sistem produksi domba dilakukan bersama-sama dengan sistem pertanian berupa peternakan terpadu yang tergantung pada lingkungan pertanian sedangkan untuk pakan dasarnya ternak sangat tergantung pada tanaman berseret kasar tinggi atau limbah pertanian. pemeliharaan ternak ruminansia merupakan usaha kedua setelah pertanian dan tetap mengikuti pola pertanian. sistem pemberian pakan pada ternak di pedesaan indonesia tergantung pada tanaman yang ditanam, wilayah, kebiasaan, dan faktor lain. selain itu semua jenis peternakan harus memperhatikan lokasi beternaknya karena menyangkut kelangusngan usahanya. penentuan lokasi yang tidak tepat dapat menyebabkan bangkrutnya usaha peternakan. kriteria utama dalam pemilihan lokasi adalah tingginya kemampuan daya dukung lingkungan dan upaya meminimalkan berbagai hambatan. indonesia beriklim tropis dengan dua musim dan diklasifikasikan sebagai zona moist savan, highland, dan rain forest yang sangat kaya rerumputan. indonesia memiliki perbedaan agroklimat yang beragam sehingga terjadi perbedaan suhu, curah hujan, kelembaban, arah angin, ketersedian air, intensitas sinar matahari, dll. beberapa faktor klimat yang mempengaruhi produksi domba. tanah. faktor tanah tidak berhubungan langsung dengan ternaknya namun penyediaan hijauan membutuhkan tanah yang baik dan subur. tanah juga tidak secara langsung mempengaruhi kesehatan domba tapi tanah yang kekurangan salah satu unsur hara akan menyebabkan tanaman/rumput yang tumbuh di atasnyapun akan kekurangan unsur hara ternak. tanah berlumpur atau tanah yang bersifat asam kurang baik untuk penggembalan. tanah yang ideal untuk memelihara domba adalah tanah yang tidak terlalu basah atau tidak terlalu kering yang memungkin hijauan pakan dapat tumbuh sepanjang tahun. suhu. pada temperature lingkungan yang panas maka tanaman yang masih dapat tumbuh hanya sisa-sisa berupa hijauan tua yang kering dengan kadar/nilai nutrisi yang rendah. bila kondisi tersebut berlangsung lama maka domba di daerah tersebut akan berpenampilan buruk karena mengkonsumsiu tanaman kering yang tinggi serat kasarnya. bila tanaman tersebut dikonsumsi maka akan ternak harus meningkatkan pengeluaran pans dari tubuhnya sehingga beban panas ternak meningkat dan ternak akan menderita stress panas. suhu udara yang tinggi pun akan menekan/menurunkan sengaman/konsumsi makan. akibat stress suhu makan nafsu makan ternak tertekan dan menurun sehingga ternak akan mengurangi sengaman pakan dan mengurangi waktu merenggut hijauan. kondisi tersebut mengakibatkan terjadi penurunan produktivitas ternak yang tercermin dari rendahnya pertumbuhan ternak, rendahnya produksi air susu serta kandungan lemaknya berkurang. suhu lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh ternak yang diukur dipagi hari akan lebih rendah dibandingkan pada siang hari atau sehabis berjemur. di daerah pegunungan yang perbaedaan suhu antara siang dan malam yang sangat berbdea (dibanding didataran rendah/pantai) maka sebaiknya ternak dikandangkan di malam hari. perubahan suhu udara yang mendadak dan derajat perubahan yang tinggi akan mempengaruhi kesehatan ternak (nafsu makan turun, lesu,dll). kenaikan kelengasan udara pada suhu diatas 23,9° c akan menrunkan sengaman pakan semua bangsa ternak dan menurunkan konsumsi air meskipun frekuensi minumnya naik. kenaikan intensitas radiasi sinar matahari menyebabkan naiknya konsumsi air minum pada ternak yang digunakan untuk proses pendinginan melalui penguapan bila terjadi stres radiasi. penggembalan dibawah terik matahari kadangkala menyebabkan ternak pingsan karena pengaruh langsung sinar matahari pada selaput otak . dilapangan banyak terjadi kematian embrio dalam kandungan domba betina atau anak terlahir kerdil akibat lingkungan yang panas. kenaikan temperature rectal sebesar 1,1°c – 1,7°c dapat membunuh embrio. temperatur 32,2° c akan mempengaruhi ovarium dan saluran kelamin domba betina. domba jantan yang mengalami stress panas dilapangan akan mengalami perubahan degeneratif dalam proses mempertahankan hidupnya. domba jantan dari daerah temperate yang dipindahkan ke daerah tropispun akan menjadi kurang subur atau bahkan steril selama 1 tahun. hal merupakan pengaruh fotoperiodic. domba secara fisiologis bersifat homoiterm (sifat memiliki suhu tubuh yang konstan dan tidak mengikutyi suhu lingkungan) sehingga pengeluaran panas tubuh tidak melalui keringat (domba tidak memiliki kelenjar keringat) tapi melalui cara panting (cara pengeluaran panas dengan terengah-engah). curah hujan. curah hujan berhubungan erat dengan suhu lingkungan dan ketersediaan hijauan. suhu lingkungan pada musim hujan akan lebih rendah dan ketersediaan hijauan akan melimpah. namun curah hujan yang sangat tinggi akan mengakibatkan gangguan kesehatan domba. lokasi ideal untuk pengembalan domba adalah lokasi dengan curah hujan 1500-3000 mm/tahun. pada musim hujan, mikroorganisme tumbuh dengan cepat dan menimbulkan penyakit infeksi. pada daerah yang lembab, cendawan mudah tumbuh dan menimbulkan penyakit. kelembaban. pada awal musim hujan, kelembaban udara berubah dari rendah menjadi tinggi. hal ini akan mempengaruhi sistem alat pernafasan ternak dan menyebabkan perkembangan yang baik bagi pertumbuhan parasite dalam dan luar, jamur/cendawan, cacing, dan vector penyakit. kelembaban yang tinggipun mempercepat kerusakan produk ternak yang disimpan. kelembaban yang rendah (kering) menyebabkan udara berdebu dan dapat membawa penyakit. kelembaban ideal bagi domba adalah 60-80%. angin. angin merupakan salah satu vector/pembawa kuman penhyakit sehingga penentuan arah angin yang dominan suatu lokasi akan sangat penting sebagai petunjuk bagi pembangunan kandang. kandang sebaiknya dibangun dengan menutup bagian-bagian tertentu yang merupakan tempat dominan tiupan angina dengan menanam pohon pelindung (untuk memecah angina) namun harus tetap diperhatikan arah sinar matahari terutama sinar matahri pagi yang diusahakan masuk ke dalam kandang secara langsung. ternak yang terkena angina langsung secara terus menerus pun kurang baik kesehatnnya. kandang yang ventilasinya baik akan dapat membuang gas-gas hasil pernafasan dan kotoran ternak (nh3 dan co2). topografi. topografi adalah suatu gambaran tinggi rendahnya suatu lokasi yang diukur dengan standar di atas permukaan laut. suhu lingkungan, curah hujan, kelembaban, ketersediaan air, dan transfortasi sangat dipengaruhi oleh topografi lingkungan. lokasi bebukit bisa menjadi pilihan untuk beternak karena dapat menghambat arah angin.anginasi yang terlalu tinggi dan bergunung-gunung akan meningkatkan biaya transportasi. air. air berpengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap kehidupan domba. pemeliharaan domba membutuhkan air untuk minum, mandi, dan membersihkan kandang. sumber air antara lain air tanah, air mengalir, mata air dll. kandungan zat dalam air dapat mempengaruhi kesehatan domba. misal: air dekat gunung berapi mengandung fluor yang tinggi dan bila dikonsumsi terus menerus akan menyebabkan rapuh tulang. (suwarna- penyuluh pertanian pusat ) sumber : bugiwati,sri rachma aprilita. 2016. pengantar ilmu peternakan, domba, kambing, babi. cv budi utama, yogyakarta .wordpress.com