1. Dimensi Lingkungan Fisik. Dalam kaitannya dengan lingkungan fisik berlaku prinsip environmentally sustainable. Yang termasuk dalam lingkungan fisik yaitu tanah, air dan sumberdaya genetik flora dan fauna di dalam maupun di atas tanah yang secara umum dapat digunakan terminologi lahan. Sistem pengelolaan lahan yang berkelanjutan pada dasarnya mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan. Pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu upaya pemanfaatan lahan melalui pengendalian masukan (input) dalam suatu proses untuk memperoleh produktivitas yang tinggi secara berkelanjutan,meningkatkan kualitas lahan, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian diharapkan kerusakan lahan dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat ditoleransi, sehingga sumber daya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Komponen pengelolaan lahan yang berkelanjutan yaitu pengelolaan hara, pengendalian erosi, pengelolaan residu, pengelolaan tanaman, dan pengelolaan air. Pengelolaan lahan yang berkelanjutan mencakup hal-hal sebagai berikut: 1)Penggunaan sumberdaya lahan didasarkan pada pertimbangan jangka panjang.2) Memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membahayakan kebutuhan jangka panjang. 3) Meningkatkan produktivitas per kapita. 4) Mempertahankan kualitas lingkungan.5) Mengembalikan produktivitas dan kapasitas pengaturan oleh lingkungan pada ekosistem yang telah rusak. Pengelolaan lahan yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan memilih teknologi yang tepat pada setiap agroekosistem berdasarkan kondisi spesifik dari setiap lokalita. Pertimbangan dalam pemilihan teknologi yang sesuai tersebut antara lain yaitu : rencana penggunaan lahan, pengelolaan Daerah AliranSungai (DAS) dan upaya mempertahankan produktivitas. Tahap pertama untuk mencapai pengelolaan yang berkelanjutan yaitu dengan melakukan zonasi berdasarkan karakteristik agroekologinya. Dari hasil zonasi tersebut dapat ditentukan sistem pengelolan lahan yang tepat untuk tiap-tiap zona. Selanjutnya ditentukan sistem pengelolaan dan tehnologi yang sesuai untuk masing-masing kondisi agroekologi tersebut. Jika tidak ada konservasi untuk mencegah kerusakan lahan, maka produktivitas lahan dan pendapatan petani pada awalnya lebih tinggi namun terus mengalami penurunan seiring dengan makin lamanya lahan diusahakan sampai pada suatu saat dimana lahan telah benar-benar rusak dan tidak memberikan pendapatan. Jika dilakukan tindakan konservasi untuk mencegah kerusakan, maka produktivitas dan pendapatan petani pada awalnya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tanpa usaha konservasi karena tindakan konservasi memerlukan biaya, namun produktivitas dan pendapatan tersebut akan meningkat sehingga lahan dapat dipakai secara lestari. 2.Dimensi Ekonomi. Keberlanjutan produksi hanya dapat terjadi jika secara ekonomi para pelaku yang terlibat dalam aktivitas tersebut dapat memperoleh manfaat ekonomi yang memadai. Petani sebagai salah satu pelaku utama dapat memperoleh pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya, pedagang memperoleh keuntungan yang layak untuk hidup sehari-hari, eksportir mendapat keuntungan yang memadai untuk menjalankan bisnisnya, pabrikan pengolah maupun penjual minuman teh juga memperoleh keuntungan yang wajar serta konsumen mampu membayar dengan harga yang wajar. Penekanan salah satu pihak terhadap pihak lain hanya akan memberikan keuntungan sesaat dan pada akhirnya akan mematikan pihak lain dalam mata rantai bisnis teh tersebut. Petani teh sebagaisalah satu pihak yang lemah posisi tawarnya seringkali mendapat tekanan sehingga tidak memperoleh keuntungan yang memadai dari hasil usaha taninya, akan mendorong terjadinya kerusakan lingkungan fisik karena minimumnya tindakan pelestarian dan pada akhirnya akan menyebabkan anjloknya pasokan pucuk teh. Keberlanjutan ekonomi ini bisa diukur bukan hanya diukur dalam hal produk usaha tani yang langsung berupa pucuk teh, namun juga dalam hal fungsi pelestarian sumberdaya alam untuk meminimalkan resiko kerusakan. Dimensi ekonomi sangat berkaitan dengan dimensi lingkungan fisik dan keduanya saling mempengaruhi. 3. Dimensi Sosial. Keberlanjutan usaha produksi teh sangat ditentukan oleh faktor sosial antara lain tingkat penerimaan para pelaku aktivitas produksi pucuk teh terhadap suatu masukan ataupun tehnologi tertentu. Sebagai contoh penggunaan pupuk alam berupa limbah peternakan tertentu secara teknis akan sangat baik dalam mendukung keberlanjutan usaha tani teh, namun bagi masyarakat tertentu tidak dapat menerima teknologi tersebut sehingga tidak dapat berjalan. Yang lebih pokok yaitu bagaimana usaha tani teh dapat mensejahterakan pelaku agribisnis dan masyarakat pada umumnya. 4. Dimensi Kesehatan. Dewasa ini terdapat indikasi terus meningkatnya kesadaran manusia akan pentingnya kesehatan. Implementasi peningkatan kesadaran terhadap kesehatan tersebut antara lain berupa peningkatan kebutuhan bahan pangan dan bahan penyegar yang aman dari logam berat, residu pestisida maupun jamur dan toksin berbahaya. Pada komoditas teh untuk tujuan ekspor ke beberapa negara tertentu telah ditetapkan batas kandungan logam berat, residu pestisida maupun jamur dan toksin sehingga menekan pemasaran produk teh yang tidak memenuhi persyaratan tersebut. Sistem pertanian berkelanjutan diyakini akan lebih menjamin fungsi sumberdaya alam dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional yang cenderung bersifat eksploitatif. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan :1. Setyamidjaja, Djoehana. 2000. Teh Budidaya dan Pengolahan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.2. Ditjenbun. 2014. Pedoman Teknis Budidaya Teh Yang Baik (GAP on Tea). Kementan. Jakarta3. Sumber gambar berasal dari infopetanihebat.com