Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Untuk memaksimalkan pendapatan petani dan meminimumkan resiko, perlu dilakukan diversifikasi tanaman. Dengan diversifikasi tanaman akan mendatangkan pendapatan bagi pekebun, terutama selama tanaman kakao belum menghasilkan. Diversifikasi tanaman kakao diantaranya dapat dilakukan dengan tanaman semusim, tanaman tahunan atau dengan tanaman kayu-kayuan. Tumpang sari kakao dengan tanaman semusim.Tumpang sari tanaman kakao dengan tanaman semusim diusahakan selama masa persiapan lahan, selama tanaman kakao belum menghasilkan atau pada saat tajuk kakao belum saling menutup, atau selama iklim mikro di dalam kebun masih memungkinkan. Tanaman semusim yang pernah diteliti cukup ekonomis dan tepat untuk diusahakan selama persiapan lahan yaitu jagung, kacang tanah, padi gogo, dan wijen. Spesies yang dapat diusahakan selama kakao muda (umur 1-3 tahun) antara lain nilam aceh (Pogostemon cablin), garut (Maranta arundinacea), dan iles-iles (Amorpophallus muelleri). Keuntungan lain yang dapat diperoleh dengan tumpangsari tersebut yaitu limbah tanaman semusim dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, pupuk hijau, dan mulsa kakao.Tumpang sari dengan tanaman tahunan.Agar dapat berproduksi dengan baik, dalam budidaya kakao diperlukan naungan. Pohon pelindung atau naungan ada dua jenis, yaitu pohon pelindung sementara dan pohon pelindung tetap. Pohon pelindung sementara bermanfaat bagi tanaman yang belum menghasilkan, terutama yang tajuknya belum bertaut. Pohon pelindung tetap bermanfaat bagi tanaman yang telah menghasilkan. Pohon pelindung tetap ditanam 12 – 18 bulan sebelum kakao ditanam di lapangan, sehingga kakao harus sudah dibibitkan 4 – 6 bulan sebelumnya. Tanaman tahunan yang cocok untuk ditanam secara tumpangsari dengan tanaman kakao yaitu spesies yang memiliki kanopi tidak terlalu rimbun, daun berukuran kecil atau sempit memanjang agar dapat meneruskan cahaya diffus dengan baik. Disamping itu harus dipilih tanaman yang bukan merupakan inang hama dan penyakit utama kakao dan tidak menimbulkan pengaruh alelopati sehingga mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan organisme lain di sekitarnya. Tanaman pelindung yang digunakan dapat tanaman produktif dan dapat juga tidak produktif. Tanaman pelindung produktif seperti pisang sebagai pelindung sementara, kelapa sebagai tanaman pelindung tetap ataupun tanaman lainnya seperti petai, durian,nangka dan sirsak. Tanaman pelindung yang tidak produktif yang tidak memberikan tambahan nilai ekonomis kepada petani, seperti Moghania macrophyla sebagai tanaman pelindung sementara, dan tanaman Gamal (Gliricidia sp) atau Lamtoro (Leucaena sp) sebagai tanaman pelindung tetap. Tanaman tersebut selain berfungsi sebagai tanaman pelindung, juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Pohon pelindung tersebut tidak memberikan tambahan nilai ekonomis kepada patani sehingga dirasakan kurang menarik. Oleh karena itu,maka pola diversifikasi tanaman kakao merupakan peluang untuk pengembangan kakao dengan pemanfaatan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis. Tumpang sari kakao dengan pisang.Tanaman pisang dapat ditanam dengan jarak tanam 6×3 m, sehingga di dalam lorong tanaman pisang arah utara-selatan dapat ditanam 2 baris tanaman kakao dengan jarak tanam 3×3 m (populasi kakao 1100 ph/ha). Sebagai tanaman pelinndung sementara, tanaman pisang dapat ditanam 6-12 bulan sebelum tanam kakao. Karena tanaman pisang cepat sekali berkembang, maka perlu dilakukan pemeliharaan tanaman pisang seperti pembatasan jumlah anakan, pembersihan rumpun pisang dan pemanfaatan batang pisang untuk mulsa kakao. Setiap rumpun cukup dipelihara tiga batang.Selanjutnya rumpun pisang dapat dipelihara 2-3 anakan saja. Tanaman pisang dapat dipelihara sampai tahun ke 4 atau sesuai dengan keperluan dengan tetap memperhatikan tingkat penaungannya untuk tanaman kakao. Tumpang sari kaako dengan kelapa (Cocos nucifera)Tanaman kelapa dapat digunakan sebagai tanaman pelindung tetap untuk tanaman kakao. Dalam hal ini harus diatur agar persaingan minimal. Sebaran akar kakao terbanyak sampai radius 1 m dan sebaran akar kelapa terbanyak sampai radius 2 m, oleh karena itu perlu dibuat tata tanam dengan jarak antara kakao dan kelapa minimal 3 m. Jarak tanam yang optimal yaitu kelapa ditanam dengan jarak 12 m x 15 m. Sebagai penaung tanaman kakao, fungsi penaungan tanaman kelapa dapat diatur dengan melakukan siwingan (pangkasan) pelepah bila penaungannya terlalu gelap, terutama pada musim hujan. Demikian pula pada tanaman kelapa yang sudah cukup tua dan tinggi, apabila penaungannya kurang dapat ditambah tanaman penaung lain misalnya dengan lamtoro yang ditanam di diagonal tanaman kelapa. Tumpangsari tanaman kaako dengan tanaman kayu-kayuan dan tanaman lainnyaTanaman kayu-kayuan atau tanaman lain yang mempunyai nilai ekonomis juga dapat dimanfaatkan sebagai penaung, tanaman sela, ataupun tanaman tepi dalam budidaya kakao. Tanaman Jati (Tectona grandis) dan Sengon (Albisia falcata) dapat dimanfaatkan sebagai tanaman tepi kebun ataupun tanaman sela pada pertanaman kakao. Pada pertanaman kakao tersebut tetap dimanfaatkan penaung Lamtoro atau Gamal, sedangkan Jati dan Sengon atau tanaman kayu-kayuan yang lain dapat difungsikan sebagai tanaman penaung dan atau tanaman pematah angin.Penggunaan penaung tersebut perlu disusun dalam tata tanam yang tepat, sehingga dapat memberikan produksi yang optimal dan memberi manfaat konservasi lahan. Persiapan lahan, penyiapan bibit, dan saat tanam harus dilakukan dengan perencanaan yang tepat, sehingga pada saat tanam, bibit kakao siap tanam, dan tanaman penaung di lapangan siap berfungsi sebagai penaung. Selanjutnya dengan teknik budidaya yang benar akan dapat diperoleh tanaman kakao dengan pertumbuhan baik dan produksi yang tinggi.Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP.Sumber: 1. Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik.irektorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. 2014. 2. Tips diversifikasi tanaman kakao oleh M. Iqbal Soedjana (PBT Ditjenbun)3. Penggunaan Tanaman Naungan dalam Budidaya Tanaman Kakao. Mikolehi Firdaus, Departemen Agronomi dan Hortikultura 2009