Masyarakat Indonesia mempunyai pola makan dengan komponen utama beras, yaitu sebesar 54% dari konsumsi energi per kapita atau dengan tingkat konsumsi 139 kg/kapita/tahun. Angka ini sangat tinggi bila dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang 45 kg/kapita/tahun, Malaysia 80 kg/kapita/tahun dan Thailand 90 kg/kapita/tahun. Keadaan ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat bergantung pada salah satu bahan pangan, yaitu beras. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan ketahanan pangan bila terjadi gangguan pasokan akibat bencana alam atau gagal panen. Permasalahan ketahanan pangan ini bisa meluas ke permasalahan ekonomi dan keamanan. Indonesia selain beras juga memiliki sumber pangan lokal non beras seperti jagung, sorgum, ubi kayu, ubi jalar, talas, sagu, sukun, dan lain-lain. Namun bahan pangan non beras tersebut kalah populer dengan beras dan konsumsinya pun semakin menurun,. Hal ini karena ketersediaan beras melimpah, mudah dicari dan proses pengolahannya mudah. Disamping itu pola mengkonsumsi nasi (berupa butiran) sudah menjadi sebuah tradisi atau kebiasaan yang sangat sulit digantikan pada pola makan masyarakat Indonesia. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan program diversifikasi panga Agar program diverisikasi pangan mampu menurunkan tingkat konsumsi beras dari padi dan meningkatkan tingkat konsumsi sumber pangan lain maka sumber bahan pangan lokal non padi tersebut harus diolah sedemikian rupa sehingga mempunyai karakteristik seperti beras, baik sifat-sifat fisik butiran, penanakan dan tekstur. Pangan lokal non beras yang telah diolah sedemikan rupa tersebut ini disebut beras analog. Keunggulan Beras Analog1) Bentuknya mirip beras.2) Dapat dimasak mirip seperti memasak beras dan dapat dikonsumsi seperti mengkonsumsi nasi.3) Beras analog dapat dijadikan sebagai "product vehicle" program diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan terigu.4) Beras analog dapat juga dimanfaatkan untuk program fortifikasi pangan dalam upaya untuk mengatasi masalah malnutrisi dengan menambahkan beberapa mikro¬ nutrient penting ke dalam beras analog seperti vitamin A dan E, zat besi, niacin dan sebagainya5) Dapat didesain khusus untuk menghasilkan produk beras analog dengan fungsi tertentu misalnya beras analog rendah Index Gluten untuk penderita diabetes, beras analog tinggi serat, beras analog berantioksidan.6) Menggunakan bahan baku karbohidrat lokal non_padi yang dapat dihasilkan di Indonesia.7) Beras analog lebih awet.8) Saat menanak tidak perlu dicuci dan dapat dimasak seperti memasak beras.Bahan Untuk Membuat Beras Analog Beras dari padi merupakan sumber karbohidrat maka beras analog harus dibuat dari bahan yang juga sebagai sumber karbohidrat yang biasanya tersimpan pada tanaman dalam bentuk pati. Pada prinsipnya semua bahan baku yang mengandung pati baik yang berbentuk serealia maupun umbi dapat digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan beras analog. Bahan lain yang diperlukan dalam pembuatan beras analog adalah serat atau tepung (pati yang mengandung serat), air, lipid, bahan pengikat dan penyetting, serta bahan aditif yang bersifat opsional seperti pewarna, flavor, fortifikan dan antioksidan. Bahan baku tersebut bisa digunakan dalam bentuk murni maupun campuran dengan bahan lain pada rasio tertentu. Steiger (2010) menggunakan beras patah sebagai sumber bahan pati dalam pembuatan beras analog. Namun ada juga yang menggantikan sebagian tepung beras patah dengan tepung kedelai yang sudah dihilangkan lemaknya (Kato, 2006). Widara, (2012) menggunakan bahan campuran tepung sorgum, mocaf, jagung dan sagu tanpa menggunakan tepung beras. Rasio tepung pregelatinisasi/tidak tergelatinisasi di dalam komposisi adonan juga penting. Jika rasio kurang dari 30 persen dari tepung pregelatinisasi maka produk beras analog yang terbentuk mempunyai sifat rehidrasi yang rendah. Namun apabila perbandingan pati pregelatinisasi lebih dari 70 persen akan mempengaruhi karakteristik ekstrusi dan akan menjadi sulit untuk mengendalikan bentuk dan ukuran beras analog (Harrow and Martin, 1982).Teknologi EkstrusiPenggunaan teknologi ekstrusi (dengan alat ekstruder) untuk membuat beras analog mempunyai banyak kelebihan seperti kapasitas besar, terjadinya proses pengaliran, pencampuran, pengadonan, pemanasan dan pembentukan sehingga beras analog yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang serupa dengan beras Tahapan Pembuatan Beras Analog 1) Formulasi (penimbangan bahan¬-bahan yang diperlukan).2) Pencampuran dengan menggunakan pengaduk kering (drymixer) sampai campuran bahan rata (homogen).3) Penambahan air dengan jumlah sesuai dengan bahan yang digunakan dan dilakukan pencampuran menggunakan mixer sampai air bercampur dengan baik dan rata dan dilanjutkan dengan proses kondisioning.4) Ekstrusi dilakukan pada suhu antara 70ºC sampai 110ºC tergantung bahan yang digunakan.5) Dengan pangaturan kondisi proses yaitu kecepatan umpan bahan baku, kecepatan screw dan kecepatan pisau akan didapatkan bentuk beras yang diinginkan.6) Pengeringan dilakukan pada suhu 60-¬80ºC sampai didapatkan kadar air kurang dari 14%.7) Pengemasan.Cara Memasak Beras AnalogCara memasak beras analog sama persis seperti memasak beras dari padi (dapat menggunakandari rice cooker atau memasak konvensional). sbb.1) Perbandingan air dan beras analog adalah ½ sampai 1½ bagian air dan 1 bagian beras analog. Penggunaan air disesuaikan dengan kesukaan masing¬masing individu.2) Air didihkan dulu,3) Masukkan beras analog tanpa dicuci lebih dulu,4) Aduk sebentar biarkan sampai masak.Penulis ; Ir. Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan PSDMP-Kementan)Sumber : Dari berbagai sumberGambar : http://majalah1000guru.net/2014/05/beras-analog/