Loading...

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PENGEMBAGAN TEBU

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PENGEMBAGAN TEBU
Teknologi untuk meningkatkan produksi dan rendemen telah banyak dihasilkan oleh P3GI, diantaranya varietas tebu unggul, pupuk slow release, pupuk hayati, zat pemacu kemasakan, mikroba pengolah limbah.Rangkaian kegiatan pengembangan tebu dalam rangka pencapaian swasembada gula adalah : (1) intensifikasi kegiatan bongkar dan rawat ratoon, (2) ekstensifikasi khususnya dilahan-lahan petani, (3) menyediakan benih tebu unggul dan sehat melalui kultur jaringan, (4) bantuan alat : traktor, pengairan, dan alat tebang muat tebu , (5) penguatan Kelembagaan : KPTR, APTR, Kelompok Tani, (6) operasional tenaga pendamping , (7) integrasi tebu ternak, dan (8) penataan varietas.Untuk itu agar keberhasilan dalam pemenuhan ketersediaan tebu ini perlu adanya pendampingan petani tebu. Pengawalan dan Pendampingan dalam penerapan inovasi teknologi tebu meliputi, yaitu : (1) pengembangan pertanian terpadu tebu-ternak; (2) penyusunan dan penyebaran materi teknologi pemupukan; (3) penyusunan dan penyebaran materi penyuluhan tentang integrasi tebu-ternak; dan (4) peningkatan kemampuan petugas dalam kegiatan perluasan tanaman tebu rakyat.Untuk mendukung keberhasilan upaya tersebut, maka aspek-aspek yang dimaksud meliputi : Penguatan metode pencapaian tujuan dengan landasan scientific sehingga memenuhi kaidah akuntabilitas yang tinggi, Melakukan penyebarluasan (diseminasi) teknologi secara simultan kepada pengguna dengan nuansa Spectrum Diseminasi Multi Channel (SDMC) selama pelaksanaan kegiatan untuk mempercepat transfer teknologi, Membangun jejaring (kemitraan) dengan pihak luar, baik kepada pengambil kebijakan (lembaga formal) di daerah maupun dengan lembaga non formal untuk mendukung keberlanjutan penerapan teknologi tebu terpadu. Inisiasi kemitraan dilakukan sejak awal kegiatan.Pendampingan kawasan tebu merupakan upaya Balitbangtan dalam mempercepat diseminasi informasi dan inovasi pertanian melalui berbagai media dan saluran komunikasi. Dengan demikian, hasil-hasil inovasi Balitbangtan dapat segera diketahui dan dimanfaatkan oleh para penggunanya. Dalam operasionalisasinya diperlukan keterpaduan atau integrasi dari semua sub sistem pendukungnya, yang mencakup empat komponen utama, yaitu mulai dari sub sistem perencanaan kegiatan litkaji, sub sistem dokumentasi hasil litkaji, sub sistem pengemasan hasil litkaji, sub sistem kerjasama atau komunikasi hasil litkaji, subsistem penyebarluasan informasi hasil litkaji (public awareness) sampai dengan sub sistem pengelolaan umpan balik hasil litkaji dari lapangan. Selain itu, komponen penting lainnya yang perlu mendapat perhatian seksama, mencakup: 1) jenis dan substansi yang akan didiseminasikan, 2) target sasaran diseminasi, 3) media dan saluran komunikasi yang digunakan, dan 4) Kemudahan akses terhadap informasi dan inovasi hasil litkaji.Perkembangan peralihan pengusahaan tebu dari Tebu Sendiri (TS) menjadi Tebu Rakyat Intensifikai (TRI) dan selanjutnya berkembang menjadi Tebu Rakyat (TR) kemitraan, yang diusahakan petani dengan bermitra dengan pabrik gula. Pemenuhan bahan baku tebu untuk Pabrik-pabrik gula khususnya di Jawa sangat tergantung dari keberadaan tanaman yang diusahakan petani (TR), dan hanya sebagian kecil yang berasal dari tanaman Tebu Sendiri (TS). Kondisi ini menstimulir masyarakat unutk mengembangkan usahatani tebu.Dalam kaitan itu, BPTP Jawa Timur sebagai penyelenggara pendampingan kawasan tebu perlu melakukan kegiatan pendampingan yang diarahkan peningkatan kapasitas dan penyediaan serta penyebarluasan teknologi di kawasan tebu.Selama pelaksanaan pendampingan kawasan tebu diharapkan mendapat umpan balik (feedback) untuk penyempurnaan model pendampingan kawasan tebu. Beberapa tahapan kegiatan yang perlu dilaksanakan meliputi : (a) meningkatkan kemampuan petani dalam inovasi teknologi produksi dan pasar untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, (b) menyediakan teknologi tepat guna untuk mendukung pembangunan pertanian di sentra produksi tebu, (c) memberdayakan petani melalui peningkatkan partisipasi dan pengembangan kelembagaan produksi dan pasar, (d) meningkatkan akses petani terhadap informasi pasar dan teknologi pertanian.Kegiatan Pendampingan kawasan tebu didasarkan, bahwa untuk memperkuat keberhasilan program pembangunan pertanian melalui diseminasi dan pendekatan kelembagaan (mencakup modal sosial, norma dan aturan yang berlaku di lokasi dengan pemberdayaan masyarakat) akan mampu mendorong tercapainya diseminasi inovasi yang lebih luas sehingga kawasan tebu ramah lingkungan akan tercapai. Adapun secara lebih rinci sebagai berikut : Konsep diseminasi inovasi yang tidak hanya fokus mempercepat penyebaran inovasi pertanian, tetapi juga memperluas dan memperbesar spektrum diseminasi, Pendampingan meliputi aspek perbaikan teknologi produksi, aspek pemberdayaan masyarakat tani, aspek pengembangan dan penguatan sarana pendukung agribisnis. Dengan demikian akan terjadi proses pembelajaran dan diseminasi teknologi yang berjalan secara simultan sehingga spektrum diseminasi menjadi semakin luas, Pendampingan memiliki konteks penyebarluasan inovasi yang berorientasi pada suatu kawasan yang secara komparatif memiliki keunggulan sumberdaya alam dan kearifan lokal (endogenous knowledge) khususnya pertanian, Skala pengembangan disesuaikan dengan basis usaha yang dilakukan, tergantung pada kondisi wilayah. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan :1. Ditjenbun. 2015. Pedoman Budidaya Tebu Giling Yang Baik (GAP on Sugar cane). Kementan. Jakarta2. Sumber gambar berasal dari youtube.com