Loading...

Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong

Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong
Keberhasilan kebuntingan pada sapi induk dan sapi dara calon induk sangat ditentukan oleh kesehatan hewan. Jaminan keberhasilan kebuntingan sapi selain pengaruh dari pemberian pakan juga jaminan kesehatan reproduksi sapi induk dan sapi dara calon induk. Banyak faktor yang yang menjadi penyebab terjadinya kegagalan kesehatan hewan terkait dengan reproduksi ternak Kegagalan reproduksi pada sapi biasa dikenal dengan sebutan gangguan reproduksi. Gangguan reproduksi adalah perubahan fungsi normal dari alat reproduksi pada sapi jantan maupun betina yang disebabkan oleh penyakit infeksi dan non infeksi. Status gangguan reproduksi ditetapkan berdasarkan diagnosa klinis dan/atau laboratorium yang terindikasi sapi induk atau calon induk setelah dilakukan IB tidak bunting.Gangguan reproduksi pada sapi induk dan sapi dara calon induk dapat dilihat dari rendahya service per conception (S/C), panjangnya calving interval, kemajiran dan rendahya angka kelahiran. Pelayananan kesehatan hewan terkait gangguan reproduksi menjadi tanggung jawab dokter hewan sebagai medik veteriner dan Asisten Teknis Reproduksi yang dikenal dengan nama ATR sebagai penanggung jawab paramedik veteriner di bidang reproduksi. Gangguan ReproduksiGangguan Reproduksi pada sapi dapat bersifat non permanen dan permanen. Pada gangguan reproduksi non permanen dicirikan dengan keterlambatan kelahiran setiap siklus reproduksinya. Gangguan reproduksi pada sapi potong dapat disebabkan oleh infeksi disebabkan oleh penyakit yang menyerang organ reproduksi yaitu bucellosis, vibriosis, leptospirosis, tuberkulosis. Untuk gangguan reproduksi yang disebabkan oleh non infeksi umumnya disebabkan dari pemberian pakan yang tidak memenuhi persyaratan standrad gizi pakan. Gangguan reproduksi bersifat permanen biasa dikenal dengan nama kemajiran.Tanda tanda sapi mengalami gangguan reproduksi dapat digolongkan menjadi 4 katagori 1). Sapi tidak mengalami gejala estrus, 2) Sapi mengalami estrus yang lemah, 3) Estrus terus menerus, sapi mengalami birahi terus menerus tanpa disertai ovulasi, 4) Estrus berulang terindikasi akibat dari kegagalan kesuburan dan kematian embriyo dari induk sapi atau sapi dara calon induk. Penanganan Gangguan ReproduksiPenanganan gangguan Reproduksi pada sapi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu terapi dan pemeriksaan ulang gangguan reproduksi. Sapi yang mengalami Gangguan Reproduksi dengan penanganan cara terapi, membutuhkan waktu dan penanganan yang bertahap. Terapi pada sapi yang mengalami gangguan reproduksi dapat dilakukan secara bertahap minimal 1 - 2 kali terapi dan disertai dengan pemantauan yang intensif. Sapi yang sudah dilakukan terapi dan dinyatakan sembuh dapat didaftarkan untuk dilakukan IB ( Inseminasi Buatan ) atau kawin alam.Sapi yang terkena gangguan reproduksi dan sudah ditangani dengan terapi sampai kedua kali dan ternyata tidak mengalami kesembuhan, tahapan berikutnya dilakukan pemeriksaan ulang dan terapi ketiga. Bila hasil dari pemeriksaan dan terapi ketiga sapi mengalami kesembuhan berarti sapi dapat direkomendasi untuk dijadikan sebagai akseptor IB atau kawin alam. Untuk sapi yang tidak sembuh setelah mengalami pemeriksaan ulang dan terapi dimasukkan dalam katagori sapi yang tidak produktif atau sapi gangguan reproduksi permanen alias sapi majir Peranan pendampingan Penyuluh PertanianPenyuluh Pertanian sebagai pendamping petani dituntut mampu melakukan pendampingan pada petani ternak untuk mau mendaftarkan sapi betinanya sebagai akseptor IB dan memotivasi petani sapi untuk melakukan koordinasi dengan petugas IB yang dikenal dengan nama Inseminator , PKB petugas Pemeriksa Kebuntingan dan ATR yaitu Asisten Teknis Reproduksi adalah petugas yang bertanggung jawab sebagai paramedik veteriner di bidang reproduksi. Priwanti - PP BPPSDMP Sumber Pedoman Pelaksanaan UPSUS SIWAB Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting 2017. Kementrian Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,