Loading...

Dampak Buruk Benih Tidak Berlabel Kelapa Sawit

Dampak Buruk Benih Tidak Berlabel Kelapa Sawit
Pulau Sebatik merupan wilayah administratif kabupaten Nunukan Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan negara bagian Sabah Malaysia, banyak cerita menarik dari pulau terluar dari republik ini, menggunakan dua mata uang yaitu rupiah dan ringgit, rumah yang ruang tamunya berada di wilayah Indinesia dan dapurnya berada di wilayah negara Malaysia dan masih banyak lagi cerita menarik lainnya, hampir seluruh sektor kehidupan termasuk ekonomi, sosial, budaya dan politik di pengaruhi oleh negara tetangga Malaysia. Desa Liang Bunyu kecamatan Sebatik Barat juga yang tidak terlepas dari pengaruh dari negara bagian Sabah Malaysia Pulau sebatik dengan komoditas andalannya adalah kelapa sawit yang tersebar di beberapa kecamatan, termasuk desa Liang Bunyu kecamatan Sebatik Barat yang mempunyai kebun sawit seluas kurang lebih 500 hektar yang sudah menghasilkan dan terus bertambah dengan penanaman kelapa sawit baru (ekstensifikasi). Produktifitas kelapa sawit yang masih rendah yang berkisar antara 1 – 1,5 ton/ha tandan buah segar sedangkan rata – rata produktifitas kebun sawit rakyat adalah 3 ton/ ha. Produktifitas kelapa sawit yang rendah diakibatkan oleh salah satunya adalah penggunaan benih/bibit yang tidak baik ( tidak unggul, berlabel dan bersertifikasi ) inilah salah satu dampak negatif dari pengaruh kehidupan ekonomi di perbatasan, petani yang hidup di perbatasan ini sebelumnya sangat bangga menggunakan bibit/benih kelapa sawit dari negara tetangga Malaysia yang tidak jelas asal usulnya, petani secara diam-diam membeli bibit dari negara tetangga padahal Malaysia sendiri mengambil atau membeli bibit dari Indonesia(Sumatera). Petani yang mempunyai jiwa nasionalis yang tinggi, tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk kehidupan di perbatasan yang sangat menggiurkan, produktifitas kelapa sawitnya dapat mencapai 3 – 3,2 ton /ha tandan buah segar bahkan lebih jika dikelolah dengan baik. Petani kelapa sawit yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang lebih banyak berhasil dalam budidaya kelapa sawit dibandingkan dengan yang tidak masuk dalam kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Peran penyuluh pertanian (PPL) dalam membina petani sawit juga sangat besar peranannya dalam mengedukasi petani-petani sawit kita, selain itu pemerintah dalam hal ini Direktur Jenderal Perkebunan telah menggelontorkan dana lewat program PSR dan Sarana dan Prasarana perkebunan kelapa sawit dengan prioritas daerah yang berada di perbatasan yang bekerjasama dengan BPDPKS, yang bertujuan meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani dan keluarganya. Lewat program ini pemerintah menyediakan : Benih, pupuk dan pestida Alat Pasca panen dan unit pengolahan hasil Jalan kebun dan jalan akses ke jalan umum dan/atau ke pelabuhan Alat transportasi Mesin pertanian Dan lain – lain Program ini diharapkan dapat meningkatkan produktifitas dan mutu kelapa sawit sehingga mempunyai nilai tawar yang tinggi Penulis M/ Ramli / PPL Desa Liang Bunyu