terhadap tanaman budidaya Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa dan zat-zat beracun dari akarnya (root exudates atau loacha-tes) atau pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut Allelopathy (Watson et al 1996). Pengaruh alelokimia bersifat selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap organisme lain. Menurut Einhellig (1995) alelokimia pada tumbuhan dibentuk di berbagai organ, mungkin di akar, batang, daun, bunga dan atau biji. Organ pembentuk dan jenis alelokimia bersifat spesifik pada setiap spesies. Pada umumnya alelokimia merupakan metabolit sekunder yang dikelompokkan menjadi 14 golongan, yaitu :asam organik larut air, lakton, asam lemak rantai panjang, quinon, terpenoid, flavonoid, tanin, asam sinamat dan derivatnya, asam benzoat dan derivatnya, kumarin, fenol dan asam fenolat, asam amino nonprotein, sulfida serta nukleosida. Pelepasan alelokimia pada umumnya terjadi pada stadium perkembangan tertentu, dan kadarnya dipengaruhi oleh stres biotik maupun abiotik. Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan (Rohman 2001). Pengaruh Alelopati terhadap Penyerapan Hara Telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa senyawa-senyawa alelopati dapat menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuh-tumbuhan. Ini merupakan salah satu mekanisme yang dihasilkan oleh adanya interaksi antar tumbuhan yang lebih dikenal sebagai kompetisi. Sebagai contohnya, asam salisilat yang termasuk ke dalam golongan fenol, telah dibuktikan dapat menghambat pengikatan kalium oleh tumbuh-tumbuhan (Saputra 2012). Asam-asam salisilat dan ferulat merupakan senyawa penghambat penyerapan unsure K oleh akar terutama pada pH yang rendah. Penghambatan Alelopati terhadap Pembelahan Sel Sebagai contohnya kumarin dapat menghambat pembelahan sel akar secara total pada bawang beberapa jam setelah perlakuan. Nazimah et al. (2013) terpen yang mudah menguap yang dihasilkan Salvia leucophylla merupakan senyawa penghambat pembelahan sel pada kecambah mentimun. Senyawa ini juga menghambat pembelahan sel pada beberapa jenis bakteri tanah. Penghambatan Alelopati terhadap Pertumbuhan Hormon pertumbuhan asam indolasetat (IAA) dan giberelin (GA) telah dibuktikan mempengaruhi pembesaran sel pada tumbuh-tumbuhan. IAA dijumpai pada tumbuh-tumbuhan baik dalam bentuk yang aktif maupun yang tidak dan menjadi tidak aktif oleh adanya enzim IAA oksidase. Beberapa alelokimia diketahui mempengaruhi aktivitas IAA oksidase. Sebagai contoh asam monohidroksibenzoat yang merangsang aktivitas IAA oksidase, sedangkan asam 3,4-dihidroksibenzoat dan asam ferulat merupakan senyawa penghambat yang sangat kuat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa fenol dan glikosida flavonoid memegang peranan penting di dalam mengontrol aktivitas IAA oksidase pada tumbuh-tumbuhan. Beberapa senyawa penghambat lainnya dilaporkan juga dapat menghambat aktivitas GA yang berperan di dalam merangsang pertumbuhan. Di antara senyawa-senyawa ini ada dari golongan fenol dan tanin yang mudah terhidrolisis (Risvi et al. 1999). Penghambatan Alelopati terhadap Aktivitas Fotosintesis Perbagai jenis herbisida sintesis yang beredar di pasaran mempunyai aktivitas menghambat fotosintesis sejak awal pertumbuhan kecambah. Kecambah akan mati segera setelah terkena cahaya yang sering kali terjadi sesaat sebelum tumbuhan muncul di permukaan tanah. Senyawa penghambat fotosintesis kemungkinannya adalah senyawa yang dapat bergerak melalui electron atau bersama-sama energi atau kombinasi keduanya. Laporan tentang adanya pengaruh alelokimia di dalam reaksi fotosintesis adalah sangat langka. Belz R (2007) memperoleh hasil dari pengamatannya bahwa segera setelah perlakuan dengan skopoletin yang termasuk golongan kumarin, aktivitas fotosintesis pada bunga matahari, tembakau dan bebayaman menjadi menurun. Senyawa-senyawa ini juga dapat menyebabkan penutupan stomata/mulut daun. Masih belum diketahui pengaruhnya yang lebih awal, apakah mulut daun tertutup dulu baru fotosintesis menurun atau sebaliknya. Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa asam fenolat dapat menurunkan kandungan klorofil dan kecepatan fotosintesis pada tanaman kedelai. Pengaruh Alelopati terhadap terhadap Respirasi Senyawa-senyawa kimia dapat menstimulir atau menghambat respirasi. Pada keadaan yang memberikan stimulasi (meningkatkan penyerapan O2) proses fosforilasi akan dihambat dan menyebabkan pembentukan ATP (energi) menjadi berkurang. Juglon yang termasuk golongan senyawa asam aromatic, fenolat, aldehid, flavonoid dan kumarin juga mempengaruhi terjadinya fosforilasi. Beberapa senyawa yang diisolasi dari tanah telah memberikan pengaruh menghambat respirasi akar. Terpen yang dihasilkan oleh Salvia juga mempunyai pengaruh yang sama terhadap mitokondria mentimun dan oat (Yu 2003). Pengaruh Alelopati terhadap Perubahan Ketegangan Membran Banyak senyawa yang mempunyai aktivitas biologis berpengaruh terhadap penurunan daya permeabilitas membran. Membran tumbuh-tumbuhan sangatlah sukar untuk dipelajari secara mendalam. Senyawa fenol diketahui meningkatkan pelepasan ion kalium dari jaringan-jaringan akar. Tempat yang mula-mula sekali dipengaruhi oleh asam salisilat adalah plasmolema, pada pH yang rendah plasmolema dan tonoplasma akan menjadi menipis dan kebocoran ion K akan mudah terjadi. Beberapa senyawa yang tergolong ke dalam fenol juga menunjukkan pengaruh yang dapat meningkatkan permeabilitas membran saraf pada siput. Beberapa pathogen tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan penyakit layu daun juga mengeluarkan racun, seperti asam fusarat atau α–pikolinat (Anonim, 2007). Pengaruh Alelopati terhadap Penghambatan Aktivitas Enzim Sebagai contoh enzim fosforilase pada tomat dihambat oleh adanya asam khlorogenat, kafein dan katekol. Tanin juga dapat menghambat aktivitas enzim-enzim peroksidase, katalase, selulose, poligalakturonase, amylase dan enzim-enzim lain sejenisnya. Sekresi akar beberapa tanaman pangan juga dilaporkan dapat menghambat aktivitas enzim katalase dan peroksidase dari gulma bebayaman dan Chenopodium sp. Penghambatan enzim-enzim yang memegang peranan penting di dalam perkecambahan biji-biji gulma dapat dimanfaatkan sebagai herbisida alami yang sangat efektif (Karim 2015). Alelopati merupakan mekanisme interaksi antar tumbuhan melalui metabolit sekunder yang disebut alelokimia, yang berguna untuk adaptasi tumbuhan terhadap perubahan lingkungan. Pada umumnya alelokimia dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman disekitarnya . Fenol merupakan senyawa utama yang berperan sebagai alelokimia dan dihasilkan tumbuhan dalam jumlah berlimpah. Menurut Concenço et al. (2012) mekanisme fitotoksik alelokimia terutama melalui peningkatan produksi Reactive oxygen species (ROS), namun pengaruh alelokimia bersifat spesifik. Tumbuhan tertentu toleran terhadap alelokimia karena kemampuannya dalam menghambat absorpsi alelokimia, kompartementasi, detoksifikasi atau diaktifkanya sistem pertahanan antioksidan. Asam absisat (ABA) dan asam salisilat (AS) adalah fitohormon yang terlibat pada respon adaptif terhadap bebagai cekaman (Fujita et al 2006). Keduanya berperan sebagai sinyal kimia pada respon tumbuhan terhadap cekaman biotik dan abiotik dan sebagai pemicu pada berbagai perubahan proses fisiologis dan perkembangan yang menyebabkan adaptasi terhadap kondisi cekaman. Pengaruh kompetisi alelopati dipengaruhi oleh konsentrasi senyawa alelokimia. Hal ini diteliti oleh Yu et al. (2003) pada bibit ketimun yang diinkubasi dalam larutan yang mengandung eksudat akar pada 50 atau 100 mg/L, ekstrak akar (akar berat kering:air suling) pada (w/v) 1:100, 1:50, 1:25 dan 1:10 (dan turunan asam benzoat dan sinamat pada 0,25 mM). Menunjukkan aktivitas peroksidase dan superoksida dismutase meningkat secara signifikan setelah paparan agen allelopathic. Peroksidasi membran juga ditingkatkan dengan eksudat akar, ekstrak akar dan beberapa asam yang diuji. Allelopathic agents mengurangi daun stomata conduc-tance dari 1,28 mol m-2 s -1 sampai 0,02-0,33 mol m-2s-1 Transpirasi daun berkurang 67% dengan eksudat akar pada 100 mg/L, dengan 85-95% oleh ekstrak akar, dan 51-87% oleh asam. Tingkat asimilasi bersih juga dihambat oleh 29% oleh eksudat akar pada 100 mg/L, dengan 49-83% dengan ekstrak akar, dan 7-43% dengan asam. Mekanisme pertahanan diri tanaman terhadap gulma Daya kompetisi Tanaman budidaya ada yang memiliki daya kompetisi rendah dan tinggi terhadap suatu jenis gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IR64 merupakan varietas dengan daya kompetisi rendah terhadap gulma (Rodenburg et al 2009). Sebab perakaran yang kurang banyak dan laju pertumbuhan yang kurang cepat dari pada gulma. Sehingga IR 64 tidak mampu bersaing dengan gulma dalam memperebutkan hara. Ketahanan Fisik Padi dengan Fatmawati merupakan kompetitor kuat terhadap gulma E.crus-galli (Guntoro, 2012). Daya kompetisi tanaman padi terhadap gulma terjadi melalui ketahanan fisik. Ketahanan fisik melalui jumlah anakan, laju pertumbuhan, dan tinggi tanaman. Sehingga mampu mendahului pertumbuhan gulma. Usman et al (2005) melaporkan Fatmawati pada kondisi bergulma, memiliki tinggi tanaman tertinggi dibandingkan dengan genotipe lain, diikuti oleh galur IR85640-114-2-1-3 dan BIO-R100 sedangkan tinggi tanaman terendah ditunjukkan oleh galur KP1-3-1- 2 dan KP4-42-2-1. Tanamn yang ternaungi akan mengalami elongasi sebagai respon akan adanya gulma penggangu. Elongasi akan membantu tanaman dengan bertambah tinggi untuk mencari matahari (Liu et al. 2009). Ketahanan Kimiawi Ketahanan kimiawi melalui alelopati berupa senyawa kimia momilakton. Junaedi et al (2005) menyatakan padi varietas Sathi memiliki senyawa alelopati yang kuat penghambatannya terhadap E. crus-galli. Usman et al (2005) melaporkan galur yang menunjukkan bobot terberat pada kondisi bergulma berturut-turut IR10L-1-155, IR10L-152 dan IR10L-133 dengan penurunan bobot gabah per rumpun 52%, 70%, dan 61%, hal ini disebabkan oleh kemampuan padi menghasilkan senyawa alelokimia yang menghambat pertumbuhan gulma. Kesimpulan Gulma dapat menimbulkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman budidaya. Penurunan hasil panen disebabkan karena adanya kompetisi antara tanaman dengan gulma dan adanya allelopati. Selain itu, kehilangan hasil akibat gulma pada tanaman budidaya ditentukan efisiensi kompetisi antara tanaman dan gulma, jenis gulma, tingkat kesuburan tanah, varietas, alelopati, pengelolaan air, jarak tanam, kepadatan gulma dan cara tanam. DAFTAR PUSTAKA Ameena, M., Kumari G. George S. 2004. Control of purple nutsedge in okra through integrated management. Indian Journal of Weed Science 45(1): 51–54 Belz R. 2007. Allelopathy in crop/weed interactions – an. Pest Manag Sci 63:308–326. DOI: 10.1002/ps.1320. Chozin, M.A. 2006. Peran Ekofisiologis Tanaman Dalam Pengembangan Teknologi Budidaya Pertanian. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Agronomi. Faperta IPB. 114 hlm. Concenço G, Ignacio Aspiazú, Evander A. Ferreira, Leandro Galon and Alexandre F. da Silva 2012.Physiology of Crops and Weeds Under Biotic and Abiotic Stresses.Applied Photosynthesis.In: Dr Mohammad Najafpour (Ed.), ISBN: 978-953-51-0061-4,InTech,Availablefrom: Echinochloa crus - galli (L) Beauv http://www.intechopen.com/books/applied- photosynthesis/physiology-of-crops-and-weeds-under-biotic-and-abiotic-stresses Leghari SJ, Umed Ali Leghari, Ghulam M, Mahmooda B, Farooque AS.2015. An overview on various weed control practices affecting crop yield. Journal of Chemical, Biological and Physical Sciences. Vol. 6, No. 1; 059-069.www.jjcbs.org Gniazdowska A, Urszula K, Olga A. 2015. Allelopathic Compounds as Oxidative Stress Agents: Yes or NO. Springer International Publishing Switzerland. DOI 10.1007/978-3-319-10079-1_8. Guntoro, D. 2012. Keragaman morfologi dan genetik serta derajat kompetisi beberapa aksesi gulma. terhadap tanaman padi sawah. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Haden, V.R., J.M. Duxbury, A. DiTommaso, J.E. Losey. 2007. Weed community dynamics in the system of rice intensification (SRI) and the efficacy of mechanical cultivation and competitive rice cultivars for weed control in Indonesia. J. Sustain. Agric. 30:5-26. DOI 10.1300/J064v30n04_03 Hasanuddin , Gina E, Safmaneli . 2012. Pengaruh persaingan gulma synedrella nodiflora l. gaertn. pada berbagai densitas terhadap pertumbuhan hasil kedelai. Jurnal Agrista 16 (3) : 146-152. Hidayat M. 2010.Efektifitas Pemupukan Nitrogen dan Multi Isolat Rhizobium dalam Berbagai Formula Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai di Tanah Masam Ulisol. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim. Malang. 65 hal. Inawati, L. 2000. Pengaruh Jenis Gulma terhadap Pertumbuhan, Pembentukan Bintil Akar dan Produksi Kedelai. Skripsi. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. 34 hal. Iqbal J, S. Hussain, A. Ali, A. Javaid. 2012. Biology and management of purple nutsedge (Cyperus rotundus l.). The Journal of Animal & Plant Sciences, 22(2) : 384-389. Jadhav J. 2007. Effect Of Herbicides And Crop Weed Competition On Physiological Aspects In Soybean (Glycine max L.). Thesis. Department of crop physiology. University of agricultural sciences. Dharwad. 64 hal. Junaedi A., W.S. Jung, I.M. Chung, K.H. Kim. 2005. Differentially expressed genes of potentially allelopathic rice in response against barnyardgrass. J. Crop Sci. Biotech. 10:231-236. Kruse, M. M. Strandberg , B. Strandberg. 2000. Ecological Effects of Allelopathic Plants - A Review. National Environmental Research Institute - NERI Technical Report No. 315. Silkeborg, Denmark. 0.1.1.460.4185&rep=rep1&type=pdf Liu J, K Mahoney, P Sikkema, C Swanton. 2009. The importance of light quality in crop-weed competition. Weed Research 49:217-224. DOI 10.1111/j.1365-3180.2008.00687.x Mengel, K., Kirkby, E.A. 2001. Principles of Plant Nutrition. 5th ed., Kluwer Academic Publishers, Dordrecht. Nazimah M., Abdul W.,Farooq M., Chema M., dan Siddique K. 2012. Allelopathy. Allelopathy and Abiotic Stress Ineraction in Crop Plant. Springer.Berlin. Oliveira A, Nara Liidia Mendes Alencar and Eneeas Gomes-Filho.2013. Comparison Between the Water and Salt Stress Effects on Plant Growth and Development. SBN 978-953-51-0933-4, Published:.Agriculture and biological science. http://dx.doi.org/10.5772/54223 Purwanti S. 2014. Pengaruh kompetisi gulma terhadap pertumbuhan, hasil dan daya simpan benih kedelai hitam. In: Kasno A, Adie, Rahmiana (Eds). Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang 5 Juni 2014. Hal.327-336 Rao, V.S. 2000. Principles of Weed Science. 2 nd edition. Oxford & IBH Publ. Com; New Delhi. Pp 7-35. [15] Walia, U.S. (2003). Weed Management. Kalyani pub. New Delhi, India. Pp 20-37. Rajcan I, Swanton C. 2001. Understanding maize-weed competition: resource competition, light quality and the whole plants. Field crop research 71: 139-150. PII : S0378-4290(01)00159-9. Rodenburg, J., K. Saito, G.K. Romain, T. Amadou, M. Mariame, K. Paul. 2009. Weed competitiveness of the lowland rice varieties of NERICA in the Southern Guinea Savanna. Field Crops Res. 114:411-418. DOI 10.1016%2Fj.fcr.2009.09.014] Rogomulyo, R. 2013. Ilmu Gulma. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Rohman, Fatchur. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: Universitas Negeri Malang. Saputra R. 2012. Pemanfaatan biomasa teki (Cyperus rotundus l.) Untuk pengendalian gulma berdaun lebar pada pertanaman kedelai (Glycine max L.). Skripsi. Departemen Agronomi Dan Hortikultura. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 58 hal. Siddiqui I , Rukhsana B, Zil-E-Huma, Arshad J.2010. Effect of six problematic weeds on growth and yield of wheat. Pak. J. Bot., 42(4): 2461-2471. Silva, A.A., Ferreira, F.A., Ferreira, L.R. & Santos, J.B. 2007. Biologia de plantas daninhas,In: Tópicos em Manejo de Plantas Daninhas, Silva, A.A. & Silva, J.F., pp.17-61,Universidade Federal de Viçosa, ISBN 978-857-2692-75-5, Viçosa, Brazil. Song J, Jin-Won Kim, Ji-Hoon Im, Kyu-Jong Lee, Byun-Woo Lee, and Do-Soon Kim.2017.The Effects of Single- and Multiple-Weed Interference on Soybean Yield in the Far-Eastern Region of Russia. Weed Science 65:371–380. DOI :10.1017/wsc.2016.25 Usman, Bambang S , Muhamad S, Dwi G. 2016. Toleransi Galur Harapan Padi Sawah (Oryza sativa L.) pada Persaingan dengan Gulma Echinochloa crus-galli. J. Agron. Indonesia 44 (2) : 111 – 118. Waraich.E. A., Ahmad,R., Ashraf, M. Y. Saifullah, Ahmad, M. 2011. Improving agricultural water use efficiency by nutrient management in crop plants. Acta Agriculturae Scandinavica, Section B - Plant Soil Sci. 61(4), 291-304. DOI 10.1080/09064710.2010.491954 Watson J.D., Weston G., T.A. Baker S.P. Bell A. Gann M. Levine R. Losick. 1996.Allelopathy. Pearson Education, Inc, San Francisco. Widaryanto E. 2010. Pengendalian Gulma. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang. Wortman SE, Davis AS, Schutte BJ,. 2011. Integrating management of soil nitrogen and weeds. Weed Science 59 (2): 162–170. DOI: 10.1614/WS-D-10-00089.1 Yu JQ, Ye SF, Zhang MF, Hu WH. 2003. Effects of root exudates and aqueous root extracts of cucumber (Cucumis sativus) and allelochemicals, on photosynthesis and antioxidant enzymes in cucumber. Journal Biochem Syst Ecol 31:129-139. Doi:10.1016/S0305-1978(02)00150-3. Rokhlani, S.P., M.P. Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal e-mail: rokhlana@gmail.com