Mimba (Azadirachta indica L.) sudah lama dikenal sebagai bahan pestisida nabati yang sangat ampuh. Konon kabarnya tanaman ini berasal dari India, tetapi sekarang sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tanaman ini mudah ditemui dan umumnya tumbuh liar di pingir-pingir hutan, lereng-lereng, atau di lahan kosong. Sudah ribuan tahun yang lalu mimba telah dimanfaakan sebagai tanaman obat untuk manusia dan hewan di India dan Myanmar. Khususnya di Pulau Bali tanaman ini banyak ditemukan di daerah Kabupaten Negara, Singaraja dan Kerangasem, walaupun demikian di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali tanaman ini ada juga beberapa pohon di pinggir jalan. Bagi Umat Hindu di Bali, tanaman ini dikenal dengan nama "Intaran". Daun intaran biasanya dipakai sebagai sarana upakara di saat memandikan zenasah. Di saat memandikan zenasah, daun intaran ini di taruh pada alis mata, yang melambangkan bahwa bentuk alis seseorang bagaikan seindah daun intaran. Kebanyakan masyarakat/petani yang ada di Kecamatan Marga, dalam upaya pengendalikan OPT tanaman Kubis, Sawi atau sejenisnya lebih cendrung menggunakan Insektisida Kimia, dengan memakai Insektisida Kimia merupakan cara pengendalian yang paling populer dikalangan petani seperti misalnya menggunakan Curacron 500 EC, Buldok 25 EC atau jenis-jenis Insektisida lainnya. Cara ini mudah dilakukan dan mampu menekan populasi hama dalam waktu relatif singkat, mudah didapat dan praktis mengaplikasikannya. Namun pemakaian Pestisida secara berkala, berlebihan dan kurang bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif yang merugikan, seperti terjadinya resistensi, resurgensi, letusan hama sekender, dan matinya musuh alami (Kuspianto, 2004). Pada kesempatan ini kami akan memberikan informasi cara membuat pestisida (sebagai alternatif) yang ramah lingkungan yaitu Pestisida nabati dengan bahan baku daun Mimba/Intaran. Pestisida nabati ini relatif mudah dibuat, bahan bakunya mudah dicari, bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia, ternak dan lingkungan. Pestisida nabati bersifat pukul dan lari (hit and run) yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hama mati maka residunya akan cepat hilang di alam. Umumnya tanaman kubis atau sawi di Kecamatan Marga sering terserangan ulat seperti Ulat Plutella Xylostella L. Dengan demikian pada kesempatan ini, kami akan memberikan informasi tentang Pestisida nabati dengan bahan baku daun Mimba/ Intaran yang mampu mengendalikan hama tersebut. Perlu diketahui, bahwa tanaman Mimba mengandung azadirachtin (C35 H44 O16), meliantriol, salanin, nimbin, dan lainnya. Azadirachtin sendiri mengandung sekitar 17 komponen sehingga sulit untuk menentukan jenis komponen yang paling berperan sebagai pestisida . Bahan aktif ini terdapat pada di semua bagian tanaman , tetapi yang paling tinggi terdapat pada bijinya. Bijinya mengandung minyak sebesar 35 – 45 %. Tanaman Mimba mampu mengendalikan sekitar 127 janis hama dan mampu berperan sebagai fungisida, bakterisida, antivirus, nematisida, serta moluskisida. Kematian hama sebagai akibat dari penggunaan Mimba terjadi pada instar-instar berikutnya atau pada proses metamorfosis. Mimba tidak membunuh hama secara cepat, tetapi berpengaruh terhadap hama pada daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, hambatan pembentukan serangga dewasa, menghambat perkawinan dan komonikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu. Mimba juga berperan sebagai pemandul, mengganggu proses perkawinan serangga hama, menghambat peletakan telur, dan dapat bekerja secara sistemik (Kardinan, 1999). Cara membuat ekstrak daun Mimba dengan konsentrasi 15%, diperlukan bahan sebagai berikut: 1,5 kg daun Mimba di tumbuk halus, kemudaian direndam dengan air sumur (air yang tidak mengandung kaporit) sebanyak 8,5 liter. Rendaman daun Mimba ini dibiarkan lebih kurang 1-2 hari. Sehari sebelum aplikasi rendaman daun Mimba ini dimasukan deterjen sebanyak 20 g (2 sendok makan) dengan tujuan disaat apalikasi ekstak daun Mimba ini bisa melekat pada daun sasaran. Sebaiknya apalikasi dilakukan pada sore hari untuk menghindari penguapan dari sinar matahari. Racun tersebut sebagai racun perut dan sistemik. Pestisida Nabati dari Daun Mimba ini baik untuk mengendalikan hama ulat yang menyerangan tanaman Kubis, Sawi dan jenis naman lainnya. Hama sasaran yang bisa dikendalikan dengan Mimba/Intaran sangat banyak, antra lain: Wereng Padi Punggung Putih (sogotella furcifera, Wereng Coklat (Nilaparvata lugens), Wereng Hijau (Nephotettix virescens), Ulat Tritip (Plutella xylostella), Ulat Pengerek Daun Jeruk (Phillocnistis citrella), Ulat Tanah (agrotis spp), Ulat Grayak (Spodoptera litura), Tungau (Tetranichus spp), Kumbang Badak (Oryctes rhinocheros), Thrips (Heliothrips spp), Lalat Putih (Bemisia tabaci), Semut, Pengerek Batang Pisang (Cosmopolites sordidus), Pengerek Batang Padi, Lembing (Epilachna varivestis), Bubuk Beras (Sitophilus oryzae), dan Buku Jagung (Sitophilus zeamais). Pustaka: 1). Kardinan, Agus (1999), Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. PT. Penebar Swdaya. Jakarta. 2). Kuspianto, I Nyoman (2004). Efektivitas Beberapa Pestisida Nabati Dan Sintetis Terhadap Hama Plutella Xylostella L. Pada Tananam Kubis Di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Universitas Mahasaraswati Denpasar). (I Nyoman Kuspianto,SP. BP3K. Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali).