Komoditi kedelai dikenal memiliki banyak fungsi. Kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati. Bagi masyarakat Indonesia, olahan pangan berbahan baku kedelai sangat disukai. Olahan kacang kedelai yang paling popular adalah tempe, tahu dan kecap. Tempe sering kali dijadikan "makanan wajib" bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran, ketika terjadi kelangkaan kedelai yang berimbas pada langka atau mahalnya tempe seringkali menjadi keresahan di masyarakat. Seiring meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan kedelai nasional pun terus mengalami peningkatan. Namun disisi lain, produksi kedelai nasional mengalami penurunan. Penuruan produksi kedelai salah satunya disebabkan semakin menurunnya luas panen kedelai. Penggunaan lahan pertanian (khususnya lahan sawah) yang pada musim tanam ke II atau ke III semakin berkurang, karena harus bersaing dengan usahatani komoditas lain (diantaranya padi dan jagung). Lahan perkebunan dan lahan kehutanan yang tanamannya masih muda (umumnya dibawah 4 tahun), merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak produksi kedelai. Karakter tanaman yang diusakahan di lahan seperti ini harus memiliki ketahanan terhadap naungan. Usahatani kedelai di sela atau dibawah tegakan tanaman perkebunan dan kehutanan umumnya dilakukan dengan sistem tumpangsari dengan tanaman pangan lain. Balitbangtan melalui Balitkabi pada bulan Desember tahun 2014 telah melepas dua varietas unggul baru kedelai toleran naungan hingga 50%. Kedua varietas ini sesuai untuk dikembangkan di bawah tegakan tanaman perkebunan dan lingkungan agroforestri yang tanamannya masih, maupun tumpangsari dengan tanaman pangan lain. Kedua varietas unggul baru tersebut adalah Dena 1 dan Dena 2. Dena 1 Varietas Dena 1 memiliki keunggulan toleran hingga 50%. Potensi hasil varietas ini hingga 2,89 t/ha dengan rata-rata hasil 1,69 t/ha. Bentuk biji varietas Dena 1 lonjong dan ukuran biji tergolong besar dengan bobot 100 biji antara 11,07 – 16,06 g. Dena 1 tahan terhadap penyakit karat daun, dan rentan hama penghisap polong dan ulat grayak. Umur masak varietas Dena 1 adalah 78 hari. Dena 2 Potensi hasil Dena 2 mencapai 2,82 t/ha dengan rata-rata hasil 1,34 t/ha. Memiliki bentuk biji bulat dan ukuran biji termasuk sedang dengan bobot 100 biji antara 7,75 – 14,74 g. Varietas Dena 2 memiliki kandungan protein dan lemak yang hampir sama dengan Dena 1, berturut-turut yaitu 36,48% dan 18,22% (basis kering). Dena 2 dapat dipanen masak polong pada umur 81 hari setelah tanam. Dena 2 tahan penyakit karat daun, penghisap polong da nagak tahan ulat grayak. Sumber : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 2016. Deskripsi Varietas Unggul Kedelai 1918-2016. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com